Assalamu a'laikum Wr. Wb.
Setalah saya mempelajari milis yang masuk ke address, nampaknya hampir
semuanya bingung akan penjelasan2 (Tasawuf Akal Otak dan Akal Hati), memang
dalam hal ini kita tidak buruh2 menyalahkan siapa2, karena semuanya dalam
keadaan kebingungan.

Bagi kita yang masih awam dalam menelusuri perjalanan Tasawuf, setidaknya
harus memadukan dua sisi ilmu sebagai pedoman untuk mengarahkan daya
nalar akal otak dan akal hati, untuk bisa mengarungi samudra tasawuf yang
kebanyakan membahas bagian2 stuktur tubuh yang dalam penciptaan-Nya
berasal dari unsur2 ghoib (unsur yang bersifat kelangitan dan keakheratan). 

Ilmu yang dimaksud dalam hal ini adalah :
1). Ilmu pengetahuan tentang Anatomi Fisiologi tubuh manusia ( Ilmu yang
    membahas struktur/rancang bangun tubuh manusia serta Faal (fungsi/cara
    kerja) seluruh bagian sel2 tubuh manusia secara lahiria.  Yaitu unsur2
pen
    ciptaan tubuh manusia dari zat2 yang bersifat kebumian yang asalnya
    dari sari patih tanah.
2).Karena tanpa kita memahami Anatomi Fisiologi tubuh manusia, sukar akal
    otak untuk membayangkan dimana letak Hati (Hepar), Jantung, Paru, otak,
    limpah, lambung, pankreas, empedu, ginjal, usus, dan lain sebagainya, 
    serta cara kerja masing2 organ tsb supaya tubuh tetap hidup.
    Karena bagian/organ2 tubuh tersebut, berkaitan secara langsung dimana
    hati ruhaniyah atau jiwa muthmainnah itu sendiri berada.

Jadi kesimpulannya agar tidak berandai-andai, bak membayangkan seseorang
yang berada dibalik pintu tertutup rapat dalam ruang yang gelap pula,
sehingga
gampang sekali membuat kita terpeleset dalam perkiraan, dan akhirnya mele-
set dari jalur yang sebenarnya, jadi sebagai syarat utama seseorang pejalan
tasawuf terlebih dulu harus mempelajari  Ilmu pengetahuan tersebut diatas

dan Ilmu pengetahuan lainnya, yang berhubungan dengannya,  kemudian
mempelajari/medalami samudera tasawuf.

Bak seorang yang sedang menyetir mobil ; sudah menguasai cara kerja mesin
secara mechanical dan electrical berserta instrument lainnya, berjalan pula
di
atas rentang jalan yang penuh dengan rambu-rambu lalu lintas, sebagai
petunjuk agar tidak tersesat dalam perjalanan dan selamat sampai ditujuan.

Demikian kiranya tanggapan ini semoga mendapat masukan2 dari milis lainnya.

Wassalam
Harto Nading

> ----------
> From:
> [EMAIL PROTECTED][SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         Wednesday, May 26, 1999 7:43 PM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      [Tasawuf] Akal Otak & Akal Hati
> 
> 
> >Assalaamu 'alaikum wr. wb.
> 
> > ----------
> > From:   Abah Hilmy[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> >
> > Lubb adalah akal hati (hati ruhaniyyah). Artinya Lubb adalah salah satu
> > bagian dari hati itu sendiri.
> >
> > Seperti jasad kita mempunyai Akal (Otak), hati ruhaniyyah (jiwa
> > muthmainnah) mempunyai Akal (Lubb).
> > Selain akal, seperti juga jasad, hati ruhaniyyah memiliki mata, telinga,
> > mulut, dsb. Sehingga kalau dikatakan di Al Qur'an Allah mengunci mati
> > hati,
> > pendengaran, dan pengelihatan, hal ini menunjuk kepada pendengaran dan
> > pengelihatan hati ruhaniyyah (QS 22:46).
> >
> 
> 
> 
> 
> Assalamu'alaikum wr wb,
> 
> Pak Ali, Abah dan rekan-rekan milis rahimakumullah.
> 
> Memang kalau bicara tentang terminology hati, nafs, qalbun, aqal
> jiwa, ruh, jiwa muthmainah, lubb, akal atas, akal bawah, amarah
> nafsu, kehendak.... dan macem-macam lagi terminology yang mirip-
> mirip sama itu bisa bikin bingung.
> 
> Saya sendiri juga kurang memahami secara teoritis tentang terminology
> itu. Saya lebih tertarik kepada pengenalan obyek dari pada pendekatan
> teoritis. Mungkin anda akan bertanya: Bagaimana mungkin kita mengenal
> kalau definisi dari istilah-istilah di atas tidak tahu?
> 
> Jawabannya: Insya Allah sangat mungkin.
> 
> Dua cara pendekatan diatas (teoritis dan pengenalan) saya ilustrasikan
> seperti dua orang yang ingin mengetahui seseorang yang berada dibalik
> pintu yang terkunci rapat.
> 
> [1] Orang yang satu berusaha mencari data-data sejarah, sifat-sifat,
> tanda-tanda dan berbagai informasi tentang orang yang berada dibalik
> pintu itu (pendekatan teoritis).
> 
> [2] Sedang orang yang satu lagi duduk dengan ta'dzim dan bersabar di
> depan pintu sambil mengetuknya. Hingga pada saatnya pintu terbuka dan
> orang tersebut mengenal dengan sebenarnya 'orang' yang dicarinya itu.
> 
> Terserah anda, apakah akan menjadi orang yang pertama atau menjadi
> orang yang kedua. Yang jelas kalau anda menjadi orang yang kedua,
> insya Allah anda tidak akan pernah terkecoh. Orang mau bilang apa
> tentang 'dia' karena kita sudah tahu betul yang dimaksud adalah
> 'yang itu' terserah apa namanya pokoknya 'yang itu'.
> 
> Sedangkan orang yang selalu mencari terminology dan definisi tanpa
> mengenal obyeknya, bisa jadi selalu dalam keraguan dengan adanya
> istilah-istilah baru yang berkenaan dengannya.
> 
> Mungkin ini yang sering dinyatakan oleh sebagian anggota milis bahwa
> tasawuf itu bukan teori.
> 
> KONSEP PENGENALAN
> -----------------
> Apa yang saya tulis disini bukan merupakan saran atau acuan, melainkan
> hanya sekedar pendapat yang sangat minim karena kedangkalan saya dalam
> samudra tasawuf.
> Cara mengenal hal-hal di atas nafsu, jiwa dsb... yang secara ringkas
> saya sebut saja sebagai 'diri', antara lain dengan mohon bimbingan
> seorang mursyid atau guru.
> Langkah selanjutnya adalah tetap memelihara kemauan / istiqamah untuk
> melaksanakan petunjuk-petunjuk mursyid.
> 
> Bagi yang belum punya mursyid, saya tidak mempunyai pendapat secara
> khusus. Sekedar pendapat umum mungkin kita bisa meningkatkan atau
> meng-istiqomahkan amalan-amalan yang sudah biasa kita lakukan.
> Misalnya :
>      - Membiasakan baca al-qur'an (minimal 1th 2X khatam)
>      - Membiasakan ibadah sunah sesudah tertib ibadah wajib.
>           misalnya: puasa sunah, sholat sunah, shodaqah,mencitai anak
>           yatim dan orang-orang miskin... dsb.
>      - Membiasakan/mengkontinyukan dzikrullah
>      - Belajar memahami sifat Allah 20
>      - Belajar memahami dengan penuh penghayatan 99 Asma Allah.
>      - Mencintai Rasulullah SAW dan mencintai apa yang dicintai Beliau.
>      - Memelihara diri dari sifat-sifat tercela.
>      - dsb...
> Dengan mengharap ridlo Allah atas amalan-amalan itu semua, insya Allah
> lambat laun hati kita akan semakin bersih dan terang. Terang disini
> bisa bermakna 'tahu', termasuk tentang 'mengenal diri'
> 
> 
> NAFSU MUTHMAINAH
> ----------------
> Saya sependapat dengan Abah bahwa ada sesuatu yang labil dalam hati
> kadang baik dan kadang buruk. Tapi saya kurang sependapat bahwa Nafsu
> Muthmainah itu berubah-ubah (kalau yang dimaksud nafsu muthmainah itu
> yang 'itu').
> 
> Menurut pendapat saya di sana itu ada dua hal yang satu diam dan tenang.
> Di sanalah tempatnya keindahan, kedamaian, keihlasan, kejujuran,
> ketenangan
> dan samudra pengetahuan. (mungkin ini yang disebut nafsu muthmainah)
> 
> Sedang yang satunya selalu berubah, bolak-balik, ragu, keinginan yang
> tak pernah puas, iri, benci, panas dan membakar.
> (mungkin ini yang diistilahkan hawa nafsu)
> 
> Namun keduanya tidak pernah berbaur, dan tetap berada pada 'sifatnya'
> masing-masing.
> 
> 
> USAHA PENGENALAN
> ----------------
> Menurut pendapat saya semua amal-ibadah yang kita lakukan itu bukan
> untuk Allah, bukan untuk mengagungkan Allah. Allah tidak butuh
> disembah, tidak butuh diagungkan. Demikian juga Allah tidak benci
> dengan orang yang tidak menyembahNya. Sifat 'butuh, senang dan benci'
> itu bukan sifat Allah melainkan sifat makluk.
> 
> Segala tuntunan ibadah itu insya Allah karena sifat Rahman dan RahimNya
> sehingga melalui utusanNya, menuntun manusia membersihkan sifat-sifat
> buruknya sehingga bersih hatinya yang pada akhirnya manusia akan dapat
> mengenalNya dan menemukan kebahagiaan serta kedamaian abadi bersamaNya.
> 
> Kalau sudah begitu adanya, ibadah bukan lagi karena perintah syariat,
> tapi akan disadari bahwa itu merupakan kewajiban seorang hamba kepada
> Tuhannya (bukan atas kewajiban syariat). Seorang hamba akan jatuh
> tersungkur pasrah dan benar-benar mengakui dan mengagungkan Dia karena
> memang tahu bahwa dia Yang Maha Agung.
> 
> Kalau kita ingin dicintai marilah kita belajarlah mencintai.
> 
> "Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya
> waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang.Dan Dia-lah yang
> Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui. (QS. 29:5)"
> 
> 
> Wallahua'lam bs,
> Kurang lebihnya mohon maaf dan mohon diluruskan seandainya pendapat
> saya itu salah.
> 
> Wassalamu'alaikum wr wb,
> Wargino
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 
> 
> 
> 
> 

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke