Kenapa Leonardo?
Konon Leonardo adalah manusia super, seniman serba
bisa. Dan hidup di masa sekarang, manusia dituntut
untuk serba bisa, tahan banting dan kalau perlu mati
rasa hehehe
Tidak mudah memahami pementasan Koma kali ini. Sedikit
tidak biasa. Tidak ada hingar bingar musik yang biasa
mengiringi sepanjang pertunjukkan. Tidak ada
lagu-lagu, permainan lampu, layar, setting panggung
bahkan kostum yang biasanya selalu spektakuler dan
mencuri perhatian. Kali ini penonton, setidaknya saya,
harus mengerutkan kening mencerna dialog, jalan cerita
termasuk perilaku yang diperankan para pemainnya.
Kisahnya sarat dengan metafor tapi hebatnya nyaris
tidak ada yang membosankan. Padahal dialognya
panjang-panjang.
Kisahnya dimulai dari sekelompok pasien di sebuah
lembaga syaraf. Masing-masing menunjukkan beragam
perilaku aneh. Mewakili persoalannya masing-masing.
Ironis, tragis namun kocak. Sampai pada akhirnya
Dokter Dasilva (Cornelia Agatha), bereksperimen untuk
tesis Ph.D-nya. Ia memilih satu dari para pasien itu
untuk dijadikan kelinci percobaan, membuat sosok
manusia super. Berhasilkan? Lumayan berhasil. Hanya
saja manusia ini bergerak sangat mekanis, seperti
mesin. Tidak bisa merasa sebagaimana manusia, walau
dia hebat dan menjadi sangat sempurna. Alih-alih
menjadi manusia terhebat, makhluk ini jadi tega
membunuh sesama.
Dokter Hopman (N. Riantiarno) sebagai ketua dan dokter
di lembaga syaraf itu punya anggapan berbeda. Manusia
super tanpa perasaan bukanlah manusia. Manusia yang
utuh adalah manusia yang mampu menentukan nasibnya
sendiri untuk mencapai kebahagiaan. Manusia yang bisa
tertawa, menangis, merasaakan cinta, sakit hati dan
lain-lain. Dia memanfaatkan sajak-sajak Shakespeare
untuk melatih rasa para pasien itu. Singkat cerita,
manusia super itu mencapai titik jenuhnya yang
membuat ia berbalik dan kembali menjadi manusia.
Tiba-tiba saja suasana panggung seolah kembali pada
kehidupan normal yang biasa. Penontonpun seolah
dibangunkan dari mimpi, atau diturunkan kembali ke
bumi setelah selama sekian jam dibawa ke alam khayal
para pasien lembaga syaraf itu.
Penonton jadi ikutan gila karena hanyut pada
perilaku aneh para pasien yang selalu mengundang tawa.
Ada Bu Risah yang selalu melontarkan lelocon garing,
ada Profesor yang otaknya penuh dengan hafalan nggak
penting (seperti misalnya tanggal 23 April 3456 akan
jatuh pada hari Jumat!), ada Pak Ndus yang mengalami
delusi sehingga memercayai adanya sinar kosmis yang
berkekuatan jahat, ada Pak Miring yang mengalami
gangguan secara katatonik sehingga selalu miring ke
kanan (dan butuh kaca mata lengkap dengan pendulum di
ujung kanan-kiri frame-nya sekedar membantu Pak Miring
berjalan tegak), serta Pak Martin dan Rebeka (ia
terobsesi menari dengan sepatu mungil-nya).
So guys, kalau ada yang mengalami salah satu dari
sekian contoh gangguan jiwa yang diwakili karakter
tokoh Kenapa Leonardo? di atas, jangan-jangan kita
kena gangguan jiwa juga..hiiyyyy..:)) :))
Have a nice Monday!
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/