>Dua cara pendekatan diatas (teoritis dan pengenalan) saya ilustrasikan
>seperti dua orang yang ingin mengetahui seseorang yang berada dibalik
>pintu yang terkunci rapat.
>
>[1] Orang yang satu berusaha mencari data-data sejarah, sifat-sifat,
>tanda-tanda dan berbagai informasi tentang orang yang berada dibalik
>pintu itu (pendekatan teoritis).
>
>[2] Sedang orang yang satu lagi duduk dengan ta'dzim dan bersabar di
>depan pintu sambil mengetuknya. Hingga pada saatnya pintu terbuka dan
>orang tersebut mengenal dengan sebenarnya 'orang' yang dicarinya itu.

Benar sekali Pak Wargino. 
Kalau saya boleh tambahkan adalah cara ke-tiga. Yaitu penggabungan 1 & 2.

Kalau yang 1, seperti kata Pak Wargino akan mengalami kebingungan seputar
defnisi-definisi. Bahkan bukan sedikit yang dengan mengethaui
definisi-definisi, sudah menjadi kagum terhadap dirinya. Akhirnya Ilmu
Pengetahuan malah menghijab antara dirinya dengan Allah SWT yang dicarinya.
Tapi bukan sedikit pula karena mengetahui ilmunya, dirinya terntuntun untuk
melakukan sesuatu secara benar, seperti yang dikatakan Rasulullah SAW "Ilmu
adalah penuntun bagi Amal".

Kalau yang 2, insya Allah tidak akan mengalami kebingungan-kebingungan
akibat definisi-definisi. Tetapi belum tentu tidak terkecoh.... Karena
kalau yang membuka pintu bukan orang yang dicari bagaimana? Apakah tanpa
pengetahuan kita dapat membedakannya? Kemudian kedua, apabila memang benar
yang membuka pintu adalah orang tsb, tetapi orang tersebut ingin menguji
keseriusan  kita yang mengetuk dengan banyak fenomena... bagaimana kalau
kita tidak mempunyai pengetahuannya?

Banyak orang yang mencoba dengan langkah ini...
Bagus kalau didampingi seorang pembimbing (mursyid) yang telah
berpengalaman dan diberi pengetahuan oleh Allah untuk menempuh jalan yang
ini... 

kalau tidak ada mursyid....
Tidak sedikit orang yang dianggap atau bahkan menjadi "gila" karena ia
tidak mempunyai sama sekali pengetahuan tentang itu.

Sorry lho Mas Wargino...
Bukan mau mendebat, tetapi coba lihat dari sisi lain saja...

Menurut saya lebih baik 1 & 2. Cara ke-3.
Kita perangkati dengan ilmu diri kita (sebatas yang mampu kita mengerti
tentu). Lalu dengan takzim mengetuk... bersabar.... Sehingga ketika pintu
dibuka....

Orang lain yang membuka...
Kita tahu ciri-cirinya.

Kalau pun orang yang kita cari yang membuka, dan ingin menguji kita....
Kita tidak bingung dengan fenomena ujiannya...

Bahkan, karena kita mencarinya dan menemuinya dengan segudang pertanyaan
dan kebingungan, maka orang yang dicari akan dapat menjelaskan banyak
jawaban tentangnya akibat pertanyaan dan kebingungan kita tentangnya....

Dibanding tiada kebingungan kita tentangnya, memang kita bertemu...
Namun tiada pengetahuan darinya perlu dijelaskan kepada kita karena kita
tidak menanyakannya.

Demikianlah kata nabi SAW "Kebingungan adalah kunci pengetahuan bagi
seorang mukmin".

-Wallahu'alam-

+++++++
Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau
ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana. (QS. 2:32)


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke