Ibu nasionalis, anda tergelitik berarti anda tidak mengerti apa yang coba 
saya bicarakan atau anda menulis kepada saya sambil memandang ke atas, anda 
bicara panjang lebar saya yakin hati anda tidak menganggap ini debat kusir, 
anda seorang dosen tentu tidak akan mau mengalah pada mahasiswa, apalagi 
mahasiswa yang tidak anda kenal, jadi 1 kata yang saya keluarkan akan 
dibalas dengan 100 kata anda yang tingkat intelektualitasnya sangat tinggi. 
sekedar basa-basi, saya hampir 2 kali tidak diluluskan karena saya berhasil 
mempermalukan dosen saya dalam 2 kelas logika. jadi mata anda pasti gelap 
dengan apa yang saya tulis (mungkin seperti rengekan anak kecil bagi anda). 
saya ragu kalau anda debator yang baik, kalau anda menanggapi kritik dengan 
langsung menyalahkan pendapat orang lain. maka saya juga tidak yakin anda 
bisa jadi nasionalis yang baik bagi indonesia.

regards,
ardy prasetya.


>From: Rini Yayuk Priyati <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [email protected]
>To: [email protected]
>Subject: RE: [Singkawang] Re : Indonesia Miskin atau Kaya ? Dear Ardy,
>Date: Mon, 2 Jul 2007 16:38:24 -0700 (PDT)
>
>Semalaman ini saya masih tergelitik dengan definisi
>nasionalisme menurut anda. Karena saya kebetulan
>belajar di luar negeri berarti saya anda anggap tidak
>nasionalis, bukankah banyak pemimpin-pemimpin besar
>Indonesia, jago-jago nasionalis sejati juga pernah
>belajar di luar negeri? contohnya Bung Hatta (koreksi
>kalau saya salah), yang malah belajar di Belanda, yang
>notabene penjajah negara kita.
>
>Kalaupun ada orang Indonesia yang belajar, lalu
>memutuskan untuk hidup di luar, saya tidak akan
>menggeneralisasi mereka tidak nasionalis, bagaimana
>kalau mereka mengirimkan uangnya kembali ke Indonesia?
>Bukankah Anda menekankan kaya berarti banyak uang dan
>tidak punya hutang? Kalau begitu mereka termasuk
>pahlawan nasionalis bukan? Dan sayapun setuju.
>
>Dari pertama saya tidak mendefinisikan kaya sama
>dengan banyak uang, menurut saya itu sangat sempit
>sekali. Punya hati lapang dan pikiran luas menurut
>saya akan jauh lebih berarti. Kalau pikiran saya
>sesempit itu saya tentu akan mengeluh kalau saya
>membanding-bandingkan diri saya dengan teman-teman
>seangkatan saya yang banyak diantara mereka bekerja di
>Bank-bank besar di Jakarta, dengan gaji mungkin 5 atau
>6 kali lebih besar dari saya, padahal saya secara
>akademis tidak lebih bodoh dari mereka. Lagipula kalau
>saya kerjanya cuma mengeluh kapan saya bekerjanya,
>kapan saya belajarnya? Padahal assignment saya
>setumpuk. kalau saya jadi pengeluh sejati
>(sekali-sekali tak apalah) mungkin saya juga tidak
>akan seperti ini sekarang.
>
>Kalau Anda punya 20 ribu, mungkin anda lebih miskin
>dari orang yang punya uang 50 ribu, tapi bagaimana
>kalau anda bandingkan dengan orang lain yang cuma
>punya 10 ribu? Bukankah kaya dan miskin cuma sebatas
>cara pandang kita saja?
>Ah, anda cuma suka merendah tampaknya, bagaimana bisa
>kuliah di Jakarta kalau anda cuma punya uang 20 ribu
>rupiah? Tanpa ada nilai rupiah sama sekali di rekening
>anda atau keluarga anda?
>Tanpa modal sama sekali, bagaimana anda bisa akses
>internet malam-malam, sehingga email saya bisa cepat
>anda balas? Bagaimana bisa berkendaraan di Jakarta,
>kalau anda tak mampu beli kendaraan? (katanya pernah
>menyerempet orang).
>Saya berani jamin kalau keluarga anda pasti lebih
>beruntung dari pada keluarga saya, saya kuliah di
>Jogja, bukan karena gagah-gagahan (waktu itu kami
>masih tinggal di Singkawang), tapi karena cuma di
>sanalah orang tua saya mampunya, karena saya bisa
>dititip-titipkan di keluarga. Oh ya, sejak pertama,
>saya sudah didoktrin cuma bisa kuliah di PTN.
>Atau mungkin saya lebih beruntung dari Anda, karena
>SPP yang dibayarkan oleh pemerintah Australia terhadap
>saya sudah termasuk akses internet gratis, bahkan
>sampai ke rumah saya, saya cuma cukup membayar koneksi
>telpon per sambungan yang besarnya cuma 50 sen, yang
>bisa saya gunakan selama yang saya mau.
>
>Dan tahukah anda? kalau hutang dalam bentuk obligasi
>dan surat-surat berharga lainnya juga anda kategorikan
>sebagai hutang (perlukah saya mendefinisikan apa itu
>obligasi?), maka hutangnya Amerika Serikat akan jauh
>lebih besar daripadanya hutangnya Indonesia.
>
>Siapa bilang orang kaya nggak ngutang? bukankah pake
>kartu kredit itu sama dengan ngutang? dan setahu saya
>kalau kita dianggap tidak kaya dan dianggap tidak
>layak, mana ada bank yang mau approve permohonan kartu
>kredit kita. Mana ada orang memberi hutang orang yang
>dianggap nggak mampu bayar hutang?
>
>Saya bukan menteri atau presiden yang omongannya akan
>dengan mudah didengar orang, kalaupun saya
>berteriak-teriak di jalan, "Berantas Korupsi"
>"Berantas Hutang", dan menuliskannya dengan tinta
>darah di spanduk sepanjang satu kilometer di sepanjang
>jalan Istana Merdeka sekalipun, saya yakin tidak akan
>ada yang mendengarkan saya dan sama sekali tidak akan
>merubah keadaan, jadi menurut saya itu buang-buang
>energi.
>Kalau mau memberantas Korupsi akan jauh lebih baik dan
>lebih mudah kalau kita mulai dari diri sendiri.
>Sudahkan kita mencoba untuk tidak bersikap damai kalau
>ditilang polisi di jalan?
>Sudahkan kita mencoba untuk mengambil "jalan depan"
>dari pada mengambil "jalan belakang" kalau mengurus
>surat-menyurat? sehingga "jalan belakang" tidak
>menjadi budaya.
>Sudahkan mencoba untuk tidak mencari "koneksi" untuk
>memasukkan anak-anak kita ke sekolah-sekolah yang
>bagus?
>Kalau kita semua sudah bisa melakukan hal-hal kecil
>semacam itu dimulai dari diri kita sendiri, insyaallah
>korupsi tidak menjadi budaya, dan yang besar-besar
>juga tidak akan menyusul.
>
>Kalau Anda merasa para pemimpin itu tidak ada yang
>benar semua, maka carilah pemimpin-pemimpin yang benar
>(masak di antara lebih dari 200 juta penduduk
>Indonesia, tak ada satupun yang baik menurut Anda),
>bukankah mereka duduk di sana juga atas aspirasi
>individu-individu seperti kita-kita ini?
>Atau anda termasuk "golput"? Kalau benar, maka anda
>tidak berhak sama sekali untuk protes, ibarat sebuah
>perusahaan, anda tidak punya saham sama sekali. Atau
>kalau anda fikir hanya anda satu-satunya orang
>Indonesia yang benar, maka calonkanlah diri Anda, saya
>yakin kalau Anda memang benar pasti akan ada yang
>mendukung anda, kalaupun tidak sekarang mungkin suatu
>saat. Saya sangat yakin, banyak pemimpin-pemimpin yang
>sekarang berkuasa dulunya juga bukan siapa-siapa.
>
>Saya tau apa itu homesickness, sedikit banyak siapapun
>yang jauh dari rumah pasti akan merasakannya. Tapi
>saya jamin intensitas homesickness saya tidak sampai
>mempengaruhi cara berfikir saya, apalagi berhalusinasi
>tentang Indonesia. Kebetulah kami punya komunitas di
>sini, yang hampir semuanya keluarga-keluarga penerima
>beasiswa seperti saya (jadi bukan kaum-kaum borju),
>dan baru saja minggu kemarin saya diangkat menjadi
>"Lurah" oleh mereka, jadi saya tidak kehilangan "sense
>of Indonesia" sama sekali.
>Lagi pula kalau pagi, saya masih sarapan pakai Indomie
>telor kok, kalau masak masih tumis sawi, tumis tauge,
>lauknya kadang-kadang telor ceplok,tahu goreng, ayam
>goreng, daging rendang, sambal terasi, malah
>kadang-kadang sambal goreng pete campur rempelo ati
>(jeroan di sini murah sekali) dan kentang dipotong
>dadu, dan sangat jarang makan keju, karena anak dan
>suami saya nggak doyan.
>Pinginnya sih bisa menggoreng tempe, tapi tempe mahal
>sekali,sepotong kecil harganya 5 dollar, bisa buat
>beli daging sekilo. Tapi saya dan teman-teman pernah
>berhasil membuat tempe lo, cuma nggak diteruskan lagi
>karena repot dan lama.
>Lagi pula saya masih bisa menanyakan ibu saya masak
>apa hari ini, thank God, karena ada yang namanya
>handphone. Ngomong dua menit di telpon nggak membuat
>saya bangkrut kok.
>
>Sejak pertama saya tidak pernah menekankan hal-hal
>yang sifatnya makro dalah hal miskin dan kaya
>(sehingga saya tidak berminat menghitung-hitung
>hutang, daripada memikirkan hutang, bukankah lebih
>baik berkarya sendiri, sehingga paling tidak kita
>tidak berhutang buat kebutuhan kita sendiri).
>Bagaimana kalau anda mencoba merubah pola fikir anda
>tentang "bekerja"? bekerja bukan berarti dapat posisi
>empuk di perusahaan atau instansi pemerintah, bukankah
>berwiraswasta kecil-kecilan juga bekerja namanya? atau
>ngamen sekalipun menurut saya itu sudah termasuk
>kategori bekerja (di Australia juga banyak pengamen
>lho).
>
>Bolehkah saya bercerita bagaimana optimisme itu bisa
>merubah nasib orang?
>Dulu, Simbah saya di Bantul cuma petani kecil, yang
>cuma punya sedikit sawah, yang mungkin kalau hasilnya
>dimakan hanya menyisakan sedikit untuk disimpan. Tapi
>saya kagum, bagaimana panjangnya pikiran beliau
>sehingga mau menyekolahkan Ayah saya, padahal
>tetangga-tetangga beliau yang sama miskinnya, mungkin
>ada yang sedikit lebih kaya, tapi kebanyakan dari
>mereka tidak mau menyekolahkan anak-anaknya. Kemauan
>simbah saya merupakan mukjizat buat kami semua. Dan
>menurut saya itu karena beliau yakin suatu hari,
>walaupun nasibnya tidak akan berubah, tapi paling
>tidak dia sudah berusaha memberi yang terbaik buat
>anak-anaknya. Coba bayangkan, bagaimana keadaan ayah
>saya kalau dulu tidak sekolah sampai universitas,
>tentunya ayah saya tidak akan pernah menjadi seorang
>guru dan mungkin pikiran ayah saya juga akan sesempit
>orang-orang lain di desanya.
>Coba kalau dulu ayah saya cuma jadi petani yang
>menggarap sawah yang sangat sempit yang itupun harus
>dibagi rata dengan saudara-saudaranya yang lain,
>kemudian punya anak saya, pastilah sayapun akan
>berarkhir jadi buruh tani atau tukang cetak batu bata
>di Bantul sana. Tapi cuma karena sedikit optimisme
>dari simbah saya dulu maka nasib seketurunannya semua
>bisa berubah.
>
>Saya yang kembali tanya nih, pernahkah anda ke Bantul?
>Saya tidak bisa berbicara mewakili warga Aceh dan
>Sidoarjo, karena saya tidak pernah ke sana dan tidak
>punya kepentingan. Tapi saya cukup bisa mewakili
>keluarga besar saya (keluarga ayah, ibu, dan keluarga
>besar suami saya) di Bantul sana, yang bagaimanapun
>menderitanya kami, tapi tak pernah menyalahkan
>siapa-siapa, kami semua sepakat kalau itu bencana
>alam, kiriman yang di atas (istilahnya orang Jogja:
>wis digariske karo Gusti Allah, kalau diIndonesiakan:
>sudah ditakdirkan sama Allah), mungkin saja karena
>selama ini kami kurang bersyukur. Apakah apa yang
>dialamai keluarga kami masih kurang pedih dibanding
>masyarakat Bantul yang lain menurut Anda?, padahal
>kami berdiri di tanah yang sama (hampir semua keluarga
>besar kami bermukim di Banguntapan dan Pleret), dan
>mengalami hal yang sama persis.
>
>Anyway, saya rasa cukup sudah berdebat dengan Anda,
>bukan karena saya takut (saya belajar mempertahankan
>pendapat di Australia, karena pada dasarnya tidak ada
>pendapat yang benar atau salah, yang ada hanya
>pendapat yang kuat dan lemah), cuma karena saya merasa
>ini nggak akan ada ujungnya, dan tidak memberi manfaat
>apapun buat saya dan seantero milis ini, hanya debat
>kusir. Dan mungkin saya tidak punya energi lagi
>melayani keingintahuan jiwa muda Anda.
>
>Ngomong-ngomong lagi, saya juga dulu pernah muda lho
>(lagipula saya sekarang belum tua-tua amat,
>jadi,janggal kalau dipanggil Ibu), saya jadi saksi
>sejarah pergerakan mahasiswa tahun-tahun 97-98, waktu
>itu saya baru di tahun kedua kuliah saya di UGM, jadi
>masih seger-segernya. Saya senang mendengarkan
>teman-teman saya orasi dan ikut bertepuk-tepuk tangan
>dan bernyanyi-nyanyi di Balairung UGM, tapi cuma
>sebatas itu (kalo istilah kerennya saya cuma jadi
>penggembira). Saya bukan tipe mahasiswa aktivis. Tapi
>saya juga pernah ikut-ikutan di kejar-kejar sama
>polisi di bunderan UGM lho, kalo nggak salah tanggal 2
>Mei 97. Kalo dipikir-pikir sih lucu juga, jadi ada
>nantinya yang bisa saya ceritakan ke anak cucu saya.
>Tapi yang membuat saya bangga sama mahasiswa di Jogja
>adalah tidak adanya amuk massal, tidak ada keributan,
>kami tetap hidup dengan aman dan damai di sana, tidak
>seperti apa yang terjadi di Jakarta dan Solo (menurut
>saya itu sejarah buruk yang nggak perlu terulang lagi,
>horor yang menakutkan, mohon maaf kalau mengingatkan
>pada hal-hal buruk).
>
>Atau Anda mau Indonesia berubah seperti tahun-tahun
>tersebut? Kalau begitu Anda harus berfikir untuk
>mengumpulkan massa nih (asalkan tidak memakan korban
>aja). Tapi menurut saya momentumnya sudah hilang, atau
>mungkin anda hanya harus bersabar sepuluh sampai dua
>puluh tahun lagi.
>Kalau kita telusuri sejarah Modern Indonesia, revolusi
>akan berulang dengan jarak antara 20 - 30 tahunan:
>Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Perang
>kemerdekaan 1945-49, revolusi ORBA 1966-1968,
>Reformasi 1997-1998, Jadi kalo hitung-hitungan saya
>benar (saya bukan peramal lho), baru akan ada sesuatu
>yang besar paling cepat 10 tahun lagi, jadi
>bersabarlah. Sambil menunggu, belajarlah yang rajin,
>cepat selesai kuliah, jadi nggak menyusahkan orang
>tua, walaupun belum bisa bekerja, paling tidak udah
>nggak dibiayai, tul nggak!
>
>Regards,
>Rini
>
>--- ardy prasetya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Ibu udah hitung belum utang luar negerinya ? kalau
> > belum, diitung dulu lah,
> > saya yang miskin ini cuma ingin tau aja gimana
> > perhitungannya, kebetulan
> > saya belum pernah dengar orang kaya yang ngutang,
> > kecuali orang yang sok
> > kaya.
> >
> > Saya tidak perlu membaca ulang email anda, sama
> > seperti anda tidak perlu
> > membaca ulang email saya, kalau anda sudah tau apa
> > yang saya bicarakan sejak
> > awal (dan menyalahbesarkan). Oh ya coba dicek, arti
> > kata “miskin” dan “tidak
> > ada”, coba cari bedanya, tapi tidak perlu baca ulang
> > email saya. Coba
> > analogikan dengan tetangga2, pecel lele, cendol dan
> > pak RT anda yang
> > patriotis, nasionalis, kaya, toleransi tinggi,
> > bandingkan dengan seabrek
> > orang indonesia.
> >
> > Anggota DPR / MPR yang jumlahnya 1000an itu mewakili
> > 200an juta orang
> > indonesia, coba deh cariin sebanyak jari saya ini
> > yang gak pentingin kantong
> > berapa, yang gak nyogok waktu rebutan kursi, yang
> > gak nego waktu rebutan
> > tempat, yang gak ribut naik tunjangan, yang gak
> > ribut minta laptop. Itung
> > deh moral orang per orangnya, itung ada berapa (jari
> > saya jumlahnya 10).
