R. Sunarman wrote:

>Memahami Islam melalui film Buddha????
>�����؆������Ю���--&%$#@!&*^%$#@


Jangan dihilangkan tasawufnya donk. Kan katanya tasawuf itu ada di Islam,
Kisten, Hindu, Budha, dsb.
Nah, dengan melihat film itu saya mulai lebih mengerti jalan pemikiran
tasawuf dan dalam hal yang kita bincangkan atau berhubungan dengan milis ini
ialah Islam. Dan saya tidak perlu tahu Islam melalui film Budha. Karena
kalau saya ingin tahu Islam , saya matikan TV dan saya buka Qur`an dan
Hadits

Coba kalau di tasawuf Islam, ayat Qur`an dan Hadits dihilangkan, syariat
tidak dipakai, maka isinya "mirip" film tersebut. Contohnya "Isi itu kosong
dan kosong itu isi", dan nasehat lainnya.

>TIDAK! Menurut saya, Anda keliru menempatkan fokus penglihatan anda
>pada film itu; anda pun keliru menempatkan fokus pandangan pada
>tasawuf Islam. Anda terbalik dalam menafsirkan mana bungkus, mana isi.
>Inti ajaran yang hendak disampaikan ialah proses pencarian kitab suci,
>yang dalam proses itu selalu banyak hambatan, baik dari luar maupun
>dari dalam diri sendiri (hawa nafsu).

Jangan masalah pencarian kitab suci donk yang dibandingkan, saya ngerti kok
rekan-rekan tasawuf di milis ini tidak sedang cari kitab suci ke barat. Dan
saya juga yakin kok disini tidak ada siluman Kerbau dan siluman Babi seperti
di film tersebut.

>Perkataan "Berisi ialah kosong, kosong ialah berisi" merupakan dogma
>yang harus dipahami dengan MENGALAMInya sendiri, bukan dengan sekedar
>menghafalnya. Yang lain-lain hanya hiasan cerita.
>Tasawuf Islam pun intinya BUKAN indoktrinasi. Ajaran lisan hanyalah
>pengarahan, tetapi Kebenaran harus dipahami dengan cara MENGALAMI
>sendiri, bukan dengan sekedar mendengar atau membaca. Musuh di dalam
>dan di luar diri sendiri harus dikalahkan, bukan dengan kata-kata
>tetapi dengan perbuatan nyata.
>Jadi persamaannya adalah: learning by experiencing.


Bukankah di film itu juga begitu. Si guru dan muridnya berkelana mencari
kitab suci ke Barat, kemudian mendapat rintangan hambatan, kemudian minta
nasehat, atau kadang langsung nasehat berkenaan dengan apa yang dialami.
Bukankah ini "langsung mengalami". Maaf kalau penangkapan saya salah.

>Inna lillahi wa inna ilaihi roji'uun.
>Saya turut berdukacita atas wafatnya objektivitas anda ketika anda
>mengambil kesimpulan di atas.
>Karena anda berpendidikan lumayan (dari biodata anda), saya mohon agar
>anda mengemukakan argumentasi ilmiah yang menunjukkan bahwa tasawuf
>itu tidak ilmiah, bahwa tasawuf tidak dapat dibuktikan kebenarannya;
>artinya, kalau orang menjalani serangkaian prosedur tertentu dengan
>parameter yang terkontrol, hasilnya tak dapat dipastikan. Tegasnya,
>saya minta dibuktikan bahwa dengan menjalani prosedur latihan yang
>ditetapkan oleh seorang mursyid dan prosesnya dibimbing olehnya,
>seorang salik tidak mungkin "melihat" kebenaran yang hakiki.
>Beberkan argumentasi ilmiah anda di milis ini. Kalau anda berhasil
>lolos dalam prosedur ilmiah, insya Allah saya akan bantu anda
>menyebarluaskannya ke milis-milis dan homepage Islam di seluruh dunia.
>Siapa tahu, dengan melihat thesis anda, tasawuf akan lenyap sehingga
>anda dikaruniai sorga.


Nah, inilah yang saya maksud. Harus ilmiah !! Apakah kita dapat
meng-ilmiah-kan / me-logika-kan / me- metodologi-kan semua ajaran Alloh.
Bukankah ajaran Alloh itu bila kita tulis dengan seluruh air laut di bumi
ini sebagai tintanya masih kurang. Apakah mursyid dalam tasawuf itu sudah
terjamin bahwa pengetahuannya sudah melebihi atau sama dengan ajaran Alloh,
sehingga dapat meng-ilmiah-kan semua ajaran Alloh??

Sebagai contoh ekstrim ayat Alif lam mim, kan tidak ada yang tahu artinya
kecuali Alloh. Bukankah kita sebagai muslim diperintah supaya beriman. Apa
beriman itu, iman ialah percaya. Bagaimana kepercayaan itu, kepercayaan itu
dalam arti kita harus percaya TITIK, THAT`S ALL, FINISH. Tidak peduli ilmu
kita sudah mencapainya atau tidak, kita harus percaya. Memang dengan dapat
mengetahui asal-usul, sebab, arti, makna dan sebagainya itu dapat membuat
kita lebih khusuk. Nah, apakah keterangan-keterangan itu sudah sesuai dengan
apa yang dimaksud Alloh?? Bukankah lebih aman keterangan-keterangan itu
dicari dari Nabi Muhammad melalui hadits, dimana Nabi menerima keterangan
langsung dari Alloh melalui Malaikat Jibril.

Mungkin anda menjawab, Lho silsilah tasawuf langsung berhubungan dengan
Nabi. Jadi apa yang diajarkan sesuai dengan Nabi. Namun rekan-rekan disini
masih belum jawab tentang silsilah thareqot dimana ditengah-tengahnya
sanadnya terputus, dimana antara guru yang satu dengan muridnya, terpisah
kehidupannya. Terus dijawab tersambung melalui roh. Apakah ini ilmiah??


>Sementara ini saya hanya berpegang pada hipotesis bahwa anda belum
>memahami tasawuf itu apa. Anda menghadapinya dengan presupposisi dan
>antipati yang sangat kental sehingga obyektivitas anda sangat tipis.
>Dengan pendidikan akademis yang pernah anda lalui, tentu anda tahu
>bahwa agar suatu proyek penelitian dapat mengungkapkan fakta secara
>obyektif, segala subyektivitas harus dienyahkan.
>Saya hanya mengingatkan saja, karena anda pasti sudah tahu hal itu.


Memang anda benar, dan saya berusaha untuk itu. Maka itu saya berkata
tentang tasawuf di milis ini, bukan di Isnet atau lainnya. Tidak fair donk
saya "ngritik" tasawuf tidak pada orang yang mengetahui tasawuf.


>Lalu, mengapa anda cuma ngritik doang?
>Dapatkah anda menyajikan KAJIAN TASAWUF yang lebih bermutu dari yang
>anda lihat di milis ini, bukan sekedar tulisan yang mencela?
>[Kalau hanya masalah keislaman yang umum, tulis di milis lain saja].

Lho saya khan bukan orang tasawuf, jadi saya tidak bisa donk nulis kajian
Tasawuf.

>Saya senang anda di milis ini memainkan peran antagonis. Ini berguna
>bagi kita untuk berkaca diri. Tapi keluarkan jurus baru dong! Jangan
>yang itu-itu saja, karena mengenai hal ini kami sudah melakukan chek
>and recheck dan membenahi diri, termasuk pertanyaan anda di bawah ini
>yang sudah berkali-kali diajukan dan dijawab. Tetapi tak apalah kami
>jawab lagi dengan jawaban yang sama, itung-itung buat informasi bagi
>rekan-rekan yang baru masuk.


Thanks kritiknya, Insya ALloh saya berusaha keluarkan jurus baru. Masih cari
nich.

>Bagi orang yang mampu menjalankan syariat dengan benar, YA, CUKUP!
>Tetapi di masa sekarang ini, sangat sedikit orang yang mampu; shalat
>dengan khusyu' saja jarang yang bisa. Puasa hanya sekedar menahan
>lapar. Zakat diiringi dengan riya' atau pamrih.


Nah, anda sendiri yang jawab. CUKUP. Jadi syariat yang benar sudah
segalanya. Yang tidak cukup ialah yang belum mempelajari Qur`an dan Hadits
secara benar. Bila pelajari benar, muslim sudah tahu puasa bukan hanya tidak
makan minum, zakat harus iklas dan sebagainya Bagaimana iklas itu, nabi
menjawab dalam haditsnya, dll.

>Karena merasa tidak mampu menjalankan syari'at dengan benar,
>(shalat tidak bisa khusyu' dll.)

Cara sholat khusyu` di hadits juga ada..


Maafkan tulisan saya
Rozy



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke