Rozy Andrianto wrote:

> Anda memang patut iri, karena saya mulai dapat "memahami" Tasawuf Islam
> dengan mengikuti film tersebut.

Memahami Islam melalui film Buddha???? 
�����؆������Ю���--&%$#@!&*^%$#@

> Namun pengertian saya tentang Tasawuf dengan melihat film itu ialah sebatas
> bahwa, Tasawuf itu berisi perkataan, bimbingan  dari seorang yang suci,
> sabar, berpengetahuan yang luas (mungkin Mursyid ??)tentang dunia dan
> akhirat yang perkataannya itu membuat muridnya mengangguk-angguk, membuat
> terpesona, tidak lain diakibatkan karena seorang guru itu mampu dan dapat
> menerangkan sesuatu dengan indah, mempesona, dan masuk oleh logika. Apakah
> benar demikian ??

TIDAK! Menurut saya, Anda keliru menempatkan fokus penglihatan anda
pada film itu; anda pun keliru menempatkan fokus pandangan pada
tasawuf Islam. Anda terbalik dalam menafsirkan mana bungkus, mana isi.

Inti ajaran yang hendak disampaikan ialah proses pencarian kitab suci, 
yang dalam proses itu selalu banyak hambatan, baik dari luar maupun
dari dalam diri sendiri (hawa nafsu).
Perkataan "Berisi ialah kosong, kosong ialah berisi" merupakan dogma 
yang harus dipahami dengan MENGALAMInya sendiri, bukan dengan sekedar
menghafalnya. Yang lain-lain hanya hiasan cerita.

Tasawuf Islam pun intinya BUKAN indoktrinasi. Ajaran lisan hanyalah
pengarahan, tetapi Kebenaran harus dipahami dengan cara MENGALAMI
sendiri, bukan dengan sekedar mendengar atau membaca. Musuh di dalam
dan di luar diri sendiri harus dikalahkan, bukan dengan kata-kata
tetapi dengan perbuatan nyata. 
Jadi persamaannya adalah: learning by experiencing.
 
> Nah sekarang bedanya ialah yang di film tersebut dasarnya hanya orang suci
> tersebut (Ajaran Budha khan bukan bersumber dari Tuhan, tidak seperti Islam
> dan Kristen). sedang Tasawuf Islam ialah orang suci + Ajaran Alloh. Apakah
> begitu??

Kalau anda bermaksud mengatakan bahwa agama Buddha tidak mengenal
konsep "Tuhan", anda benar. 
Yang lain kurang signifikan untuk dibedakan.
 
> Kemudian apakah tidak timbul ketakutan (seperti yang saya tangkap dan ada
> rekan lain) bahwa (maaf) orang suci tersebut atau orang-orang tasawuf
> berusaha untuk menerangkan, menganalogikan, mengekspresikan ajaran Alloh
> dengan bahasa tertentu yang diindah-indahkan secara berlebihan hanya supaya
> ajaran Alloh itu dapat diintreprestasikan secara logis, ilmiah, bernalar,
> berilmu, bermetodologis seperti penelitiannya seorang Doktor,  sehingga
> dapat diterima oleh manusia. Padahal dalam kenyataannya (maaf ini yang saya
> tangkap, sehingga saya tidak mau ikut nyelam ke dalam laut..) keterangan
> dari ajaran Alloh yang diinterprestasikan secara indah, bernalar, dan ilmiah
> itu sedikit "bertentangan" dengan Ajaran Alloh (syariat)itu sendiri.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji'uun.
Saya turut berdukacita atas wafatnya objektivitas anda ketika anda
mengambil kesimpulan di atas.

Karena anda berpendidikan lumayan (dari biodata anda), saya mohon agar
anda mengemukakan argumentasi ilmiah yang menunjukkan bahwa tasawuf
itu tidak ilmiah, bahwa tasawuf tidak dapat dibuktikan kebenarannya;
artinya, kalau orang menjalani serangkaian prosedur tertentu dengan
parameter yang terkontrol, hasilnya tak dapat dipastikan. Tegasnya,
saya minta dibuktikan bahwa dengan menjalani prosedur latihan yang
ditetapkan oleh seorang mursyid dan prosesnya dibimbing olehnya,
seorang salik tidak mungkin "melihat" kebenaran yang hakiki. 

Beberkan argumentasi ilmiah anda di milis ini. Kalau anda berhasil
lolos dalam prosedur ilmiah, insya Allah saya akan bantu anda
menyebarluaskannya ke milis-milis dan homepage Islam di seluruh dunia. 
Siapa tahu, dengan melihat thesis anda, tasawuf akan lenyap sehingga
anda dikaruniai sorga.

Kalaupun anda enggan melakukan penelitian eksperimental sendiri,
setidak-tidaknya anda dapat menggunakan hasil eksperimen orang lain.
Saya dengar akhir-akhir ada proyek penelitian pengaruh pendidikan
tasawuf terhadap perilaku penduduk di suatu lingkungan di Jawa Barat
[lupa persisnya di mana, kapan dan oleh siapa].

Sementara ini saya hanya berpegang pada hipotesis bahwa anda belum
memahami tasawuf itu apa. Anda menghadapinya dengan presupposisi dan
antipati yang sangat kental sehingga obyektivitas anda sangat tipis.
Dengan pendidikan akademis yang pernah anda lalui, tentu anda tahu
bahwa agar suatu proyek penelitian dapat mengungkapkan fakta secara
obyektif, segala subyektivitas harus dienyahkan. 
Saya hanya mengingatkan saja, karena anda pasti sudah tahu hal itu.

Seandainya anda tahu bahwa setelah mencicipi rujak cingur atau nasi
rawon yang sama, orang dapat cerita macam-macam mengenai rasanya,
saking macam-macamnya sampai-sampai ada yang bertolak belakang, yang
satu bilang kurang pedas sementara yang lain berkata terlalu pedas,
yang satu ketagihan sementara yang lain kapok -- maka anda tidak perlu
heran akan adanya ekspresi yang berlainan atau malah bertentangan 
dalam melukiskan kesaksian terhadap suatu realita yang sama. Entah
berapa kali orang sudah menulis penjelasan semacam ini di milis ini.

Di sinilah pentingnya, mengapa dalam tasawuf orang harus mengalami
atau merasakan sendiri, yaitu supaya tidak tertipu oleh perkataan
orang lain, supaya tidak bingung antara 'kurang pedas' dan 'terlalu
pedas'. Kalau sudah mencicipi sendiri, apapun kata orang, apapun kata
kitab-kitab, ia telah mengetahui bagaimana yang rasa yang sebenarnya.
Tak aneh kalau di antara orang-orang yang berkata terlalu pedas dan
kurang pedas itu, ada orang yang nylen�h berkata 'terlalu asin'.
Berdosakah ia karena mengatakan apa yang nyata-nyata dialaminya?

Saya merasakan anda mendefinisikan syariat secara berbeda dari saya.
Menurut anda, mana ajaran Islam yang merupakan syariat, dan mana yang
dogma? Lalu apa makna kata syariat itu menurut anda? Ini perlu
diklarifikasikan lebih dulu sebelum bita bicara mana yang bertentangan
dengan apa yang anda sebut syariat itu. Anda juga perlu lebih spesifik
dan tidak main gebyah-uyah dalam mempertentangkan syariat dengan
thariqat, jika memang anda benar-benar ingin mencari kejelasan.

> Saya sendiri melihat bahwa dalam milis ini, ayat Qur`an dan Hadits sedikit
> sekali, tetapi keterangannya buanyak sekali, terjelentreh dalam segala ilmu
> pengetahuan, teknologi, ilmiah, analogi, dsb. Dan terus terang orang awam,
> lulusan SD, mungkin malah malas membacanya, karena pengetahuan ilmiahnya
> belum mencukupi.

Lalu, mengapa anda cuma ngritik doang?
Dapatkah anda menyajikan KAJIAN TASAWUF yang lebih bermutu dari yang
anda lihat di milis ini, bukan sekedar tulisan yang mencela? 
[Kalau hanya masalah keislaman yang umum, tulis di milis lain saja].
Saya senang anda di milis ini memainkan peran antagonis. Ini berguna
bagi kita untuk berkaca diri. Tapi keluarkan jurus baru dong! Jangan
yang itu-itu saja, karena mengenai hal ini kami sudah melakukan chek
and recheck dan membenahi diri, termasuk pertanyaan anda di bawah ini
yang sudah berkali-kali diajukan dan dijawab. Tetapi tak apalah kami
jawab lagi dengan jawaban yang sama, itung-itung buat informasi bagi
rekan-rekan yang baru masuk.

> Pertanyaan saya kemudian.
> Apakah syariat masih belum cukup untuk menuju surga ??

Bagi orang yang mampu menjalankan syariat dengan benar, YA, CUKUP!
Tetapi di masa sekarang ini, sangat sedikit orang yang mampu; shalat
dengan khusyu' saja jarang yang bisa. Puasa hanya sekedar menahan
lapar. Zakat diiringi dengan riya' atau pamrih. 

Karena merasa tidak mampu menjalankan syari'at dengan benar, 
(shalat tidak bisa khusyu' dll.) maka saya melirik tasawuf agar
syari'at dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya. Sekarang tidak ada
perang suci seperti zaman Nabi sehingga sarana untuk membina
keikhlasan dan keimanan kita tidak sama dengan zaman Nabi. Tasawuf-lah
yang saya ketahui sebagai (bukan satu-satunya) penggantinya sekarang
ini.

> Apakah orang harus mencapai tahapan bertasawuf untuk menuju surga??

Tidak harus (lihat jawaban di atas).

Kita perlu mempertimbangkan tasawuf sebagai jalan hidup apabila
setelah menjalankan syariat dengan semaksimal kemampuan kita, kita
tetap saja merasakan 'neraka' dalam hidup ini: hidup jauh dari
ketenangan, ketenteraman dan kedamaian hati; hidup diliputi rasa
takut, cemas, marah, bingung, ragu-ragu, jengkel, tidak puas, dengki,
dendam, benci dan jenis-jenis api neraka dunia yang lain. Bila tanpa
tasawuf anda sudah mampu mengatasi 'neraka dunia' itu, maka tasawuf
tak ada lagi manfaatnya bagi anda. 

Dalam istilah HAMKA, tasawuf bertujuan untuk mencapai kebahagian hidup
yang kekal. Jadi, kalau anda sudah bahagia, betul-betul bahagia, --
tak perlulah mengikuti tasawuf.

> Apakah tasawuf yang tidak berhati-hati malah justru menyesatkan ke neraka ??

Bisa, dan sangat mungkin. 
Karena itu diperlukan bimbingan seorang mursyid; orang yang telah
terlebih dahulu melakukan eksperimen dan berhasil, dan berkompetensi
untuk membimbing orang lain.

Wassalam,
RS.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke