> > Mengapa saya tidak mambaca jurnal ilmiah? Karena saya tidak tertarik.
Kalau saya dulu,kuncinya fokus dan determistik.Ketahui minatnya dimana. Misalnya saya ternyata suka sekali membaca cara kerja protocols(core networks),saya stop 100% bacaan diarea database atau operating sistem( well,tetap baca sich,tapi hanya yang penting pentingnya saja). Sebaliknya kalau mahasiswanya suka dengan bagaimana cara OS driver bekerja,gak perlu baca jurnal rumus matematika untuk QoS misalnya ;-) > Mengapa saya tidak tertarik membaca jurnal ilmiah? Karena bagi saya > membosankan? Mengapa bagi saya membosankan? Karena ternyata bagi saya > baca buku sosial lebih menarik. Mengapa buku sosial lebih menarik bagi > saya? Karena saya tahu aplikasi dari buku-buku tersebut di Indonesia. Masalah Zaki sebenarnya adalah masalah kita semua,saya juga mengalaminya dan frustrasi juga sich melihat lingkungan sekeliling,apalagi (kalau) sadar bahwa Indonesia sebenarnya nyaris jalan di tempat dalam perkembangan teknologi informasi 10 tahun terakhir :( Untuk menjawab itu gak mudah Zak,dan saya sudah uraikan sebagain permasalahanya,jadi gak bisa memang solusinya dari satu sektor(akademisi) saja,tapi juga dari sisi lain terutama ekonomi: iklim bisnis IT,telekomunikasi,dlsb. > Mengapa saya gak berpikir untuk ke kerja di LN? Karena wawasan saya > sempit. Mengapa wawasan saya sempit? Karena tidak baca jurnal ilmiah? > Mengapa tidak baca jurnal ilmiah? Karena harganya mahal? Kenapa gak > usaha? Karena saya manja, maunya disuapin terus. Mengapa saya manja dan > maunya disuapin terus? Karena saya selalu berpikir jangka pendek dan > pragmatis. Memang bener,untuk "hit resistance" lokal tersebut harus berpikiran sangat panjang,makanya saya suangaat mendukung jika ada industri litbang di Indonesia,asalkan bisa menghasilkan income dan menyerap SDM.Tidak banyak yang melihat ini bisa menjadi jawaban dari sebagian permasalahan di Indonesia (wah kata-katanya nyontek dari blogs BR nich). Carlos