> > Baru habis itu kita ngomong soal pak RT dan pak RW,
> > kita itung jumlah pak RT
> > dan pak RW di daerah anda, lalu kita bandingin sama
> > di daerah saya, dan
> > lihat siapa sebenarnya yang mengeneralisasi.
> >
> > Kalau belum tau arti homesick biar saya yang miskin
> > ini jelasin, bahwa
> > homesick itu bukan hanya artinya kangen “suami dan
> > anak”, tapi kangen
> > “kampung halaman” (yang sangat indah). Baguslah
> > kalau anda sangat
> > nasionalis, ini dia orang pertama yang saya dengar
> > dengan sangat berani
> > mengumumkan bahwa dia sangat nasionalis. Mudah2an
> > hati dan perkataannya bisa
> > bekerja seiring…
> >
> > Saya tidak tau tau apanya yang dibilang
> > generalisasi, yang pasti sampai
> > sekarang setelah 10 tahun keterpurukan krisis,
> > indonesia ini belum bangun2,
> > dan tiap hari di teve, koran, majalah, selalu
> > masalah2 yang sama, kalau
> > istilah anda masalah “moral orang per orang”, yang
> > kalau dihitung orang per
> > orangnya mungkin anda akan kaget, sampai saya malas
> > baca koran. Kalau perlu
> > tanyain sama korban-korban bencana alam di seluruh
> > jogja-bantul (bukan cuman
> > sebagian bantul tetangga2 anda), berapa orang yang
> > nangis, kita taruhan aja
> > ada gak yang nangis, tanya orang2 di porong, berapa
> > yang nangis. tanya
> > orang-orang di aceh yang sampai sekarang masih
> > ngungsi, berapa yang nangis,
> > berapa yang gila. Bukan hanya sekitaran bantul,
> > pecel lele dan cendol yang
> > jumlahnya katanya "luar biasa besar" (di jogja
> > mungkin iya). Nilai sendiri
> > aja. Saya pikir saya tidak perlu mengeneralisasi.
> >
> > Terus terang saja, saya memang belum bisa berbuat
> > apa2 buat Indonesia,
> > karena saya tidak tau apa yang mau dibuat, saya
> > nanti lulus mau kerja apa
> > aja saya belum tau, ada tidak kerjaan buat saya aja
> > saya gak tau. Uang di
> > kantong Cuma 20 ribu, tabungan gak sampai ½ juta.
> > Kerjaan saya sekarang ya
> > hanya bisa mengkritik (istilah anda “menyalahkan”,
> > coba dicari arti kata
> > kritik yang benar), biar ada orang-orang seperti ibu
> > ini (yang sudah punya
> > kemampuan untuk berbuat apa2) terusik dan terbangun
> > rasa nasionalisme dan
> > patriotismenya. Saya yakin kalau tidak ada bola
> > panas yang dilempar, pasti
> > akan adem ayem saja, tidak ada yang merasa marah,
> > tidak ada yang merasa
> > tersinggung, tidak ada rasa nasionalisme yang
> > bangkit, dan saya juga gak
> > akan tau ada seorang nasionalis sejati di sini.
> >
> > Kalau memang ada yang pesimis dengan kritikan saya,
> > berarti kritikan saya
> > ada benarnya, bukan salah besar, tanggapan pesimis
> > mengindikasikan miskin,
> > miskin optimisme, miskin moral, miskin usaha, miskin
> > mental. Kalau anda
> > merasa optimis buktikan saja, kita lihat saja nanti.
> > Biar saya tau suatu
> > saat kalau indonesia sudah maju dan makmur, saya
> > akan ingat anda, saya kasih
> > batas waktunya, sampai saya mati, apa cukup ?
> >
> > Semua orang tau indonesia itu indah, tapi di zaman
> > ini, itu bukan sesuatu
> > yang membuat saya bangga.
> >
> > Regards,
> >
> > Alwaysimiskin
> >
> >
> >
> > >From: Rini Yayuk Priyati <[EMAIL PROTECTED]>
> > >Reply-To: [email protected]
> > >To: [email protected]
> > >Subject: RE: [Singkawang] Re : Indonesia Miskin
> > atau Kaya ? Dear Ardy,
> > >Date: Mon, 2 Jul 2007 01:55:13 -0700 (PDT)
> > >
> > >Dear Ardy,
> > >
> > >Kalau tanya kenapa saya belajar ke luar negeri,
> > bukan
> > >karena saya tidak nasionalis (justru kebalikannya,
> > >karena saya sangat nasionalis), karena saya abdi
> > >negara (PNS), ditugaskan oleh negara, dengan paspor
> > >dinas pula (paspor biru), dan dibiayai oleh
> > pemerintah
> > >Australia (perlu dicatat tanpa ada unsur KKN,
> > karena
> > >saya harus melewati serangkaian tes baik tes bahasa
> > >Inggris, maupun tes kemampuan akademik).
> > >Jadi, jangan pernah mengira saya belajar di luar
> > >karena gaya dan banyak uang (mungkin kalau saya
> > >memilih sekolah di dalam negeri, saya malah harus
> > >membayar sendiri, paling tidak nombok, karena saya
> > >tidak bisa bekerja sambil kuliah).
> > >Saya berasal dari keluarga biasa, ayah saya hanya
> > >pensiunan guru, dulu mengajar di SPG lalu berubah
> > >menjadi SMAN 3 Singkawang, dan setelah pensiun
> > beliau
> > >kembali ke Jogja, dan menjadi petani, tanpa modal,
> > >karena kami pindah kembali ke Jogja memang tidak
> > >membawa apa-apa, kecuali sedikit uang dari hasil
> > >menjual rumah kami di Roban.
> > >
> > >Dan karena tugas saya sebagai pendidik (saya dosen
> > di
> > >salah satu Universitas Negeri di Jakarta), jadi
> > nggak
> > >ada salahnya jika saya mengambil kesempatan yang
> > >sangat langka ini, dan perlu dicatat bahwa saya
> > tidak
> > >ada keinginan sedikitpun untuk bermukin di
> > Australia,
> > >apalagi menjadi warga negara Australia.
> > >Jadi ungkapan menuntut ilmu untuk membangun
> > Indonesia
> > >amat sangat tidak klise untuk saya, karena tentunya
> > >mahasiswa-mahasiswa saya akan mendapat nilai tambah
> > >dari apa yang saya pelajari di sini.
> > >
> > >Kalu masalah homesickness sih nggak terlalu tuh,
> > >karena saya diperbolehkan membawa serta suami dan
> > anak
> > >saya selama saya belajar di sini.
> > >
> > >Saya memberikan contoh rumput, bukan karena di sini
> > >nggak ada rumput, tapi betapa sulitnya menanam
> > rumput
> > >di Australia, ada yang kesulitan menanam rumput di
> > >Indonesia?
> > >Wah kalau buah di sini banyak sekali, saya
> > >mencontohkan rumput dan buah, karena buat menanam
> > >rumput di Australia aja susahnya bukan main,
> > apalagi
> > >menanam buah. Mungkin anda perlu membaca ulang
> > email
> > >saya nih.
> > >Wah kalau masalah impor buah, karena iklimnya
> > >Indonesia memang nggak cocok untuk beberapa buah
> > >tertentu. Tapi juga bayak macam-macam buah yang di
> > >Indonesia melimpah, tapi tidak ada di sini.
> > >Tapi kalu soal kesuburan, pasti semua orang setuju
> > >kalau Indonesia jauh lebih subur.
> > >
> > >Jangan dikira orang di sini nggak menyumpah dan
> > >menyerapah kalau melihat orang lain nggak bener di
> > >jalan raya, cuma istilahnya lain aja, bl***y,
> > f****ng,
> > >id**t, sama aja khan? dan mungkin intensitasnya
> > lebih
> > >jarang,karena jalanan di sini memang lebih lengang.
> > >Jadi, supaya nggak disumpahin orang di jalan, lain
> > >kali anda perlu hati-hati di jalan.
> >
>=== message truncated ===
>
>
>
>
>____________________________________________________________________________________
>Get the free Yahoo! toolbar and rest assured with the added security of 
>spyware protection.
>http://new.toolbar.yahoo.com/toolbar/features/norton/index.php

_________________________________________________________________
Search from any Web page with powerful protection. Get the FREE Windows Live 
Toolbar Today!  http://toolbar.live.com/?mkt=en-id



=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply

United Singkawang - [http://www.singkawang.us]
Friendster - [http://www.friendster.com/singkawang]
===================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/singkawang/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/singkawang/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke