Pada 09 Jan 2005, 23:02:53 -0800, ron4ld menulis (diringkas):
>
> Imo bahasa itu kan untuk convey meaning jadi asal orangnya
> ngerti artinya ya gpp :) Cuman tentu harus bedain occassionnya
> formal apa enggak, kalo nggak formal ya pake "nggak" ya gpp
> kan. Sinetron indo bhsnya sering kedengeran 'aneh' abis mrk
> pake bhs formal, bukan bhs sehari2.
Menurut pendapat saya, baik dalam suasana formal atau informal,
berbahasa dengan baik dan benar tetap perlu dijaga, terutama
untuk media publik. Kalau kita lihat di kamus-kamus Inggris pun,
perbedaan formal atau tidak kan ditunjukkan dari kata yang
dipilih; jadi skenario sinetron tersebut seharusnya memilih
ungkapan yang lebih luwes untuk ungkapan sehari-hari. Sedangkan
ungkapan yang memang bukan Bahasa Indonesia, sekalipun terlihat
lebih luwes, dapat diganti.
> Tapi biarpun begitu saya kasi jempol deh org2 seperti mas
> Amal yg berusaha sebisa mungkin menggunakan bahasa Indonesia
> yg baik dan benar di blognya :) - (btw apa pernah ikut kursus menulis
> khusus? - aye jg pengen)
Masih banyak kesalahan. Justru salah satu "dendam" saya kalau
pulang ke Indonesia nanti adalah membaca lebih banyak lagi
buku-buku tata bahasa Bahasa Indonesia. Saya ingin lebih mantap
terhadap perbedaan halus semacam,
a. Bagaikan punguk merindukan bulan
b. Bagaikan punguk merindui bulan
c. Bagaikan punguk merindu
(a) paling umum dipakai, namun tidak tepat, dan (b) gantinya.
---akhir kutipan---
--
amal
"What did you do when the ship sank?"
"I grabbed a cake of soap and washed myself ashore."