Kayaknya kalo banjir dah jelas deh pengertiannya dan bisa dilihat wujudnya, tapi kalo nikmat... inilah yang menjadi permasalahan, sesuatu yang abstrak alias gak jelas wujudnya. Kalo gak salah nikmat adalah kata dasar, sedangkan kata kerjanya adalah menikmati dan kata benda abstraknya kenikmatan. Ilustrasi : 1. Gudang Garam Filter International, menurutku rokok paling Nikmat. Meskipun iklannya adalah "Pria Punya Selera" tapi aku yakin gak semua pria menyatakan rokok itu nikmat. 2. Naik gunung, bagi sekelompok orang yang menikmati nya adalah kegiatan yang ditunggu-tunggu, bahkan disetiap "harpitnas" banyak yang naik gunung, coba tanya deh sama anggota IWP, kayaknya gak mungkin mereka gak menikmati naik gunung. 3. Mat Solar dalam sebuah sinetron lepas mendapatkan undian dari sebuah bank berupa mobil keluaran terbaru. Itu bukan sebuah kenikmatan untuk seorang yang berperan sebagai tukang bubur ayam. Kenikmatan yang diinginkan adalah menabung untuk memberangkatkan ibunya pergi haji ke tanah suci. Karena itu mobil tersebut diuangkan untuk memenuhi kenikmatan yang jauh lebih nikmat untuk keluarganya. Mungkin aku gak pandai mengungkapkan ilustrasi diatas, tapi aku mau ngomong begini "nikmat adalah hak mutlak penuh masing-masing insan dan hanya bisa dirasakan oleh hati". Jadi sepertinya kalo kita berpikir tentang satu hal terhadap orang lain sampai ke Zona Nikmat alangkah sulitnya bahkan mungkin mustahil. Posting "Banjir itu nikmat" gak jelas diarahkan kemana dan untuk siapa. Diri kita ?, keluarga kita ?, teman-teman kita ?, warga Jakarta ?, atau seluruh bangsa Indonesia ?, sehingga hasilnya mungkin jauh dari tujuan awal pembahasan yang dilempar penulis. Sebagai satu komunitas alumnus, sebaiknya dan kalau masih mau dibahas, kita coba ganti topik dengan yang lebih realistis dan ditujukan untuk semua alumnus baik yang tergabung dimilis ini maupun alumnus yang ada disekitar kita yang tidak/belum dapat berinteraksi di virtual. Bukan berarti kita tidak mau tahu dan tidak perduli dengan tetangga kita atau orang lain diluar lingkup komunitas alumnus yang juga kebanjiran, tapi mungkin hanyalah debat kusir saja kalo menanyakan urusan sampe ke zona nikmat mereka tanpa keterlibatan mereka. "Banjir : Menikmati atau Tidak ?", mungkin dengan topik itu kita malah bisa mendapat sumber yang berbicara dengan lugas disini, sekali lagi, itu juga kalo mau diteruskan, kalau gak ya gak papa. Dan siapapun nanti yang mungkin mau memberikan postingnya ya gak usah ditimpali macam-macam, wong itu zona nikmat dia kok, dia berhak mengemukanan yang ada di zona nikmatnya tanpa mengganggu dan terganggu zona nikmat orang lain. Dari sini kita mungkin bisa dapat info siapa saja alumnus yang kebanjiran dan mungkin untuk tindakan nyatanya, bisa kita wujudkan postingan Adjie'94 tentang "Alumni for korban banjir" yang selama ini didiamkan saja tanpa pembahasan. mungkin timing blom pas buat omongin beginian deh wahyu... saat ini gimana peran serta nyata kita, sabagai alumni untuk bisa berbuat terhadap lingkungan kita atas kejadian yg sedang terjadi saat ini. banjir dimana-mana. ga usah deh kita buat birokrasi lagi. yg penting ayo kita berbuat untuk sesama kita at least buat lingkungan skitar kita dulu. yuk temen2 rapatin barisan kita berbuat buat sesamanya.. adjie alumni 94 Salam Wishnu'91
--------------------------------- Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and always stay connected to friends.
