Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Maaf, kalau saya salah persepsi nih...

Saya tidak pernah mau mengosongkan botol saya, lha kan susah-payah kita
mengisi bertahun-tahun masa' harus dibuang semuanya? Kadang memang harus
dibuang sebagian yang tak berguna tetapi tidak mungkin kita mengosongkan
seluruh botol.

Paling-paling sih meluaskan botolnya biar bisa diisi lagi....
terus-menerus meluaskan botolnya sampai kapasitas maksimal, ketika
meluaskan botol barangkali kita sekaligus menciptakan tekanan negatif
sehingga isi di luar bisa masuk ke dalam botol.

Untuk bisa meluaskan botol caranya ya harus menerima bahwa mungkin yang
di luar pengetahuan kita adalah kebenaran juga. Untuk mampu membuang
sebagian isi botol maka kita harus siap bahwa pengetahuan kita mungkin
salah. Tapi tidak mungkin rasanya mengosongkan seluruh botol, kecuali
kita yakin bahwa semua pemahaman kita adalah salah semata-mata.

Jadi menurut saya yang penting bukan 'MENGOSONGKAN BOTOL' melainkan
'MELUASKAN BOTOL'  ....hehehe....
Jadi saya memandang sholat itu bukan 'Mengosongkan Botol' tetapi
'Meluaskan Botol' :-)

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.

>----------
>From:  R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent:  Thursday, 18 March 1999 7:36
>To:    [EMAIL PROTECTED]
>Subject:       Re: [Tasawuf] Apa itu KOSONG / ISI ? - was [BOTOL KOSONG]
>
>Assalamualaikum ww,
>
>Analogi itu kan tidak bisa tepat dalam semua aspek. Apalagi analoginya
>manusia, wong Qur'an saja kalau menerangkan sesuatu dengan analogi,
>analogi itu hanya terbatas pada satu aspek saja. Karena itu, kalau
>analogi botol kosong diperluas lagi dengan botol kotor yang perlu
>dicuci, atau dengan botol yang berlapis-lapis, tampaknya sudah meleset
>dari tujuan semula.
>
>Mungkin ada manfaatnya saya menjelaskan pandangan saya pribadi
>mengenai ungkapan botol kosong. Mbak Yani mempersamakan botol kosong
>ini dengan bayi yang baru lahir. Ini tepat sekali, tetapi di mana
>persamaannya? Keduanya menggambarkan keadaan siap diisi. Apakah kita
>semua dalam keadaan mirip botol kosong atau bayi yang baru lahir?
>Tidak! Keadaan itu sulit dicapai dalam posisi kita sekarang, tetapi
>keadaan itu pulalah yang harus selalu kita upayakan agar kita
>memperoleh isi.
>
>"Kosong ialah berisi, berisi ialah kosong" mempunyai pengertian yang
>mendalam. Agar dapat berisi, kita harus kosong; tetapi kalau sudah
>berisi harus dikosongkan lagi agar dapat diisi lagi. Begitulah
>pengosongan itu harus dilakukan secara terus-menerus, jangan sampai
>botol kita tampak berisi. Jadi, keadaan "botol sudah terisi" harus
>dihindari karena begitu botol itu berisi, tidak ada lagi yang diisikan
>lagi. Berbangga-bangga dengan "Botolku sudah penuh!" merupakan
>hambatan untuk menjadi 'berisi' dalam arti yang sesungguhnya.
>
>Yang dimaksud 'isi' adalah ilmu, pengetahuan. 'Berisi' berarti merasa
>berilmu, merasa tahu, tidak siap menerima ilmu yang baru. 'Kosong'
>bermakna merasa bodoh, merasa tidak tahu dan ingin tahu, sehingga siap
>menerima ilmu yang baru.
>
>Kalau botol kita hanya botol Coca-cola, apalagi botol itu sudah terisi
>penuh, padahal ilmu Allah itu lebih besar dari tujuh lautan, alangkah
>sedikitnya ilmu yang dapat kita peroleh.
>
>Shalat dapat dianggap sebagai simbolisasi pengosongan botol. Ucapan
>'Ihdinash shirathal mustaqim' perlu dilandasi dengan kekosongan. Pada
>saat kita bersujud, botol kita bukan hanya sudah kosong, tetapi juga
>harus vakum (bertekanan negatif) sehingga lebih bertenaga dalam
>menyerap ilmu Allah. [Membuka salah satu rahasia shalat, nih!]
>
>Bagaimana pandangan Anda?
>
>Wassalamu'alaikum wr wb,
>RS
>
>
>[EMAIL PROTECTED] wrote:
> 
>> Menarik sekali judul yang dilontarkan mas Reda ini. Sudah sedemikian
>> panjang diskusinya,tapi kok kesimpulan saya berbeda dengan yang
>> didiskusikan di sini ya..(mohon kesediaan rekan-rekan untuk meluruskan
>> pendapat saya ini mungkin salah).
>> 
>> Pendapat saya, selama kita masih berpikir dan berlogika dan mencari-
>> cari analogi... selama itu pulalah kita berisi tapi kosong.
>> 
>> Sebaliknya di saat kita bingung siapa saya dan siapa engkau...
>> disaat itulah kita kosong tapi berisi...
> 
> 
>Reda Adiyasa:
> 
>> SK Karim wrote:
>> >
>> > Assalamualaikum ww,
>> >
>> > Sangat menarik permasalahan yang Mas Reda lontarkan.
>> > Nampaknya dangkal, tapi sebenarnya sangat dalam.
>> > Bak laut yang dalam akan tampak biru dan tenang,
>> >
>> > Kalau menilik dari masalah yang dilontarkan, yang tampak "hampang" tapi
>> > "abot", tampaknya Mas Reda ini paling tidak sudah pada maqam tertentu di
>> > tasawuf. Nampak-nampaknya lontaran ini merupakan suatu umpan untuk
>> > masing-masing individu agar menyadar hal ini.
>> >
>> > Rasa-rasanya, jawaban dari BOTOL-KOSONG inilah merupakan jalan tasawuf
>> > yang harus dilalui untuk mengisi dan membersihkan botoltersebut.
>> > Maaf ini pendapat saya pribadi.
>> >
>> > Kalau boleh dimisalkan botol, maka ada dua botol. Yaitu botol-raga dan
>> > botol-jiwa.
>> > Sekali lagi ini, menurut pendapat saya, mohon koreksi.
>> >
>> > Tapi kedua botol ini tidak berdiri masing-masing, mereka merupakan
>> > satu-kesatuan yang saling interaksi.Jadi botol tersebut terdiri dari dau
>> > lapisan yaitu lapisan botol raga dan lapisan botol jiwa.
>> >
>> > Isi dari kedua lapis botol ini ada sesuatu mungkin saja hati.....?
>> >
>> > Uniknya botol ini,
>> > Dengan mengisi botol ini,............ maka sekaligus mencucinya.
>> >
>> > Memang uraian saya ini bukan menjawab permintaan Mas Reda, tapi saya
>> > hanya coba menggambarkan botol yang ada dalam angan Mas.
>> > Mudah-mudahan ada rekan lain yang akan menambah dan megoreksi.
>> >
>> > Wassalam
>> > SKK.
>> 
>> Ass wr. wb
>> 
>> Maaf Mas Karim Kalau saya boleh menambahkan, botol memang boleh dua dan
>> mungkin juga
>> berlapis-lapis, tapi Botol tetap botol yang kosong, seandainya ada yang
>> bisa melihat isi
>> itupun kebanyakan diam. dan yang banyak dibicarakan/dikupas ya botol-botol
>> dan isi masih
>> tetap didiamkan, sehingga banyak perdebatan, perselisian, pertengkaran
>> hanya berbicara
>> Botol-botol yang berlapis-lapis, tanpa menyentuk isi, sehingga botol masih
>> tetap kosong
>> tanpa isi.
>> 
>> wss
>> ra
>
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke