Assalaamu 'Alaikum wr. wb.

Ali Abidin wrote:

> Saya sebetulnya sangat curiga dengan tawaran Pak Sunarman untuk
> mengasosiasikan terminologi Nasrani dengan terminologi Islam. Menurut
> saya ada perangkap yang berbahaya di dalamnya. Saya melihat bahwa asumsi
> dasar dari asosiasi ini adalah pemahaman nasrani pada saat ini bahwa
> Yesus itu anak Tuhan. Sehingga Anak Tuhan sejajar dengan Al-Quran,
> Muhammad yang belajar dari Quran sejajar dengan hawariyyun yang belajar
> dari Yesus, Injil yang merupakan perkataan Hawariyyun sejajar dengan
> hadist yang merupakan perkataan Muhammad. Simple tapi menjerumuskan.
> 
> Apakah menurut pak Sunarman, memang demikianlah hendaknya umat islam
> memandang kitab Injil, hawariyyun dan Yesus?

Tidak. Terminologi Nasrani harus dipahami dengan kacamata Nasrani,
dan terminologi Islam harus dipandang dengan paradigma Islam. Kalau
kita mencoba memahami istilah 'anak Tuhan' dengan kacamata Islam,
bisa kacau jadinya. Sebaliknya, istilah 'hamba Allah' tidak akan
bisa dimengerti dengan kacamata Nasrani. Anda akan mudah masuk
'perangkap yang berbahaya' itu bila tidak berganti paradigma ketika
menggunakan terminologi Nasrani.

Setahu saya, asumsi orang yang menyejajarkan Yesus dan dengan Al
Qur'an adalah keotentikannya. Perbuatan dan ucapan Yesus merupakan
firman Allah yang otentik, demikian pula Al Qur'an. dengan
menggunakan paradigma orang itu, saya pikir penyejajaran ini masuk
akal. Dalam hal ini, kita malah punya kelebihan: Yesus telah tiada,
tetapi Al Qur'an masih utuh.

Dalam pandangan saya, anda tidak adil ketika berkata "Injil yang
merupakan perkataan Hawariyyun sejajar dengan hadist yang merupakan
perkataan Muhammad." Supaya lebih adil, mungkin harus dikatakan
begini:
- Injil adalah perkataan dan perbuatan Yesus yang diceritakan para 
  hawariyyun;
- Hadits asalah perkataan dan perbuatan Muhammad yang diceritakan 
  para sahabat dan orang-orang yang dekat.

Demikian pula, asumsi yang menyejajarkan Muhamamd dengan para
hawariyyun hanyalah semata-mata karena fungsinya sebagai rasul;
tidak dalam hal-hal lain. Kalau aspek-aspek lain diikutkan, maka
penyejajaran itu tidak berlaku lagi.

> Nah, Figur Paulus ini memang teka-teki yang sangat membingungkan buat
> saya. Barangkali pak Sunarman bisa bercerita tentang figur Paulus ini?
> Konon sebelum menjadi pendakwah ajaran Nasrani, ybs malah dikenal
> sebagai pembantai pengikut isa (benarkah?). Beliau juga memang tidak
> pernah bertemu secara fisik dengan Yesus. Beliau juga malah penulis
> terbanyak dari Injil. Beliau juga banyak mempermudah pelaksanaan ajaran
> Nasrani bagi pengikutnya (dengan mencabut semua larangan & kewajiban
> bagi bani israil seperti larangan makan babi, perintah sunat penis,
> larangan hari sabat dll).

Konon, Paulus adalah orang yang sangat kecewa dengan pemahaman para
pengikut Nabi Isa pada zamannya, sehingga ia sangat membenci mereka.
Atas dasar kekecewaan itulah ia membelot dan menciptakan agama baru
yang bernama Nasrani atau Kristen. Jadi pendiri agama Kristen adalah
Paulus, bukan Nabi Isa. Di dalam Perjanjian Baru, tulisan Paulus
lebih dominan dari ajaran Nabi Isa sendiri. Paulus mengambil
berbagai ajaran nabi Isa, lalu menggabungkannya dengan hasil
karyanya sendiri untuk menghasilkan warna baru yang lebih 'fanatik'.
Kenyataannya, memang fanastisme kaku dengan slogan 'Tiada
keselamatan di luar Gereja' dan 'Seseorang tidak akan dapat mencapai
Allah kecuali melalui aku [Yesus]' telah menentukan keberhasilan
Kristen dalam menarik pengikut sehingga menjadi agama yang paling
banyak pengikutnya di dunia. Namun, sudah pasti, slogan ini
menimbulkan ketegangan dengan pemeluk agama-agama lain. Untung,
sekarang kalangan Gereja sudah lebih lunak sikapnya dalam hal itu.

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
RS



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke