> he..he. masa sih membuat aturan main untuk bisa membubarkan institusi,
> pejabat yang tidak akuntabel itu mahal :-)
>

nah itu bapak tahu kan kira2 solusi yg pertama2 diberesin itu apa ;)

ngak usahlah menasionalisasikan perusahaan asing soalnya "harga"
nasionalisasi yg langsung atau tidak langsung itu mahal. Contoh
langsungnya adalah jangan berpikiran menasionalisasikan suatu
perusahaan asing itu gratis soalnya pasti ada harga ganti ruginya
(belum lagi siapa yg bakal ngejalanin perusahaan tsb). Kedua, begitu
kita menjalankan hal tersebut peringkat hutang kita langsung jeblok dan
ngak ada yg mau ngasih hutang lagi ke kita dan kalau adapun maka bunga
yg dikasih akan membuat bunga rentenir seperti soft-loan. Dan satu hal
lagi yg paling penting adalah secara ekonomi negara kita sudah bangkrut
dan tidak bisa "beroperasi" lagi tapi kita bisa menyambung nafas dengan
yg namanya hutang.


> tapi saya memaklumi cara pikir anda. saya tidak memproklamirkan diri
> saya sebagai orang yang berpengalaman, tapi saya pernah +/- 6 bln
> keliling ke bbrp kabupaten di 3 propinsi (kalimantan, sulawesi dan ntt),
> dan tentu saja ketemu dengan orang-orang di sini (jakarta). satu hal

Pak, bukan bermaksud membanding2kan nih tapi selama 2 tahun selama
kerja di perusahaan "broker" juga sering banget ke daerah2 seperti
sumatra, sulawesi, kalimantan dan papua. Lalu 2 tahun setelah itu saya
berdomisili di hutan kaltim untuk berkerja di perusahaan tambang dan
sekarang agak ke kota dikit lah tapi bukan di Indonesia.

Dari yang saya lihat di daerah2 itu, makin banyak "penjahat" baru di
daerah dan cara mainnya itu kotor banget. Bapak pernah dengar kabupaten
Kutai Timur? Kutai Timur adalah salah satu kabupaten terkaya di
Indonesia (dari APBD) dan bapak tau latar belakang bupati dan kepala
DPRDnya? Bupatinya adalah bekas pemasuk ATK (Alat Tulis Kantor) untuk
kecamatan Kutai Timur (sebelum menjadi kabupaten) dan kepala DPRD
adalah Tukang Ojek dan Preman Pasar setempat. Saya tidak bohong dan
silahkan untuk cek ke orang2 yg tahu ttg Kutai Timur. Dan sekarang
mereka sedang pesta pora dan tentunnya keluarga besar mereka tidak
ketinggalan untuk ikutan.


> yang dapat saya lihat secara konsisten adalah, dalam setiap
> permasahalan, kita ini cenderung membuat segala sesuatu tampak ruwet
> seperti benang kusut sehingga tidak ada gunanya mencari solusi (baca:
> ngapain capek-capek). gitu deh, mereka pikir dengan diam saja itu jauh
> lebih baik. yo wis. dari pada kepala saya pecah. mending keluar saja.
>

sekarang pertanyaanya apakah mereka teralu melebih2kan suatu
permasalahan atau anda yg teralu menyederhanakan suatu permasalahan. ;)


> sosialis apa komunis? :-)) tapi, toh meskipun itu sulit, semuanya
> kembali ke soal pilihan. masa mau gini: udah lah, jadi negara pancasila
> itu susah. yo wis. jual saja. sekali lagi (saya tidak ingin menghakimi
> sesuatu sebagai benar/salah), ini semua soal pilihan.
>
> kalau setiap warga negara ini memilih menjadi germo bangsa sendiri. ya
> sudah. terjadilah :-)
>

hehehe, bapak belum pernah ngerasaiin rasanya jadi germo bangsa sendiri
sih, kalau udah nyoba ngak akan mau keluar dari lingkaran itu ;p


--alex

Kirim email ke