Assalamu'alaykum wr. wb.

Mas Ali.... fitnah besar di dunia tasawuf memang berkisar pada masalah
perujukan nash. Saat ini, Mas Ali melihat bahwa salik itu cenderung
mengabaikan hadits. Suatu saat, Mas Ali mungkin akan menemukan yang lebih
parah lagi, yaitu cenderung mengabaikan Al-Qur'an itu sendiri.

Masalah ini memang fitnah besar di dunia tasawuf. Bukan hanya fitnah bagi
non salik, tapi juga bagi para salik. Fitnah bagi non-salik adalah
munculnya anggapan bahwa tasawuf sering tidak sejalan dengan nash yang ada
(termasuk hadits didalamnya). Sedang fitnah bagi salik, adalah mencukupi
diri dengan kasyf tanpa mau menelaah nash-nash yang ada. Terburu-buru
men-taqlid-i sang Mursyid, sebelum landasan keilmuannya kokoh. Tergesa-gesa
menapak ke jenjang thariqot, hakikat & ma'rifat, sebelum landasan
syari'atnya mantap.

Duduk perkaranya gimana sih?
Kata kuncinya sebenarnya terletak di perbedaan antara HADITS dengan SUNNAH.
Untuk diketahui, Rasulullah Muhammad saw sebenarnya menyuruh kita untuk
mengikuti SUNNAHnya. Bukan HADITS.
Lho... bedanya dimana?
Saya lihat itu beda sekali. Dalam struktur pemahaman yang berkembang di
masyarakat saat ini, hadits adalah potongan-potongan kecil dari sunnah
rasul. Namanya potongan-potongan, masih seperti puzzle. Harus disusun
sehingga membentuk suatu gambaran lengkap. Dan sering, setelah gambaran
lengkap itu hadir, konteksnya beda sekali dengan potongan-potongan kecil
itu kalau dibaca terpisah-pisah.
Untung kalau akhirnya gambaran sunnah Rasul bisa dilengkapi dari susunan
potongan-potongan hadits tsb. Bagaimana kalau nggak kunjung terbentuk
gambarnya, karena gagal menyusun. Mungkin karena ada potongan-potongan
hadits yang hilang, entah karena di marfu'-kan, di mauquf-kan, di
dhaif-kan, dsb. Atau mungkin juga karena potongan hadits tsb, adanya di
kelompok lain (syi'ah misalnya---Mas Ali kan pernah bercerita ke saya,
bahwa 1 hadits di syiah, sering merupakan kumpulan sejumlah hadits sunni).
Kegagalan inilah, yang kemudian memunculkan pemahaman-pemahaman agama yang
parsial. Sehingga muncullah ikhtilaf, baik di masalah furu' (seperti
masalah qunut) maupun di masalah ushul. Padahal, sebenarnya, kalaulah
setiap orang itu mampu membentuk gambaran sunnah rasul, saya yakin tidak
akan ada ikhtilaf.

Saya loncat sejenak ke Imam Ghazali. Coba kita perhatikan betapa
hadits-hadits yang digunakan beliau di kitabnya, banyak yang dhaif. Sampai
Al-Hafiz Al-Iraqi harus membuat takhrijul hadits khusus untuk Kitab Ihya
Ulumuddin. Padahal, masak sih beliau nggak tahu tentang ilmu mustholah
al-hadits dan metode pentakhrijannya? Wong beliau itu ulama mazhab Syafi'i
yang amat diakui keilmuannya. Ini terus jadi pertanyaan di benak saya,
sampai seorang salik bilang, bahwa hadits-hadits dhaif tsb beliau munculkan
karena beliau punya metode takhrij sendiri, yaitu dengan kasyf. :)
Imam Ghazali mengecek langsung ke Rasulullah secara ruhani, apakah hadits
ini memang berasal darinya. Lha.. kalau begitu kan bahaya kalau kita
membatasi diri dalam menyusun puzzle sunnah ini. Karena ada
potongan-potongan hadits yang tersembunyi. Akibatnya, gambaran sunnah kita
tak pernah utuh. Berabenya untuk melengkapi puzzle yang belum utuh itu,
kita paksakan kekosongannya diisi dengan pemikiran-pemikiran kita,
tafsiran-tafsiran kita, dsb. Sebagaimana terjemahan Al-Qur'an yang ada.  :)
 (Mas Rizki, saya jangan dimarahin lagi ya...).

Kembali ke masalah HADITS dan SUNNAH. Dari semua penjelasan di atas, saya
berkesimpulan bahwa sebenarnya kita diminta untuk mengikuti SUNNAH rasul
secara menyeluruh dan lengkap, bukannya potongan-potongan sunnah (HADITS).
Dan sunnah Rasulullah saw adalah AKHLAQNYA. Dan akhlaq beliau adalah
AL-QUR'AN (Sebagaimana hadit syang diriwayatkan oleh Aisyah ra).
Tidakkah kita melihat keterkaitan yang amat dalam antara AL-QUR'AN dan
SUNNAH rasulullah saw.?

Seorang salik, dituntut untuk mampu menangkap apa yang dimaksud dengan
SUNNAH tsb. Tapi karena dalam kehidupan seorang salik, SUNNAH amat identik
dengan AL-QUR'AN, jadilah ia seolah mengabaikan HADITS. Padahal, Who knows?

Mungkin seorang salik tidak bisa menghapal sekian ribu hadits, tapi ribuan
sunnah telah berlabuh dalam jiwanya. 
Mungkin seorang salik tidak bisa mengamalkan sekian ribu hadits ttg ibadah
makhdoh, tapi dalam kesehariannya telah mengalir sekian ribu bentuk
pengamalan hadits targhib wa tarhib (menyuruh kepada kebaikan dan mencegah
dari keburukan).
Mursyid kami bilang, bahwa fana yang yang penting adalah fana dalam
keseharian.

Pada akhirnya, kita memang harus menyusun puzzle kita sendiri. Mungkin ada
orang yang seluruh bagian puzzlenya berasal dari Al-Qur'an. Mungkin pula
ada yang berasal dari Al-Qur'an dan Al-Hadits. Mungkin pula ada yang dari
AL-Qur'an, AL-Hadits, Al-Injiil, At-Taurat, dan Bhagavad Gita. Dsb.
Yang penting, janganlah kita menyusun puzzle kita melalui hasil jiplakan
puzzle orang lain. Dijamin sesat.

Di mata saya sendiri saat ini, itu semua adalah Al-Qur'an juga. Sebagaimana
dinyatakan di QS. 16:89, "Kami menurunkan AL-Kitab kepadamu untuk
menjelaskan SEGALA SESUATU".

Wallahu'alam

Wassalamu'alaykum wr. wb.



----------
> From: Ali Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
> To: '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject: RE: [Tasawuf] RE: Kitabullah vs Kalamullah 
> Date: Thursday, February 11, 1999 7:09 AM
> 
> Assalaamu 'alaikum wr. wb.
> 
> >----------
> >From:        Abdullah Isa[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> 
> >Untuk itulah Rasulullah SAW berkata, yang selamat adalah yang berpegang
> >teguh kepada Al Qur'an dan Sunnahku (Lihat : Bukan Haditsku).
> 
> Saya memang tertarik pada hadist ini, karena saya pernah membaca study
> tentang hadist ini. Mungkin pada kesempatan lain saya akan membahasnya. 
> 
> >Hadits kedudukannya bagi orang yang bertemu diri, sebagai alat untuk
> >menjelaskan permasalahan kepada mereka (yang awam) tentang Islam.
> 
> Berarti apa yang saya khawatirkan memang terjadi, bahwa pada pejalan
> thareqat ada kecenderungan untuk mengabaikan hadist (?). Hadist hanya
> untuk memberi penjelasan kepada yang awam (?). Bagi ybs cukup AlQuran
> sebagai pegangan + Jiwa Muthmainnah yang memberikan petunjuk.
> 
> Sebelumnya maaf jika pertanyaan saya jadi terlalu jauh. Saya jadi ingin
> tahu, Bagaimana kedudukan Nabi Muhammad SAAW bagi seorang yang telah
> bertemu diri tsb jika hadistnya sudah tak berguna lagi bagi dirinya
> karena sudah ada jiwa Muthmainnah? Barangkali pada saat itu Muhammad
> SAAW sendiri yang akan membantu ybs menuju kepada Allah SWT. saya masih
> ragu apakah Jiwa Muthmainnah itu jauh lebih berharga dari pada Hadist
> itu sendiri? 
> 
> (Sebetulnya jauh di lubuk hati saya, mengatakan bahwa mungkin saya tidak
> mampu menggapai Allah SWT tapi saya mungkin mampu menggapai Muhammad
> SAAW sebagai hamba yang dikasihi-Nya)
> 
> Sebenarnya bagaimanakah untuk menuju kepada Allah SWT bagi seorang
> pejalan tharekat, apakah langsung kepada Allah SWT, ataukah Allah SWT
> via Mursyid, ataukah Allah SWT via Muhammad SAAW via Mursyid ataukah
> Allah SWT via Muhammad SAAW via Ahlulbaitnya via Mursyid. Atau
> jangan-jangan untuk menuju Allah SWT jalannya sangat panjang seperti
> yang kita baca dalam attahiyyat sholat sehari-hari jadi ALLAH
> (syahadat)<-- MUHAMMAD (syahadat+sholawat+salam)<-- AHLULBAIT
> (sholawat+salam) <--- NABI-NABI (salam) <--- DIRI KITA (salam) <--HAMBA
> YANG SHALIHIN (salam).
> >
> Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
> >
> >---------------------------------------------------------------------
> >Daftar Keanggotaa, e-mail (kosong) : [EMAIL PROTECTED]
> >Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> >Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> >Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> >
> >
> >
> >
> >
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaa, e-mail (kosong) : [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 
> 
> 

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke