> ilustrasinya gak jelas ya kalau dikaitkan kasus yang dibahas :-)
> barangkali mirip sama yang disampaikan kwik yang disuguhi itung-itungan
> di atas kertas plus dikata-katain: udah sekolah sampai ke AS kok
> idiotnya masih mengerak he..he..
>
Dahulu sewaktu beliau cuman jadi kritisi dan cendikiawan saya sangat
mengagumi KKG. Tapi ngak tau sekarang kebanyakan muatan politisnya di
tulisan beliau dan sebetulnya agak2 bahaya karena termasuk melakukan
pembodohan masyarakat.
> jadi, keept it stright, kalau itu refots bin capex bin whatever, lantas
> kenapa dengan begitu idiotnya 'mereka' datang ke sini?
>
anda sedang melakukan penyederhanaan sesuatu masalah ;)
Beginilah 'pak, hukum high risk--high return itu terjadi dan terkadang
anda menang dan sering juga anda kalah. Kira2 begitulah alesan 'mereka'
datang kesini.
btw, anda pasti pernah kan dengar atau melihat cerita 'mereka' datang
kesini dan pulang dengan tangan kosong dan tabungannya juga kosong?
Kalau belum, tolong kasih tau saya dan dengan senang hati saya akan
menceritakannya. ;)
> anda mengilustrasikan soal kelebihan 'tunjangan' bagi penduduk setempat
> (sorry, walaupun saya alergi mendengar istilah upeti dan sejenisnya) tapi,
> pernahkan anda membayangkan kalau itu dikelola secara mandiri dan
> digunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat setempat, saya yakin papua
> tidka seperti yang sekarang kita lihat, dan mungkin daerah indonesia
> timur dan sekitarnya tidak akan seperti yang kita lihat sekarang.
>
Bapak pasti belum pernah ke timika dan berinteraksi dengan penduduk
asli setempat kan? Begini ajalah 'pak, di timika ada "tarif" bila anda
"menyenggol" penduduk asli yaitu Rp. 250 juta bila masuk rumah sakit
dan Rp. 500 juta bila meninggal. Ada gereja yg harus membayar "dana"
setiap tahunnya kepada satu penduduk karena orang tersebut menanam
pohon pepaya di areal gereka dan pohonnya banyak buahnya. Saya belum
bercerita ttg gaya hidup dan work-ethic penduduk asli soalnya nanti
takutnya agak SARA.
Bila argumen anda kalau orang 'lokal' yg mengelola SDA akan lain
ceritanya, maka saya sudah memberikan contoh untuk membandingkan 'site'
pertamina di papua dengan Kuala Kencana nya FMI.
> seperti saya berkali-kali berusaha menyampaikan, dua kesalahan
> berturut-turut tidak akan otomatis membuat sesuatu menjadi benar.
> komentar saya untuk di atas: memang banyak orang yang suka atau gemar
> atau hobby atau doyan mendapat uang banyak tanpa melakukan apa-apa.
> ada yang dengan menjajah bangsa sendiri, ada yang dengan bangga menjadi
> germo atas bangsa sendiri.
>
Pak kita berargumen dengan keadaan kita bahwa orang yg membuat kita
begini atau mungkin kita yg kurang berkerja keras. Ayolah pak anda tahu
tipikal kerja orang melayu seperti apa. Coba anda pergi ke malaysia dan
bandingkan work-ethic dari orang chinnese, tamil dan melayu.
> ilustrasi lagi, adi jadi sopir taksi dengan kirim setoran 100-150 ribu
> sehari, dengan janji setelah 5/10 tahun mobil tsb. menjadi milik
> pribadi. pernah berpikir tidak kalau dengan 4-5 jt/bulan, ybs bisa
> mencicil mobil kelas menengah hanya dalam waktu cuman 3 tahun? jahat
> bukan? Terus ada orang asing yang membuka usaha dengan transportasi,
> dengan pat-gulipat (utang ke bank di indonesia untuk membuat usaha taksi
> di indonesia), kemudian menawari adi untuk dengan skema yang sama, hanya
> dengan setoran 30 ribu sehari. jadi ya sudah, serahkan saja bisnis taksi
> di sini pada orang asing. gitu?
>
Sekarang kan pilihan ada 'pak, kalau adi berpikir dengan mencicil
sendiri bisa membuat dirinya dan keluarga sejahtera, silahkan untuk
berbuat itu. Tapi jangan menasionalisasikan perusahaan bisnis taksi
atau menyalahkan perusahaan taxi itu yg membuat seorang adi jadi
melarat. atau malahan gara2 yg punya taxi itu namanya "james" maka
salah tapi kalau "buyung" yah fair ajalah.
> semuanya kan soal pilihan. kalau dalam security ada istilah: every
> little bit helps. saya lebih memilih mengelola semuanya secara mandiri
> kalau bisa. 'mereka' ke sini karena kita ini 'mangsa' yang empuk. bukan
> karena ada di antara kita yang brengsek, walaupun seringkali ini jadi
> 'excuse'.
>
Pak Adi, point saya adalah jaman sekarang itu "kita" dan "mereka" itu
ngak ada bedanya. Sekarang masalah antara karyawan dan pengusaha.
--alex