Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Setelah membaca debat dibawah ini,... Alhamdulillah saya diberi tambahan
pemahaman mengenai apa sebenarnya manfaat  yang akan saya peroleh dalam
mempelajari tasawuf nanti. Tapi ada satu yang belum jelas buat saya.
Sebelumnya perlu  pak 
sunarman ketahui bahwa saat ini keadaan saya seperti ini: "merasakan
'neraka' dalam hidup ini: hidup jauh dari ketenangan, ketenteraman dan
kedamaian hati; hidup diliputi rasa takut, cemas, marah, bingung,
ragu-ragu, jengkel, tidak puas, dengki,
dendam, benci dan jenis-jenis api neraka dunia yang lain". bedanya, rasa
itu ada karena saya belum menjalankan syariat dengan baik dan benar. 
Saya harap bapak bisa membantu saya untuk memilih yang terbaik supaya
saya tidak salah langkah. Maksud saya, apakah saya boleh ikut pengajian
tasawuf ataukah saya harus memahami syariat lebih sempurna dulu. Ilmu
syariat yang bagaimana yang akan menjadi modal saya untuk bertasawuf ?
Terima kasih.

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

> -----Original Message-----
> From: R. Sunarman [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: 11 March 1999 07:18
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      Re: [Tasawuf] Jangan lupa syariat.......?
> 
> Rozy Andrianto wrote:
> 
> > Anda memang patut iri, karena saya mulai dapat "memahami" Tasawuf
> Islam
> > dengan mengikuti film tersebut.
> 
> Memahami Islam melalui film Buddha???? 
> ������?�?oes���>>--&%$#@!&*^%$#@
> 
> > Namun pengertian saya tentang Tasawuf dengan melihat film itu ialah
> sebatas
> > bahwa, Tasawuf itu berisi perkataan, bimbingan  dari seorang yang
> suci,
> > sabar, berpengetahuan yang luas (mungkin Mursyid ??)tentang dunia
> dan
> > akhirat yang perkataannya itu membuat muridnya mengangguk-angguk,
> membuat
> > terpesona, tidak lain diakibatkan karena seorang guru itu mampu dan
> dapat
> > menerangkan sesuatu dengan indah, mempesona, dan masuk oleh logika.
> Apakah
> > benar demikian ??
> 
> TIDAK! Menurut saya, Anda keliru menempatkan fokus penglihatan anda
> pada film itu; anda pun keliru menempatkan fokus pandangan pada
> tasawuf Islam. Anda terbalik dalam menafsirkan mana bungkus, mana isi.
> 
> Inti ajaran yang hendak disampaikan ialah proses pencarian kitab suci,
> 
> yang dalam proses itu selalu banyak hambatan, baik dari luar maupun
> dari dalam diri sendiri (hawa nafsu).
> Perkataan "Berisi ialah kosong, kosong ialah berisi" merupakan dogma 
> yang harus dipahami dengan MENGALAMInya sendiri, bukan dengan sekedar
> menghafalnya. Yang lain-lain hanya hiasan cerita.
> 
> Tasawuf Islam pun intinya BUKAN indoktrinasi. Ajaran lisan hanyalah
> pengarahan, tetapi Kebenaran harus dipahami dengan cara MENGALAMI
> sendiri, bukan dengan sekedar mendengar atau membaca. Musuh di dalam
> dan di luar diri sendiri harus dikalahkan, bukan dengan kata-kata
> tetapi dengan perbuatan nyata. 
> Jadi persamaannya adalah: learning by experiencing.
>  
> > Nah sekarang bedanya ialah yang di film tersebut dasarnya hanya
> orang suci
> > tersebut (Ajaran Budha khan bukan bersumber dari Tuhan, tidak
> seperti Islam
> > dan Kristen). sedang Tasawuf Islam ialah orang suci + Ajaran Alloh.
> Apakah
> > begitu??
> 
> Kalau anda bermaksud mengatakan bahwa agama Buddha tidak mengenal
> konsep "Tuhan", anda benar. 
> Yang lain kurang signifikan untuk dibedakan.
>  
> > Kemudian apakah tidak timbul ketakutan (seperti yang saya tangkap
> dan ada
> > rekan lain) bahwa (maaf) orang suci tersebut atau orang-orang
> tasawuf
> > berusaha untuk menerangkan, menganalogikan, mengekspresikan ajaran
> Alloh
> > dengan bahasa tertentu yang diindah-indahkan secara berlebihan hanya
> supaya
> > ajaran Alloh itu dapat diintreprestasikan secara logis, ilmiah,
> bernalar,
> > berilmu, bermetodologis seperti penelitiannya seorang Doktor,
> sehingga
> > dapat diterima oleh manusia. Padahal dalam kenyataannya (maaf ini
> yang saya
> > tangkap, sehingga saya tidak mau ikut nyelam ke dalam laut..)
> keterangan
> > dari ajaran Alloh yang diinterprestasikan secara indah, bernalar,
> dan ilmiah
> > itu sedikit "bertentangan" dengan Ajaran Alloh (syariat)itu sendiri.
> 
> Inna lillahi wa inna ilaihi roji'uun.
> Saya turut berdukacita atas wafatnya objektivitas anda ketika anda
> mengambil kesimpulan di atas.
> 
> Karena anda berpendidikan lumayan (dari biodata anda), saya mohon agar
> anda mengemukakan argumentasi ilmiah yang menunjukkan bahwa tasawuf
> itu tidak ilmiah, bahwa tasawuf tidak dapat dibuktikan kebenarannya;
> artinya, kalau orang menjalani serangkaian prosedur tertentu dengan
> parameter yang terkontrol, hasilnya tak dapat dipastikan. Tegasnya,
> saya minta dibuktikan bahwa dengan menjalani prosedur latihan yang
> ditetapkan oleh seorang mursyid dan prosesnya dibimbing olehnya,
> seorang salik tidak mungkin "melihat" kebenaran yang hakiki. 
> 
> Beberkan argumentasi ilmiah anda di milis ini. Kalau anda berhasil
> lolos dalam prosedur ilmiah, insya Allah saya akan bantu anda
> menyebarluaskannya ke milis-milis dan homepage Islam di seluruh dunia.
> 
> Siapa tahu, dengan melihat thesis anda, tasawuf akan lenyap sehingga
> anda dikaruniai sorga.
> 
> Kalaupun anda enggan melakukan penelitian eksperimental sendiri,
> setidak-tidaknya anda dapat menggunakan hasil eksperimen orang lain.
> Saya dengar akhir-akhir ada proyek penelitian pengaruh pendidikan
> tasawuf terhadap perilaku penduduk di suatu lingkungan di Jawa Barat
> [lupa persisnya di mana, kapan dan oleh siapa].
> 
> Sementara ini saya hanya berpegang pada hipotesis bahwa anda belum
> memahami tasawuf itu apa. Anda menghadapinya dengan presupposisi dan
> antipati yang sangat kental sehingga obyektivitas anda sangat tipis.
> Dengan pendidikan akademis yang pernah anda lalui, tentu anda tahu
> bahwa agar suatu proyek penelitian dapat mengungkapkan fakta secara
> obyektif, segala subyektivitas harus dienyahkan. 
> Saya hanya mengingatkan saja, karena anda pasti sudah tahu hal itu.
> 
> Seandainya anda tahu bahwa setelah mencicipi rujak cingur atau nasi
> rawon yang sama, orang dapat cerita macam-macam mengenai rasanya,
> saking macam-macamnya sampai-sampai ada yang bertolak belakang, yang
> satu bilang kurang pedas sementara yang lain berkata terlalu pedas,
> yang satu ketagihan sementara yang lain kapok -- maka anda tidak perlu
> heran akan adanya ekspresi yang berlainan atau malah bertentangan 
> dalam melukiskan kesaksian terhadap suatu realita yang sama. Entah
> berapa kali orang sudah menulis penjelasan semacam ini di milis ini.
> 
> Di sinilah pentingnya, mengapa dalam tasawuf orang harus mengalami
> atau merasakan sendiri, yaitu supaya tidak tertipu oleh perkataan
> orang lain, supaya tidak bingung antara 'kurang pedas' dan 'terlalu
> pedas'. Kalau sudah mencicipi sendiri, apapun kata orang, apapun kata
> kitab-kitab, ia telah mengetahui bagaimana yang rasa yang sebenarnya.
> Tak aneh kalau di antara orang-orang yang berkata terlalu pedas dan
> kurang pedas itu, ada orang yang nylen�h berkata 'terlalu asin'.
> Berdosakah ia karena mengatakan apa yang nyata-nyata dialaminya?
> 
> Saya merasakan anda mendefinisikan syariat secara berbeda dari saya.
> Menurut anda, mana ajaran Islam yang merupakan syariat, dan mana yang
> dogma? Lalu apa makna kata syariat itu menurut anda? Ini perlu
> diklarifikasikan lebih dulu sebelum bita bicara mana yang bertentangan
> dengan apa yang anda sebut syariat itu. Anda juga perlu lebih spesifik
> dan tidak main gebyah-uyah dalam mempertentangkan syariat dengan
> thariqat, jika memang anda benar-benar ingin mencari kejelasan.
> 
> > Saya sendiri melihat bahwa dalam milis ini, ayat Qur`an dan Hadits
> sedikit
> > sekali, tetapi keterangannya buanyak sekali, terjelentreh dalam
> segala ilmu
> > pengetahuan, teknologi, ilmiah, analogi, dsb. Dan terus terang orang
> awam,
> > lulusan SD, mungkin malah malas membacanya, karena pengetahuan
> ilmiahnya
> > belum mencukupi.
> 
> Lalu, mengapa anda cuma ngritik doang?
> Dapatkah anda menyajikan KAJIAN TASAWUF yang lebih bermutu dari yang
> anda lihat di milis ini, bukan sekedar tulisan yang mencela? 
> [Kalau hanya masalah keislaman yang umum, tulis di milis lain saja].
> Saya senang anda di milis ini memainkan peran antagonis. Ini berguna
> bagi kita untuk berkaca diri. Tapi keluarkan jurus baru dong! Jangan
> yang itu-itu saja, karena mengenai hal ini kami sudah melakukan chek
> and recheck dan membenahi diri, termasuk pertanyaan anda di bawah ini
> yang sudah berkali-kali diajukan dan dijawab. Tetapi tak apalah kami
> jawab lagi dengan jawaban yang sama, itung-itung buat informasi bagi
> rekan-rekan yang baru masuk.
> 
> > Pertanyaan saya kemudian.
> > Apakah syariat masih belum cukup untuk menuju surga ??
> 
> Bagi orang yang mampu menjalankan syariat dengan benar, YA, CUKUP!
> Tetapi di masa sekarang ini, sangat sedikit orang yang mampu; shalat
> dengan khusyu' saja jarang yang bisa. Puasa hanya sekedar menahan
> lapar. Zakat diiringi dengan riya' atau pamrih. 
> 
> Karena merasa tidak mampu menjalankan syari'at dengan benar, 
> (shalat tidak bisa khusyu' dll.) maka saya melirik tasawuf agar
> syari'at dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya. Sekarang tidak ada
> perang suci seperti zaman Nabi sehingga sarana untuk membina
> keikhlasan dan keimanan kita tidak sama dengan zaman Nabi. Tasawuf-lah
> yang saya ketahui sebagai (bukan satu-satunya) penggantinya sekarang
> ini.
> 
> > Apakah orang harus mencapai tahapan bertasawuf untuk menuju surga??
> 
> Tidak harus (lihat jawaban di atas).
> 
> Kita perlu mempertimbangkan tasawuf sebagai jalan hidup apabila
> setelah menjalankan syariat dengan semaksimal kemampuan kita, kita
> tetap saja merasakan 'neraka' dalam hidup ini: hidup jauh dari
> ketenangan, ketenteraman dan kedamaian hati; hidup diliputi rasa
> takut, cemas, marah, bingung, ragu-ragu, jengkel, tidak puas, dengki,
> dendam, benci dan jenis-jenis api neraka dunia yang lain. Bila tanpa
> tasawuf anda sudah mampu mengatasi 'neraka dunia' itu, maka tasawuf
> tak ada lagi manfaatnya bagi anda. 
> 
> Dalam istilah HAMKA, tasawuf bertujuan untuk mencapai kebahagian hidup
> yang kekal. Jadi, kalau anda sudah bahagia, betul-betul bahagia, --
> tak perlulah mengikuti tasawuf.
> 
> > Apakah tasawuf yang tidak berhati-hati malah justru menyesatkan ke
> neraka ??
> 
> Bisa, dan sangat mungkin. 
> Karena itu diperlukan bimbingan seorang mursyid; orang yang telah
> terlebih dahulu melakukan eksperimen dan berhasil, dan berkompetensi
> untuk membimbing orang lain.
> 
> Wassalam,
> RS.
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong):
> [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 
> 
> 
> 

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke