-----Original Message----- From: Rozy Andrianto [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Thursday, March 11, 1999 9:16 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [Tasawuf] Jangan lupa syariat.......? Coba kalau di tasawuf Islam, ayat Qur`an dan Hadits dihilangkan, syariat tidak dipakai, Apakah ini baru merupakan hipotesis, atau sudah penilaian final yang tak diubah lagi? Kalau masih hipotesis, kita masih bisa bersama-sama mengujinya, tapi kalau sudah final, ya silakan saja meyakini kesimpulan anda. Saya tidak melihatnya demikian. Jangan masalah pencarian kitab suci donk yang dibandingkan, saya ngerti kok rekan-rekan tasawuf di milis ini tidak sedang cari kitab suci ke barat. Dan saya juga yakin kok disini tidak ada siluman Kerbau dan siluman Babi seperti di film tersebut. Tasawuf itu mencari 'kitab suci', mas! Kitab suci yang tidak bisa dibaca dengan panca-indera. Rasanya kok tokoh-tokoh siluman itu ada di antara kita. Saya sendiri memiliki karakter buruk seperti kera itu: gemar berantem dan mau menang sendiri. Nah, inilah yang saya maksud. Harus ilmiah !! Apakah kita dapat meng-ilmiah-kan / me-logika-kan / me- metodologi-kan semua ajaran Alloh. Bukankah ajaran Alloh itu bila kita tulis dengan seluruh air laut di bumi ini sebagai tintanya masih kurang. Apakah mursyid dalam tasawuf itu sudah terjamin bahwa pengetahuannya sudah melebihi atau sama dengan ajaran Alloh, sehingga dapat meng-ilmiah-kan semua ajaran Alloh?? Sebagai contoh ekstrim ayat Alif lam mim, kan tidak ada yang tahu artinya kecuali Alloh. Dalam tasawuf, Allah diyakini tidak lebih jauh dari urat leher kita sendiri, namun kita sendiri jauh dari-Nya. Kalau kita mendekat kepadanya, sebegitu dekat hingga derajat tertentu, kita akan ditulari ilmunya: setitik di antara lautan itu cukuplah sudah bagi kita. Metodologi yang kita sebut-sebut itu mengacu pada bagaimana cara kita mendekatkan diri hingga memperoleh setetes ilmu itu. Jadi bukan ilmu Allah sendiri yang diilmiahkan, tetapi prosedurnya. Fakta ilmu apapun, termasuk ilmu Allah, selama diperoleh melalui suatu metodologi yang jelas, ia disebut ilmiah. Bukankah kita sebagai muslim diperintah supaya beriman. Apa beriman itu, iman ialah percaya. Bagaimana kepercayaan itu, kepercayaan itu dalam arti kita harus percaya TITIK, THAT`S ALL, FINISH. Tidak peduli ilmu kita sudah mencapainya atau tidak, kita harus percaya. Memang dengan dapat mengetahui asal-usul, sebab, arti, makna dan sebagainya itu dapat membuat kita lebih khusuk. Nah, apakah keterangan-keterangan itu sudah sesuai dengan apa yang dimaksud Alloh?? Bukankah lebih aman keterangan-keterangan itu dicari dari Nabi Muhammad melalui hadits, dimana Nabi menerima keterangan langsung dari Alloh melalui Malaikat Jibril. Ya, lebih aman begitu bagi orang yang tidak menguasai metodologi tasawuf dan tidak berminat menjalankannya. Tetapi Allah menciptakan manusia selalu berpasangan: lelaki-perempuan, tampan-memble, tinggi-pendek, dermawan-pelit, dll, termasuk yang anti dan pro tasawuf. Bayangkan kalau lelaki dan perempuan itu selalu saling mengenyahkan dan merasa benar sendiri - bukankah runyam dunia ini. Begitu pula yang anti dan pro tasawuf, biarlah berjalan sendiri-sendiri menurut sunnatullah. Saling mengingatkan dengan cara yang haq; itulah mungkin yang terbaik. Dalam pandangan saya, tasawuf tidak akan merusak iman, tetapi justru akan mempertebal iman. Iman itu adalah percaya meskipun tidak melihat. Nah, kalau kita mula-mula meyakini melalui iman bahwa ada api yang panas, lalu kita mendekat ke api itu dan merasakan bagaimana jari kita dijilat api - maka hal ini sama sekali tidak merusak iman itu. Sebaliknya, pemahaman kita tentang api menjadi semakin luas, tidak hanya sebatas apa yang diceritakan orang. Demikianlah gambaran tasawuf. Neraka dan sorga bukan lagi gambaran dalam angan-angan, tetapi benar-benar dirasakan. Mungkin anda menjawab, Lho silsilah tasawuf langsung berhubungan dengan Nabi. Jadi apa yang diajarkan sesuai dengan Nabi. Namun rekan-rekan disini masih belum jawab tentang silsilah thareqot dimana ditengah-tengahnya sanadnya terputus, dimana antara guru yang satu dengan muridnya, terpisah kehidupannya. Terus dijawab tersambung melalui roh. Apakah ini ilmiah?? Tidak semua aliran tasawuf mengandalkan silsilah itu. Aliran saya sendiri termasuk tidak bertali silsilah dengan Nabi. Kuncinya sebenarnya terletak pada metodologi yang dipakai oleh tiap aliran. Apakah metode yang diterapkan telah terbukti membuahkan hasil dengan baik tanpa efek samping. Lho saya khan bukan orang tasawuf, jadi saya tidak bisa donk nulis kajian Tasawuf. Saya pernah mengingatkan seorang rekan. Tasawuf itu ibarat jalan raya. Okelah kalau anda berminat untuk ikut arus. Tapi kalau anda hanya berdiri di pinggir jalan, nonton kelakuan orang lewat, nguping apa yang mereka bicarakan, ini bisa berbahaya. Sebaiknya anda pulang ke rumah. Ikuti ajaran guru agama anda. Ini lebih aman. Nah, anda sendiri yang jawab. CUKUP. Jadi syariat yang benar sudah segalanya. Yang tidak cukup ialah yang belum mempelajari Qur`an dan Hadits secara benar. Bila pelajari benar, muslim sudah tahu puasa bukan hanya tidak makan minum, zakat harus iklas dan sebagainya Bagaimana iklas itu, nabi menjawab dalam haditsnya, dll. Cara sholat khusyu` di hadits juga ada.. Ya, benar. Masalahnya, kita perlu jujur: kita sudah bisa apa belum dalam khusyu, ikhlas, ridha dll. sesudah sekian lama? Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. RS
--------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
