Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Oh..... maksudnya mengosongkan pikiran ketika sholat ya, saya kira
mengosongkan pengetahuan apapun. Kalau begitu mungkin saya mau
mengosongkan pikiran saya waktu sholat :-). Masalahnya, mungkin saya
bisa berlatih untuk melupakan pikiran dari masalah sehari-hari ketika
sholat (meski bukan masalah yang mudah untuk itu), tapi bagaimana
mungkin pikiran saya bisa kosong waktu sholat sedangkan saya berusaha
memahami arti bacaan sholat?
Mohon pak Sunarman tidak pelit menerangkan.... (Jika latihan meditasi
pak Sunarman dulu maksudnya agar mampu mengosongkan pikiran maka
barangkali akan saya kerjakan).
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
>----------
>From: R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent: Friday, 19 March 1999 16:40
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [Tasawuf] Apa itu KOSONG / ISI ? - was [BOTOL KOSONG]
>
>Assalaamu 'alaikum wr. wb.
>
>Ali Abidin wrote:
>
>> Saya tidak pernah mau mengosongkan botol saya, lha kan susah-payah kita
>> mengisi bertahun-tahun masa' harus dibuang semuanya?
>[...]
>> Paling-paling sih meluaskan botolnya biar bisa diisi lagi....
>
>Seperti yang saya katakan, analogi botol ini tidak pas; terlalu
>disederhanakan. Tubuh manusia itu sangat kompleks, tidak sesederhana
>botol: di dalam manusia ada tubuh kasar, ada ruh, ada panca indera,
>ada memori, ada pikiran dll.
>
>'Mengosongkan' sama sekali bukan berarti menumpahkan (membuang,
>menyia-nyiakan) segala ilmu yang telah kita peroleh. Ilmu itu ada
>wadahnya sendiri yang menampung, yaitu sistem memori kita --
>mirip-mirip sistem memori dalam komputer [lagi-lagi, analogi ini tidak
>pas seluruhnya dan masih dengan penyederhanaan]. Pikiran kita mirip
>dengan prosesor komputer; tugasnya berbeda dari sistem memori. Kalau
>prosesor (pikiran) itu sedang sibuk, ia cenderung mengabaikan perintah
>(input) apapun yang kita berikan, dan kalau kita memaksakan perintah
>selagi ia sibuk, bisa-bisa komputer itu jadi "hang". Orang pun bisa
>"hang" kalau pikirannya overloaded.
>[Hati-hati, menjalani tariqat tanpa pembimbing dapat beresiko "hang"
>jika belum mahir dalam teknik pengosongan pikiran].
>
>Dengan analogi itu saya maksudkan, bila kita ingin agar pikiran kita
>mampu menerima sesuatu input dan meng-execute-nya dengan benar, maka
>beban pikiran itu harus diringankan, sebisa mungkin dikosongkan.
>Kekosongan mutlak diperlukan agar pikiran kita mampu menerima petunjuk
>atau ilmu dari Allah. Bukan hanya kekosongan di dalam pikiran, tetapi
>penghalang masuknya sinyal agar tidak bias terdistorsi -- juga harus
>dihilangkan. Di antara penghalang itu ialah prasangka, praduga,
>menebak-nebak, a-priori, merasa tahu, merasa bisa, marah, curiga, iri,
>dengki, dendam, benci, "cinta" atau suka [!!!], ...
>
>Sekarang, apa hakikat shalat itu, kalau bukan upaya pengosongan
>pikiran sambil bermohon "Ihdinash shirathal mustaqim"?
>Bayangkan, bagaimana kita bisa menangkap petunjuk itu kalau petunjuk
>itu datang ketika pikiran kita sibuk sendiri. Kalaupun pikiran kita
>sudah kosong, atau bahkan vakum, tetapi di luar itu masih banyak
>kotoran penghalang seperti tersebut di atas, sangatlah mungkin bahwa
>yang masuk ke pikiran kita justru kotoran tadi.
>
>
>Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
>RS
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)