Abdullah Isa wrote: > Assalaamu 'alaikum wr. wb. > > deleted........ > Sesungguhnya begini majelis Tasawuf. > > Sebenarnya, al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam > dada > orang-orang yang diberi ilmu. > Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali > orang-orang yang > zalim. (QS. 29:49) > > Orang yang diberi Ilmu adalah orang yang telah bertemu diri. > Terangnya Al Qur'an dalam dada orang-orang tersebut, menjadikan > Al Qur'an > implemented > dalam zaman itu. Al Qur'an menjadi demikian mengatur teknis, > detail, dan > jelas, bagi > mereka. Tidak global seperti yang ada dalam dada kita. > > Untuk itu, Hal teknis sesuai zaman itu, atau untuk menjawab > permasalahan > yang berkembang pada > masa itulah, menjadi buku-buku yang tertulis oleh mereka-mereka > itu. > Berikut kutipan tulisan Mursyid kami : "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) Kalimat-kalimat Allah. Sesungguhya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Q.S Lukman:27) Isi Al Qur�an itu, habispun kayu dirimba sebagai pena dan habispun delapan buah lautan sebagai dawat untuk menuliskannya, Al Qur�an belum habis-habisnya! (Kurnianya sebanyak bintang di langit dan sebanyak pasir di lautan) Namun semua itu terhimpun dalam satu KALIMATULLAH HIYAL ULYA, KALIMAH ALLAH YANG MAHA AKBAR, MAHA AGUNG, MAHA SAKTI, MAHA SEGALA YANG BAIK, dan semata-mata hanya Kalimah Allah inilah yang diamalkan secara teknologis oleh para ahli dzikrulah yang mengamalkannya dengan METODOLOGI THARIQATULLAH yang dilandasi atas perintah Illahi yang nyata dalam ayat-ayat Al Qur�an dan As Sunnah dan diterangkan atas dasar TEKNOLOGI yang secanggih-cangihnya! Sebagai Sunnatullah. Komentar : Kalimah Allah inilah yang dimasukkan ke dalam dada Rasulullah SAW. [Hingga beliau dikatakan akhlaknya (yang pangkalnya ada di hati) adalah Al Qur'an]. Untuk bisa menerima Kalimah Allah ini, ruhani terlebih dahulu harus disucikan seperti halnya Rasulullah SAW sebelum mendapatkan wahyu melaksanakan khalwat yang tidak sebentar. "Al Qur'an tidak dapat disentuh (tidak dapat dimanfaatkan) kecuali bagi orang yang disucikan (lahirnya dan batinnya, jasmaninya dan rohaninya)" (Q.S Al Waqi�ah) : 79. Jadi orang yang dapat "menyentuh" Al Qur'an, orang yang telah terisi (jiwanya) dengan Kalimah Allah adalah orang yang "disucikan". Jadi, "orang-orang yang disucikan" ketika menulis [sebenarnya] adalah merupakan "terjemahan" (tafsiran) daripada Al Qur'an (segala ilmu ada di dalam Al Qur'an). Termasuk "shalat khusuk" yang disebutkan di dalam Al Qur'an, metodanya tentu saja ada di dalamnya, tapi ia tersembunyi (ter-rahasia) di dalam Al Qur'an. Yang bisa menerjemahkan dan mengimplementasikannya adalah juga "orang-orang yang disucikan". Walau di dalam Al Qur'an dan Hadits-pun kita tidak menemukannya secara eksplisit. Dan orang yang paling sempurna menerima Kalimah Allah dan paling sempurna menafsirkan Al Qur'an tentu saja sang penerima langsung Al Qur'an yaitu Rasulullah SAW. Tulisan "orang-orang yang disucikan" lainnya (dibawah Nabi) tentu saja harus sesuai (tidak bertentangan) dengan Hadits. Kita ketahui bahwa Al Qur'an adalah Mu'jizat terbesar Nabi kita (sedangkan Nabi lain tidak). tentu saja ia (Al Qur'an) bukan saja berupa tulisan yang berhuruf dan bersuara. Tapi ia adalah KALIMATULLAH HIYAL ULYA. Wassalam Ww
--------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaa, e-mail (kosong) : [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
