Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Ali Abidin wrote:
> Saya tidak pernah mau mengosongkan botol saya, lha kan susah-payah kita
> mengisi bertahun-tahun masa' harus dibuang semuanya?
[...]
> Paling-paling sih meluaskan botolnya biar bisa diisi lagi....
Seperti yang saya katakan, analogi botol ini tidak pas; terlalu
disederhanakan. Tubuh manusia itu sangat kompleks, tidak sesederhana
botol: di dalam manusia ada tubuh kasar, ada ruh, ada panca indera,
ada memori, ada pikiran dll.
'Mengosongkan' sama sekali bukan berarti menumpahkan (membuang,
menyia-nyiakan) segala ilmu yang telah kita peroleh. Ilmu itu ada
wadahnya sendiri yang menampung, yaitu sistem memori kita --
mirip-mirip sistem memori dalam komputer [lagi-lagi, analogi ini tidak
pas seluruhnya dan masih dengan penyederhanaan]. Pikiran kita mirip
dengan prosesor komputer; tugasnya berbeda dari sistem memori. Kalau
prosesor (pikiran) itu sedang sibuk, ia cenderung mengabaikan perintah
(input) apapun yang kita berikan, dan kalau kita memaksakan perintah
selagi ia sibuk, bisa-bisa komputer itu jadi "hang". Orang pun bisa
"hang" kalau pikirannya overloaded.
[Hati-hati, menjalani tariqat tanpa pembimbing dapat beresiko "hang"
jika belum mahir dalam teknik pengosongan pikiran].
Dengan analogi itu saya maksudkan, bila kita ingin agar pikiran kita
mampu menerima sesuatu input dan meng-execute-nya dengan benar, maka
beban pikiran itu harus diringankan, sebisa mungkin dikosongkan.
Kekosongan mutlak diperlukan agar pikiran kita mampu menerima petunjuk
atau ilmu dari Allah. Bukan hanya kekosongan di dalam pikiran, tetapi
penghalang masuknya sinyal agar tidak bias terdistorsi -- juga harus
dihilangkan. Di antara penghalang itu ialah prasangka, praduga,
menebak-nebak, a-priori, merasa tahu, merasa bisa, marah, curiga, iri,
dengki, dendam, benci, "cinta" atau suka [!!!], ...
Sekarang, apa hakikat shalat itu, kalau bukan upaya pengosongan
pikiran sambil bermohon "Ihdinash shirathal mustaqim"?
Bayangkan, bagaimana kita bisa menangkap petunjuk itu kalau petunjuk
itu datang ketika pikiran kita sibuk sendiri. Kalaupun pikiran kita
sudah kosong, atau bahkan vakum, tetapi di luar itu masih banyak
kotoran penghalang seperti tersebut di atas, sangatlah mungkin bahwa
yang masuk ke pikiran kita justru kotoran tadi.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)