Assalaamu 'alaikum wr. wb.
>>=================
>>*****Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Termasuk
>>menciptakan setan yaitu agar menjadi cobaan bagi manusia
>>
>>Allah memang tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Tetapi Benarkah
>>Allah menciptakan Setan? Atau dengan kata lain, Benarkah Allah
>>menciptakan sebagian Jin dan Manusia agar menjadi "Setan"?
>>Saya kira jawabannya "TIDAK !" dalam huruf besar. Allah menciptakan jin
>>dan manusia dan bukan menciptakan Setan. Manusia dan Jin dengan
>>kehendaknya sendiri menjadi Setan.
[Budi Utomo wrote:]
>Lho..lho... tunggu dulu pak Ali, coba anda baca ulang pernyataan
>anda di atas kok malah kontadiktif.
>Di awal paragraf di atas "***Allah....Termasuk menciptakan setan."
>Tapi pada baris-baris berikutnya anda nyatakan Allah bukan menciptakan
>setan..... gimana ini. Bagimana dengan QS.2:34 ?
Maksud saya yang pakai 'bintang-bintang' (****) itu pernyataan pak
Sunarman. Sedangkan paragraf dibawahnya adalah pemahaman saya. Jadi saya
beranggapan bahwa Allah tidak menciptakan manusia/jin untuk menjadi
setan. Melainkan manusia/jin itu yang dengan kehendaknya sendiri menjadi
setan.
>>Allah menciptakan manusia dan jin untuk beribadat kepada-Nya. Serta
>>tambahan lagi Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah-Nya di
>>Bumi. Setan hanyalah membawa manusia menjauh dari jalan Allah.
>>
>
>Jadi di sini anda mengakui ADAnya setan, siapa yang mengADAkannya?
>Jangan bikin saya tambah bingung to pak!
hihihi.... sesama orang bingung dilarang saling mendahului.
Setan memang ada, tapi dalam pemahaman saya yang cupet setan menjadi
'ADA' diakibatkan manusia (/jin?) yang menuruti hawa nafsu dan
syahwatnya secara berlebihan sedangkan nafsu muthmainnahnya telah
menjadi buta/bisu/tuli bahkan barangkali sudah mati. Kalau pakai
penjelasan konsep tingkatan jiwa barangkali ybs sudah turun terus hingga
ke level bumi 7. Pada saat itulah manusia/jin tersebut menjadi setan.
Sekali lagi semuanya cuman konsep samar buat saya.
>
>>Dalam kaitannya dengan Cobaan maka dari segala kekejian di dunia memang
>>manusia dapat mengambil pelajaran, tapi tidak berarti pelaku kekejian
>>itu bermanfaat lho. Sebagai contoh misalnya Yazid melakukan kekejian
>>dengan membantai Husain cucu Rasulullah di Karbala. Itu cobaan yang
>>berat bagi umat islam. Muslim yang bisa mengambil pelajaran dari cobaan
>>barangkali menjadikan peristiwa Karbala sebagai simbol martir/syuhada
>>melawan tiran. Muslim yang tak bisa mengambil pelajaran dari cobaan
>>barangkali akan berputus-asa dengan kejadian tersebut. Tetapi Ngawur
>>berat ketika manusia mengatakan Yazid berguna karena melakukan
>>pembantaian tersebut kan? Yazid tetap harus kita kutuk habis-habisan
>dan
>>tidak 'benci tapi rindu' kepada Yazid. Demikian pula Setan harus kita
>>kutuk habis-habisan dan mestinya manusia tidak pernah 'benci tapi
>rindu'
>>melainkan 'benci tapi BENCI' kepada setan sebagai pendorong kekejian
>>tersebut.
>>
>
>Yang ini lama sekali saya mencoba mencari jawabnya. Malah yang timbul
>dalam fikiran saya begini pak Ali:
>Orang-orang suci macam Husain yang tidak salah kok dibantai dengan
>keji, padahal saya yakin Allah tahu dan Husain pun mungkin juga
>berdoa memohon kepada Allah dari kekejian orang-orang gila itu.
>Tapi kok tetap terjadi. Adakah Allah bermaksud lain yang kita belum
>tahu?
>
>Contoh lain misalnya Bilal, orang sebaik dia juga disiksa majikannya
>padahal Allah juga pasti tahu.
>
>Habab al Alarat juga disiksa, dipanggang di atas api, malah katanya
>di saat itulah dia merasakan kelezatan imannya karena dapat menye-
>rahkan dirinya secata totalitas kepada Allah.
>
>Wah yang ini saya nggak tahu pak Ali.
Saya ini cuman tidak mampu menerima bahwa Allah menciptakan setan
seperti 'Yazid', atau 'majikan Bilal', atau 'penyiksa Habab al Alarat'
itu. Karena jika Allah-lah yang menciptakan mereka menjadi seperti itu
maka mereka mestinya tidak layak untuk disiksa di neraka kelak. Dan
mereka tidak layak untuk dikecam di dunia ini.
Saya tidak mampu menerima hal itu. Karena jika saya menerima bahwa
Allah-lah yang mendorong manusia menjadi 'Setan' dan berbuat kekejian
seperti itu maka barangkali saya menjadi harus kasihan kepada
setan-setan tersebut. Jadi tetap saja bagi saya tidak mungkin Allah
menciptakan setan.
>
>Jadi kalau menurut pak Ali yang ada sebaiknya nafsu Mutmainah saja
>apakah nanti tidak timpang ('menjadi malaikat?').
Waktu menulis itu maksud saya yang sebaiknya ada adalah "nafsu
muthmainnah dan syahwat". Kalau cuman nafsu muthmainnah barangkali akan
menjadi malaikat seperti dikatakan pak Budi. Jadi syahwat (cinta duniawi
kebendaan) mestinya tidak perlu mati. Lha hawa nafsu gimana?, saya pikir
dibunuh saja malah beres. Toh, nafsu muthmainnah bisa menjadi
buta-bisu-tuli bahkan mati, mengapa hawa nafsu tidak bisa dibegitukan
juga tho?.
Tetapi dengan penjelasan dari Gus Lim, samar-samar saya memahami bahwa
hawa nafsu, seperti juga syahwat mestinya bisa positif bila dikendalikan
oleh nafsu muthmainnah. Jadi mestinya hawa nafsu itu tidak perlu mati
tetapi jangan terlalu gemuk kali ya (?). Kalau saya menilai hati saya
saat ini, barangkali syahwat itu sudah agak kurusan, hawa nafsu masih
terlalu gemuk sedang nafsu muthmainnah keadaannya bagaikan mobil panther
'nyaris tak terdengarrrr ...... ' masih terlalu kurus kurang vitamin.
Meski sekali lagi ini semua masih samar-samar.
Sekali lagi pak Budi, sesama orang bingung dilarang saling mendahului.
:-) Orang bingung itu harus nekad memformulasikan kebingungan kita,
ketika terformulasi kadang masalah itu sudah terjawab dengan sendirinya.
Kalaupun tidak maka barangkali ada diantara anggota milis yang mampu
menjelaskan masalah kita tersebut sehingga tidak menjadi bingung.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)