Assalamu'alaikum Wr. Wb
Pertama-tama saya mohon punten kepada Pak Nadri, mencoba menjelaskan
permasalahan Mirza Ghulam Ahmad dengan segala keterbatasan saya, walaupun
saya sendiri bukanlah pengikut jamaah Ahmadiyah. Dan saya mohon kepada
rekan-rekan untuk "terbuka" dan "jernih" memandang kasus ini, namun saya
kira akan dapat menyempurnakan konsepsi keimanan kita khususnya iman kepada
Rasul-rasul Allah.
Semoga dalam mendiskuiskan topik krusial ini, kita bersihkan niat kita untuk
hanya mencari kebenaran, bukan sekedar mau beradu argumen, hanya untuk
sekedar mengukuhkan siapa yang kalah dan siapa yang menang.
|1. Apakah Mirza Ghulam Ahmad yang anda maksud adalah Mirza Ghulam Ahmad
|yang mengatakan dirinya nabi setelah nabi SAW, al-Mahdi, dan semacam itu
|yang gerakannya kemudian dikenal oleh kalangan muslimin sebagai
|Ahmaadiyyah?
Benar sekali.
Namun saya tidak sependapat, kalau orang mengatakan ia mengaku Nabi atau
Imam Mahdi.
Ini harus diklarifikasi dahulu, apakah dia mengatakan dia adalah nabi atau
Rasulullah?
Juga perlu diperjelas dulu apakah ia mengatakan dia Imam Mahdi atau Mahdi
atau Al Mahdi?
Nah kalau ini sudah jelas, baru dapat kita diskusikan dengan jernih.
Karena berbeda antara Nabi dan Rasul.
Berbeda antara Imam Mahdi dengan Mahdi dengan Al Mahdi.
Dan sayangnya tidak banyak orang yang mengerti perbedaan tersebut secara
jernih. Termasuk juga saya sebelum datang pertolongan Allah untuk kejelasan
hal itu.
|2. Apakah sufi yang anda maksud adalah "sufi" yang dikenal dan "diakui"
|oleh sebagian orang Islam?
Benar sekali. Bahkan sangat diimani dengan ainul yakin oleh sufi-sufi
yang terang benderang imannya.
|3. "Berita langit" yang anda maksud itu apakah wahyu atau semacamnya yang
|Allah turunkan buat manusia melalui malaikat yang disucikan untuk menjadi
|syariat dan ketetapan buat manusia saat ini dan sesudahnya?
Menjawab permasalahan ini, agak sulit secara langsung.
Kita butuh mendiskusikan dahulu 2 hal ini, yaitu:
1. Kita mampu secara clear mendiskusikan point 1.
2. Kita mampu mengerti apa itu petunjuk (dalam kutipan ayat dan hadits yang
saya kumpulkan sangat menjelaskan hal ini).
Tidak akan ada syariat baru. Karena syariat (risalah) sudah tertutup dengan
hadirnya Rasulullah SAW.
Beliau hanya memperbaiki pemahaman ummat saat itu dan juga (mungkin) berguna
untuk sekarang (lihat janji Allah dalam sebuah hadits).
|4. Apakah "apriori" yang anda maksud adalah jika mengatakan "apa yang
|dibawa olehnya adalah kesesetan" meski telah diteliti dan ditelah dengan
|kajian naqliyah dan aqliyah?
Pengkajian naqliyah dan aqliyah yang objektif dan dibimbing Allah, akan
mampu melihat result sesungguhnya.
Banyak orang termasuk ulama-ulama yang menyesatkan Mirza Ghulam Ahmad
Rahimakumullah, karena alergi mendengar ia adalah Nabi.
Padahal apa benar ia mengaku Nabi? Tidakkah dirinya mengatakan ia Rasul
bukan mengatakan Nabi?
Kadang penerjemah bahkan pengikutnya (pun) tidak mengetahui perbedaan
ini.Keri
|5. Apakah ulama-ulama faqih dan ikhlas telah berlaku "apriori" dalam
|menilai "berita langit" tersebut karena menyelamatkan golongannya? Jika
|ya, bagaimana mungkin jumhur ulama menetapkan kesesatannya, dan
|menyatakan ajarannya sebagai "bukan islam, tetapi kalangan minoritas
|non-muslim"? Apakah kita menuduh mereka telah berlaku apriori hanya untuk
|membela golongannnya? Bagaimana jika golongan yang dibela tersebut adalah
|al-Jama`ah?
Banyak variabel untuk meninjau masalah ini.
Kalau hanya dengan variabel : Faqih, Ikhlas, dan Jumhur, mari coba kita
tinjau:
+ Faqih adalah ahli dalam wilayah ilmu syariat. Bukan ahli ilmu kalam
(Wilayah Tauhid) dan juga bukan ahli ilmu Tasawuf (Wilayah Ilmu Siir).
+ Ikhlas adanya didalam hati, tidak dapat kita lihat dengan mata hati kita
yang masih buta sekarang ini, apakah mereka benar-benar ikhlas atau tidak.
+ Jumhur, artinya sebagian besar. Kalau kita mencari kebenaran hanya dengan
variabel jumhur, jatuhnya (kalau dalam bahasa filsafat) kepada kebenaran
transendensi. Kebenaran akibat pandangan sebagian besar orang menganggap
benar.
Seperti Orang pakai bikini berjalan-jalan. Karena di pantai kuta orang
(kebanyakan) menganggap itu tempatnya, maka dikatakan benar. Tetapi kalau
berjalan-jalan di Alun-Alun Bandung maka dianggap salah.
Dengan tiga variabel tersebut, kurang representatif rasanya untuk meninjau
apakah Mirza Ghulam Ahmad sesat atau tidak.
|6. Jika emas melambangkan kebaikan dan kebenaran, hanya orang yang rugi
|yang mau mencampurnya dengan tinja. Wa laa talbisul-haqqa bil-bathil.
|Bukankah begitu?
Ana;ogi Pak Sunarman saya kira tidak mengarah kepada analogi tersebut.
Emas disini dianalogikan haqqa
Tapi tinja disini bukan dianalogikan bathil. Tetapi Tinja sebagai analogi
package, bungkus, cara penyampaian.
|7. Apakah kebenaran hanya diputuskan dengan mengatakan telah "bertemu
|diri", membawa "berita langit"? Sungguh, setiap orang dapat mengatakan
|"Saya telah bertemu diri dan sekarang saya membawa berita langit". Lantas
|apa bedanya dengan David Qoresh, The Children of God, dsb. Bukankah mereka
|juga mengaku "sufi" di kalanganm mereka (Nasrani)
Siapapun dapat mengatakan "saya bertemu diri"
Siapaun dapat mengatakan "saya rasul Allah"
Siapaun dapat mengatakan "saya beriman"
Namun orang-orang yang benar imannya tidak akan tertipu dengan sekedar
perkataan tersebut, karena ada tanda pada diri mereka:
... kamu melihat orang mu'min laki-laki dan perempuan sedang cahaya mereka
bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka ..." (QS. 57:12)
.... Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya
mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka... (QS. 66:8)
Wallahu'alam
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)