Wah,..
jadi kangen niy ma performance nya Koma,..sejak si
bayi lahir sampe' skarang, saya belum sempet lagi
ngintip pementasan mreka,..

Btw,..kalo yang pernah saya baca tentang Leonardo..kok
rada beda ya Mbak Vit,..
Leonardo (Da Vinci)..sangat manusiawi..dia dianugerahi
perasaan yang sangat halus hingga sebagai seniman dia
menjadi salah satu 'yang besar'..
Kategori 'super' yang disandangnya salah satu nya
adalah karena kecerdasannya yang dianggap lebih
dibanding kebanyakan manusia yang terlahir
dijamannya..padahal menurut riset2 ilmiah (seperti
juga pada penelitian tentang seberapa besar otak
Einstein) terbukti volume otaknya biasa2 saja..yang
hebat dari seorang Leonardo adalah interkoneksi sel2
kelabunya yang menjadikan ia mampu menemukan koneksi
dari berbagai ilmu yang ia pelajari..sementara
sebagian besar orang hidup yang belajar lebih menjadi
'text booker'..alias pede aje ngeliat ilmu dari satu
kaca mata teori..sehingga kadang buta bahwa sebenarnya
apa yang tercipta di atas bumi ini saling berkaitan..

Leonardo menjadi 'super' karena dianggap bisa melihat
sesuatu dari berbagai sisi (keilmuan)..plus memadu
padankan dengan prasaan halusnya yang terkenal
itu..dan pengalaman ini memang jarang ditemukan pada
manusia 'biasa'..

So, kalo' Koma mengangkat tema manusia super yang 'tak
berperasaan'..wah,..gejala 'penyakit gila nomer ke
sekian' (merujuk Hirata) keliatannya memang sudah
makin kronis diantara kita ya?


--- "Lusiana M. Hevita" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kenapa Leonardo?
> 
> Konon Leonardo adalah manusia super, seniman serba
> bisa. Dan hidup di masa sekarang, manusia dituntut
> untuk serba bisa, tahan banting dan kalau perlu
> ‘mati
> rasa’ hehehe…
> 
> Tidak mudah memahami pementasan Koma kali ini.
> Sedikit
> tidak biasa. Tidak ada hingar bingar musik yang
> biasa
> mengiringi sepanjang pertunjukkan. Tidak ada
> lagu-lagu, permainan lampu, layar, setting panggung
> bahkan kostum yang biasanya selalu spektakuler dan 
> mencuri perhatian. Kali ini penonton, setidaknya
> saya,
> harus mengerutkan kening mencerna dialog, jalan
> cerita
> termasuk perilaku yang diperankan para pemainnya.
> Kisahnya sarat dengan metafor tapi hebatnya nyaris
> tidak ada yang membosankan. Padahal dialognya
> panjang-panjang.
> 
> Kisahnya dimulai dari sekelompok pasien di sebuah
> lembaga syaraf. Masing-masing menunjukkan beragam
> perilaku aneh. Mewakili persoalannya masing-masing.
> Ironis, tragis namun kocak. Sampai pada akhirnya
> Dokter Dasilva (Cornelia Agatha), bereksperimen
> untuk
> tesis Ph.D-nya. Ia memilih satu dari para pasien itu
> untuk dijadikan kelinci percobaan, membuat sosok
> manusia super. Berhasilkan? Lumayan berhasil. Hanya
> saja manusia ini bergerak sangat mekanis, seperti
> mesin. Tidak bisa merasa sebagaimana manusia, walau
> dia hebat dan menjadi ‘sangat sempurna’. Alih-alih
> menjadi manusia terhebat, makhluk ini jadi tega
> ‘membunuh’ sesama.
> 
> Dokter Hopman (N. Riantiarno) sebagai ketua dan
> dokter
> di lembaga syaraf itu punya anggapan berbeda.
> Manusia
> super tanpa perasaan bukanlah manusia. Manusia yang
> utuh adalah manusia yang mampu menentukan nasibnya
> sendiri untuk mencapai kebahagiaan. Manusia yang
> bisa
> tertawa, menangis, merasaakan cinta, sakit hati dan
> lain-lain. Dia memanfaatkan sajak-sajak Shakespeare
> untuk melatih rasa para pasien itu. Singkat cerita,
> manusia super itu mencapai titik ‘jenuh’nya yang
> membuat ia berbalik dan kembali menjadi manusia.
> Tiba-tiba saja suasana panggung seolah kembali pada
> kehidupan normal yang biasa. Penontonpun seolah
> dibangunkan dari mimpi, atau diturunkan kembali ke
> bumi setelah selama sekian jam dibawa ke alam khayal
> para pasien lembaga syaraf itu.
> 
> Penonton jadi ikutan ‘gila’ karena hanyut pada
> perilaku aneh para pasien yang selalu mengundang
> tawa.
> Ada Bu Risah yang selalu melontarkan lelocon garing,
> ada Profesor yang otaknya penuh dengan hafalan nggak
> penting (seperti misalnya tanggal 23 April 3456 akan
> jatuh pada hari Jumat!), ada Pak Ndus yang mengalami
> delusi sehingga memercayai adanya sinar kosmis yang
> berkekuatan jahat, ada Pak Miring yang mengalami
> gangguan secara katatonik sehingga selalu miring ke
> kanan (dan butuh kaca mata lengkap dengan pendulum
> di
> ujung kanan-kiri frame-nya sekedar membantu Pak
> Miring
> berjalan tegak), serta Pak Martin dan Rebeka (ia
> terobsesi menari dengan sepatu mungil-nya).
> 
> So guys, kalau ada yang mengalami salah satu dari
> sekian contoh gangguan jiwa yang diwakili karakter
> tokoh Kenapa Leonardo? di atas, jangan-jangan kita
> kena gangguan jiwa juga..hiiyyyy..:)) :))
> 
> Have a nice Monday!
>   
> 
> 
> 
>      
>
____________________________________________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and 
> know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now. 
>
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
> 
> 
> 



      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping


--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke