Assalaamu 'alaikum wr. wb.
|>Hadits kedudukannya bagi orang yang bertemu diri, sebagai alat untuk
|>menjelaskan permasalahan kepada mereka (yang awam) tentang Islam.
|
|Berarti apa yang saya khawatirkan memang terjadi, bahwa pada pejalan
|thareqat ada kecenderungan untuk mengabaikan hadist (?). Hadist hanya
|untuk memberi penjelasan kepada yang awam (?). Bagi ybs cukup AlQuran
|sebagai pegangan + Jiwa Muthmainnah yang memberikan petunjuk.
Al Qur'an mengatakan berisi segala sesuatu secara detail.
Lihat ayat berikut ini:
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur'an) untuk menjelaskan
SEGALA SESUATU dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang
berserah diri. (QS. 16:89)
Berserah diri diatas menggunakan kata = Al Muslimiin bukan
Muslimiin (perhatikan bedanya). Penggunaan kata Al menunjukan tingkat
kemutlakan.
Yang benar-benar (mutlak) berserah diri, merekalah orang yang bertemu
diri.
Kalau Mas Ali cermat dengan hadits yang dikutip Mbak Yani Qayyimah
kemarin : "Rasulullah SAW itu seperti Al Qur'an yang berjalan"
tentu pertanyaan diatas terjawab.
|Sebelumnya maaf jika pertanyaan saya jadi terlalu jauh. Saya jadi ingin
|tahu, Bagaimana kedudukan Nabi Muhammad SAAW bagi seorang yang telah
|bertemu diri tsb jika hadistnya sudah tak berguna lagi bagi dirinya
|karena sudah ada jiwa Muthmainnah? Barangkali pada saat itu Muhammad
|SAAW sendiri yang akan membantu ybs menuju kepada Allah SWT. saya masih
|ragu apakah Jiwa Muthmainnah itu jauh lebih berharga dari pada Hadist
|itu sendiri?
Hadits adalah tulisan (dokumentasi) dari apa yang diperbuat atau dikatakan
Rasulullah SAW. Dalam memahami hadits pun seharusnya harus dipahami
bagaimana audience, suasana, topik pada saat itu.
Jiwa Muthmainnah adalah Jiwa yang selalu berhubungan dengan Allah.
Selalu berkumonukasi 2 arah.
Hadits memungkinkan terjadi kesalahan karena pemalsuan, kesalahan ingat
perawi, kesalah penempatan, dan banyak lagi segala kemungkinan.
Tetapi petunjuk Allah? Satu sumber yang sama yang memberikan
petunjuk kepada Rasulullah SAW.
Catatan:
Bukan disini kita mengingkari hadits, tetapi kami mengatakan bahwa
Hadits adalah panduan awal (teknis) seorang untuk mendapatkan rahmat
Allah.
Maka itu JANGAN SEKALI-SEKALI merasa paling benar dengan berpegang
sebuah keterangan hadits. Karena boleh jadi suatu saat diketahuinya,
bahwa sunnahnya adalah tidak harus seperti itu.
|(Sebetulnya jauh di lubuk hati saya, mengatakan bahwa mungkin saya tidak
|mampu menggapai Allah SWT tapi saya mungkin mampu menggapai Muhammad
|SAAW sebagai hamba yang dikasihi-Nya)
Kalaupun Mas Ali atau saya, mengikuti hadits (tulisan-tiulisan) 100%,
saya jamin akan pusing.
Tidak usah jauh-jauh, uuntuk takbiratul ihram, ada hadits yang menjelaskan
tangan ditelinga ada yang mnejelaskan tangan di pundak.
Itu baru 1. Belum yang lainnya.
Karena demikian banyak bunyi Haditsnya yang semua itu sesungguhnya
Sunnahnya.
Dan TIDAK PERNAH kita diperintah mengikuti Hadits... Tetapi
Sunnahnya.
|Sebenarnya bagaimanakah untuk menuju kepada Allah SWT bagi seorang
|pejalan tharekat, apakah langsung kepada Allah SWT, ataukah Allah SWT
|via Mursyid, ataukah Allah SWT via Muhammad SAAW via Mursyid ataukah
|Allah SWT via Muhammad SAAW via Ahlulbaitnya via Mursyid. Atau
|jangan-jangan untuk menuju Allah SWT jalannya sangat panjang seperti
|yang kita baca dalam attahiyyat sholat sehari-hari jadi ALLAH
|(syahadat)<-- MUHAMMAD (syahadat+sholawat+salam)<-- AHLULBAIT
|(sholawat+salam) <--- NABI-NABI (salam) <--- DIRI KITA (salam) <--HAMBA
|YANG SHALIHIN (salam).
Tahapan menuju Allah adalah sebagai berikut :
1. Beragama Islam
2. Bertaubat dengan Sungguh-sungguh
3. Berserah Diri (tidak mengikuti Hawa Nafsu) - Menjadi Muslimiin
4. Mendapat Rahmat Allah pertama -- Disucikan oleh Allah menjadi hamba
yang mutahharuun (seperti bayi baru lahir) - Menjadi Mukmin
5. Berdasarkan Iman, melakukan Amal Shalih - Menjadi Muttaqiin
6. Akibat Taqwa berbuah Hasanah - Nur Ilmu (Ilmu Laduni)
7. Mendapat Rahmat Allah kedua - Bertemu Diri - Menjadi Al Muslimiin.
8. Bila sudah bertemu diri, akan selalu dipandu oleh Allah.
9. Menjadi hamba yang Muqarrabuun - Insan Kamil
Catatan:
+ Untuk melakukan langkah 1,2,3,4 mengikuti Al Qur'an dan detail dengan
mengikuti hadits Rasulullah SAW. Hadits sangat banyak. Jangan arogan
dengan satu keterangan saja. Dan jangan mengikuti hadits tanpa mengerti
tujuannya (muatan syariahnya).
+ Apabila benar melakukan 1,2,3 maka:
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat
petunjuk;
dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat Wali yang
Mursyid (Wliyammursyida). (QS. 18:17)
+ Dengan dibimbing Mursyid bertujuan mengarahkan melakukan perjalanan
2,3,4,5,6,7
+ Rahmat Allah ada 2 bagian, yaitu:
Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertaqwalah kepada Allah
dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya
kepadamu
dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat
berjalan
dan Dia mengampuni kamu.Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.
57:28)
+ Dengan Rahmat 1 - Mutahharun, seseorang akan dapat menyentuh makna Al
Qur'an
(QS Al Waqiah : 79). Al Qur'an akan berkata-kata, Bahkan demikian nyata
dalam dada,
seperti yang dekatakan dalam (QS. 29:49). Petunjuk Al Qur'an ini demikian
detil seperti
yang diakatan (QS. 16:89). Disinilah seorang akan mulai sanggup mengikut Al
Qur'an dan
Sunnahnya (bahasanya : bukan Haditsnya).
+ Dengan Rahmat 2 - bertemu diri jadilah ia seorang Ahlul Bait. Ahli Rumah.
Rumah bagi Allah adalah hati. Ingatlah sebuah hadits Qudsi yang berbunyi :
Cukuplah
bagi-Ku hati orang-orang yang beriman. Karena itulah diperintahkan kita
mengikuti Ahlul Bait.
+ Apabila telah bertemu diri (mnejadi Ahlu Bait), maka apa yang dilakukannya
atas
petunjuk Allah, sehingga lambat laun ia akan menjadi hamba yang dekat dengan
Allah (Muqarrabuun).
HANYA MILIK ALLAHLAH SEGALA ILMU PENGETAHUAN
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaa, e-mail (kosong) : [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)