Ali Abidin wrote:
>
> wah, maaf pak SUnarman, saya kok tambah bingung ya?
>
> Rasanya menyejajarkan Muhammad SAAW dengan Hawariyyun kok jadi rada
> kurang asem ya? Apalagi berusaha meletakkan Yesus AS selevel di atas
> Muhammad SAAW.
>
> Bagaimana jika kembali ke level 0 saja (saya biasa sebut sebagai
> pemahaman SD) untuk menyetarakan sbb:
>
> * AlQuran - Injil yang belum terjamah perubahan oleh tangan manusia
> (sama-sama kitab suci dari Allah SWT)
Injil yang belum terjamah manusia itu Injil yang mana, Mas? Sejak
awal kitab Injil ditulis oleh para ahli kitab. Nabi Isa sendiri
tidak pernah menulis sesuatu, dan tidak pernah mendiktekan sesuatu
untuk ditulis. Ini sangat berbeda dengan Al Qur'an yang setiap
perkataannya keluar melalui satu saluran: mulut Nabi Muhammad,
meskipun Nabi sendiri tidak dapat 'menulis'.
Kita tahu bahwa arsitek Kristen dan penulis terbanyak di dalam Injil
adalah Paulus, seseorang yang secara fisik tidak pernah berjumpa
dengan Nabi Isa.
> * Muhammad - Yesus (sama-sama penyampai wahyu Allah SWT)
>
> * Hawariyyun - Sahabat (ada yang baik, ada yang munafik dst)
>
> Lantas bagaimana kedudukan Injil yang sudah terjamah perubahan oleh
> tangan manusia? Yah, bagian yang bersih dari perubahan oleh tangan
> manusia barulah bisa dipegang sebagai firman Allah SWT.
>
> ........ mereka merobah perkataan-perkataan dari
> tempat-tempatnya.......... (QS. 5:41)
>
> ........kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai
> berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian
> besarnya, ....(QS. 6:91)
Karena itulah saya pribadi lebih setuju pada pendapat yang
menyejajarkan Injil dengan Hadits. Kita tahu bahwa banyak hadits
yang disembunyikan meskipun sangat sahih.
Bagaimanapun, dalam tasawuf, kita tidak boleh sekedar berbangga
bahwa kitab kita lebih murni dan otentik, nabi kita lebih ...,
mazhab atau aliran saya lebih ..., atau menurut versi anak-anak
"Bapak saya lebih hebat dari Bapakmu."
Kebanggaan seperti itu perlu kita tinggalkan, dan kita harus menoleh
ke arah diri kita masing-masing. Apa yang dapat kita banggakan pada
diri kita sendiri masing-masing? Kalau kita jujur, maka kita tidak
melihat sedikit pun aspek yang membanggakan dalam diri kita; kita
akan lebih banyak melihat kekurangan-kekurangan yang perlu dibenahi.
Apa gunanya membanggakan kitab kita, nabi kita, mursyid kita dll.,
jika diri kita sendiri masih kotor?
Wassalamu'alaikum wr wb.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaa, e-mail (kosong) : [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)