>Ingat kita berada dalam system Allah (Sunatullah), kita bagian dari system
>itu, kita membawa misi dan peran di dalam system ini, jangan sekali-kali
>menolak atau menentang ketetapan system ini baik langsung maupun tidak
>langsung kalau kita ingin hidup damai dalam System Maha Harmoni ini.

Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Saya sudah rasa mau menyerah saja dalam mencoba memahami Konsep Misi
Hidup, dan itu berarti konsep ini akan menggantung lagi dan tidak bisa
masuk ke dalam kesatuan bangunan pikir yang ada.

Sebenarnya saya tidak sedang menanggapi hanya satu paragraph dari
tulisan pak Wargino, tapi karena menuruti permintaan pak Moderator untuk
tidak mencantumkan seluruh tulisan yang akan ditanggapi maka saya pilih
satu paragraf yang paling mencerminkan isi tulisan tsb.

Tulisan pak Wargino ini, sebagaimana tulisan pak Abu Furqon
menggambarkan manusia sebagai suatu komponen dalam suatu system canggih
alam semesta. Seluruh komponen dalam alam semesta digambarkan harus
tunduk patuh pada Sunnatullah. Saya setuju, tetapi harus ditambahkan
bahwa khusus manusia,  selain sebagai komponen dari Alam Semesta, ybs
bahkan mampu memanipulasi system ini agar membawa ybs pada keadaan yang
diinginkannya -- disitulah faktor Kehendak Bebas manusia. 

Jika seluruh benda di alam semesta ini berpasangan Laki-Perempuan,
Siang-Malam dst maka manusia tidak otomatis sebagian menjadi baik
sebagian menjadi buruk, atau sebagian menjadi pencopet dan sebagian
menjadi yang dicopet dst, bahkan manusia bisa memilih perannya. Saya
tidak mampu menerima adanya manusia yang diplot untuk menjadi pencopet
hanya agar ada manusia yang dicopet, atau manusia yang diplot menjadi
penjahat agar ada manusia yang menjadi pahlawan dst. 

Pada intinya yang ingin saya kemukakan adalah kedudukan manusia dalam
system semesta ini memang unik, karena disamping alih-alih terikat pada
hukum semesta maka manusia justru mampu memanipulasi system tsb. Jika
api di tangan monyet hanya akan membakar maka di tangan manusia api
dapat memiliki kegunaan yang bermacam-macam. 

Tentang misi hidup, saya mulai berpikir barangkali misi hidup ini hanya
diciptakan Allah SWT untuk figur-figur kunci dalam sejarah. Figur-figir
ini diperlukan sebagai wujud interfensi Allah SWT dalam system semesta
yang diciptakanNya. Figur ini adalah trigger yang akan membangkitkan
gelombang sebab-akibat berikutnya. Figur-figur ini adalah para Nabi,
para wali dan orang-orang suci lainnya. Dengan pemahaman seperti ini,
barangkali saya tidak perlu berharap adanya "misi hidup" yang sudah
diplot Allah bagi pencopet di kampung rambutan, karena mereka jelas
bukan figur kunci dalam sejarah. Sebagian besar manusia, bukanlah "aktor
utama" dalam karya sang Maha Sutradara, sehingga memang sebagian besar
manusia tidak perlu memiliki script misi hidup yang menjelaskan
perannya. Sebagian besar manusia adalah  cuman latar belakang yang buram
dalam karya film sang maha Sutradara.

Wallahu 'alam bishowab.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke