Sekedar sharing biar kepala saya tak meledak karena mengamati berita di media
masa dan merenungkannya dengan kecemasan nasib masa depan Indonesia.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Melihat beberapa opini di koran Kompas
(http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0801/07/opini/4143414.htm), Koran Tempo
kemarin (http://www.tempointeraktif.com/hg/khusus/kolom// Stagflasi Diambang
Pintu: Joseph E. Stigliz), maka inflasi yang terjadi di AS akibat kegagalan
subprime mortgage ditambah faktor lain akan menimbulkan pukulan ekonomi yang
merambah pada kestabilan ekonomi negara-negara lain diseluruh dunia temasuk
Indonesia.
Kondisi ini juga mempengaruhi harga komoditi pertanian, disamping kedelai
beberapa komoditi pertanian mengalami kenaikan yakni jagung (mungkin juga
karena peningkatan kebutuhan jagung akibat konversi jagung menjadi
bioetanol/biofuel sebagai imbas kenaikan harga minyak), gandum, kopi, karet
(kebutuhan ban untuk outomotif dan meningkat dll):
http://vibiznews.com/1new/news.php?page=commodity.
Dengan adanya liberalisasi pertanian hasil kesepakatan Agriculture
Agreement/WTO yang ditetapkan saat 2001 di Doha maka setiap kenaikan komoditi
pertanian yang diperdagangkan dunia akan mempengaruhi Indonesia. Oleh karena
itulah kenapa tadi malam, Menteri Pertanian memutuskan untuk mengamankan
kebutuhan kedelai nasional, tarif impor kedelai ditetapkan 0 persen.
Keputusan ini menurut saya sangat dilematis. Keputusan jangka pendek yang tepat
namun merugikan dimasa yang akan datang. Jangka pendek, keputusan ini
menyelamatkan dapur pengrajin tempe, kecap dan yang berbahan baku kedelai.
Jangka panjang, seolah-olah kebijakan ini lebih memihak kepada pengusaha
(importir) dan makin menguatkan ketergantungan Indonesia pada impor yang pada
akhirnya bisa menimbulkan jebakan pangan (food trap) lebih parah lagi. Patut
diketahui, selama ini 65 persen kebutuhan kedelai nasional dipenuhi dari impor.
( http://64.203.71.11/kompas-cetak/0603/25/daerah/2539018.htm)
Kenaikan kedelai ini, jika kita berfikir, sebenarnya merupakan momentum
tepat untuk mengarahkan kebijakan pemerintah yang mengarah pada kemandirian
pertanian. Sebuah kebijakan yang pro poor yakni petani, nelayan, peternak dan
pengembangan komoditas pertanian lokal. Kedelai (khususnya untuk tempe) bisa
diganti dengan sumberdaya pagan indigenious/asli Indonesia seperti kacang komak
asal Probolinggo (yang proteinnya tak kalah dengan kedelai), koro benguk dll.
Kedua kacang ini pada beberapa daerah telah dibuat tempe.
Kami (IPB) akan menggelar conference masalah ini, bagi teman-teman wartawan
mohon tunggu informasi selanjutnya.
salam hangat,
aris yang solikhah
"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa,
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan
silaturahmi." (Muhammad SAW).
pustaka tani
kampusku
nuraulia
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
[Non-text portions of this message have been removed]