--- In [email protected], "Edi Tarigan (aka Mosokul)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > - Autonomy and independence (otonomi penuh, tidak ada orang luar yg > mengendalikan, tidak ada pendekatan TOP DOWN dari pemerintah, > kalaupun bekerja sama dgn organisasi lain termasuk pemerintah, maka > koperasi melakukan kontrak tsb dgn dasar "democratic member control" > dan tetap mempertahankan otonominya. > mikir lagi soal tulisan Bp. Shodan soal "top down" dan kritik soal "pendidikan" koperasi itu plus pendapat "strong ideologi" dan "lokaliti" juga muncul. Kemudian saya baca lagi sedikit2 kritik terhadap Distributism dan soal kegagalan koperasi "top-down". Di negara barat, baik koperasi atau Credit Union *mungkin* bisa berhasil karena (i) traditionally mereka (Barat) adalah high-trust society, jadi cerita duit CU/koperasi ditilep oleh pengurusnya hampir tidak ada (ii) peraturan yang jelas disertai Federal Insurance. Uang anggota CU dijamin pemerintah/Fed sedangkan CU di AS diatur oleh NCUA sebuah lembaga yang mengawasi CU di AS. Sebagian peraturan ini penting misalnya uang CU tidak boleh digunakan untuk spekulatif investment. (iii) Keanggotaan CU memang didasari oleh kesadaran kolektif, misalnya CU dari kampus2 atau CU dari kumpulan perusahaan-perusahaan. (iv) CU umumnya bersifat lokal Kalau dibandingkan dengan koperasi di Indonesia (ini mungkin ya karena ini perkiraan subjektif), yang ada di Indonesia jelas no (iii) dan (iv). Nomor (ii) jelas tidak ada dan mungkin sulit diterapkan dalam jangka dekat ini. Sedangkan secara "masyrakat" sebenarnya indonesia bukan termasuk dalam jajaran high trust society sehingga tantangan sekaligus strategi untuk mensukseskan koperasi di Indonesia adalah bagaimana membuat koperasi itu "trustable". Untuk "trustable", baik member dan pengurus harus/sebaiknya punya satu ikatan permasalahan dan ideologi,moral sehingga bisa jadi terjadi koperasi yang saling mutual-beneffited dan punya strong high-relationship value dari sebuah sistem trust yang teruji (teruji disini artinya , trustnya bener2 dari ikatan moral, gak hanya lip service saja). Lebih berhasil lagi, kalau koperasi itu memang jalan karena org2 disitu merasakan permasalahan ekonomi yang sama. Jadi, mungkin precursor untuk suksesnya koperasi adalah bersifat 'lokal', 'community based', 'community driven', 'common problem, ' high trust' dan 'strong ideology/moral value'. ciao, MCPS
