Assalaamu 'Alaikum wr. wb.


Saya sebetulnya sangat curiga dengan tawaran Pak Sunarman untuk
mengasosiasikan terminologi Nasrani dengan terminologi Islam. Menurut
saya ada perangkap yang berbahaya di dalamnya. Saya melihat bahwa asumsi
dasar dari asosiasi ini adalah pemahaman nasrani pada saat ini bahwa
Yesus itu anak Tuhan. Sehingga Anak Tuhan sejajar dengan Al-Quran,
Muhammad yang belajar dari Quran sejajar dengan hawariyyun yang belajar
dari Yesus, Injil yang merupakan perkataan Hawariyyun sejajar dengan
hadist yang merupakan perkataan Muhammad. Simple tapi menjerumuskan.

Apakah menurut pak Sunarman, memang demikianlah hendaknya umat islam
memandang kitab Injil, hawariyyun dan Yesus?

>Injil yang belum terjamah manusia itu Injil yang mana, Mas? 

>Sejak
>awal kitab Injil ditulis oleh para ahli kitab. Nabi Isa sendiri
>tidak pernah menulis sesuatu, dan tidak pernah mendiktekan sesuatu
>untuk ditulis. Ini sangat berbeda dengan Al Qur'an yang setiap
>perkataannya keluar melalui satu saluran: mulut Nabi Muhammad,
>meskipun Nabi sendiri tidak dapat 'menulis'.
>
>Kita tahu bahwa arsitek Kristen dan penulis terbanyak di dalam Injil
>adalah Paulus, seseorang yang secara fisik tidak pernah berjumpa
>dengan Nabi Isa

Nah, Figur Paulus ini memang teka-teki yang sangat membingungkan buat
saya. Barangkali pak Sunarman bisa bercerita tentang figur Paulus ini?
Konon sebelum menjadi pendakwah ajaran Nasrani, ybs malah dikenal
sebagai pembantai pengikut isa (benarkah?). Beliau juga memang tidak
pernah bertemu secara fisik dengan Yesus. Beliau juga malah penulis
terbanyak dari Injil. Beliau juga banyak mempermudah pelaksanaan ajaran
Nasrani bagi pengikutnya (dengan mencabut semua larangan & kewajiban
bagi bani israil seperti larangan makan babi, perintah sunat penis,
larangan hari sabat dll).
>.
>Bagaimanapun, dalam tasawuf, kita tidak boleh sekedar berbangga
>bahwa kitab kita lebih murni dan otentik, nabi kita lebih ...,
>mazhab atau aliran saya lebih ..., atau menurut versi anak-anak
>"Bapak saya lebih hebat dari Bapakmu."   
>
>Kebanggaan seperti itu perlu kita tinggalkan, dan kita harus menoleh
>ke arah diri kita masing-masing. Apa yang dapat kita banggakan pada
>diri kita sendiri masing-masing? Kalau kita jujur, maka kita tidak
>melihat sedikit pun aspek yang membanggakan dalam diri kita; kita
>akan lebih banyak melihat kekurangan-kekurangan yang perlu dibenahi.
>Apa gunanya membanggakan kitab kita, nabi kita, mursyid kita dll.,
>jika diri kita sendiri masih kotor?

Meski 2 paragraf di atas tidak berhubungan dengan pembahasan tentang
kitab suci dalam subject ini, tetapi baiklah saya terima (toh memang
nasehat yang baik). 

Maaf bila ada perkataan saya yang kurang berkenan.

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.

>

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke