Ariya Hidayat wrote: > > anyway jangan salahkan DNA ,itu namanya emang udah gagal sebelum > > mencoba. > > Tentu saja maksudnya bukan menyalahkan, tapi mempertanyakan. Kalau > memang ada orang-orang (*) yang perlunya dan mahirnya adalah
kalau kita lihat dari 'sejarah' inovasi,ada dua cara dimana inovasi pertama kali berkembang 1. kaum 'elite' techie di societynya menemukan dan invent sesuatu (yang kemudian bisa menjadi industri/income) TANPA bantuan atau injeksi dari pemimpin. Ini contohnya sejarah silicon valley,microsoft/apple/hewlett packard,sejarah bagaimana wright brothers menemukan pesawat terbang dan bagaimana infosys mulai.Tapi satu pre-kondisi yang harus ada adalah environmen dimana invention dan development mendapat dukungan(referensi dari wright brothers). 2. INJEKSI atau Kebijakan dari pemimpin,contohnya: cyberjaya di malaysia,IPTN di Indonesia dan kebijakan 'peniruan silicon valley' di negara2 seperti india,irlandia,singapura dan china. Model #1,itu development bottom up. jadi 'you do something' dan masyrakat disekitar akan menerima manfaatnya setelah beberapa tahun. Model #2,development top down,jadi 'we wait til gov. do something',nanti kalau pemthnya sadar dan memberi injeksi,baru nanti dibawah itu yang bergerak dan berinovasi (makanya perhatikan industri hitek di malaysia kebanyakan contract manufacturer). Indonesia mau pilih mana ? Pak Budi bisa bantu ... tapi jelas #2 is on the way. > membangun pabrik panci, bukan software company, barangkali yang harus > digalakkan adalah kerjaan outsourcing membuat panci. Dalam inovasi, yang diinginkan adalah merubah untuk perubahan. Kalau 'sang perubah'nya saja berpikir konservatif,mana bisa berubah,alias tetap jadi tukang panci terus seumur hidup :-) Emangnya waktu bil gates dan steve jobs dulu bikin microsoft atau apple tidak ditertawakan :)) he he he (bisa ditimpali pak budi nich). Saya jawab lagi diatas,coba kita analogikan lagi,ada dua kampung,masing2 kampung punya penduduk 100 orang.Tarohlah penduduk A dan B sama sama pintar,penduduk kampung A ada 90 orang yang bikin panci(dan 10 org bikin software) dan kampung B ada 50 orang yang bikin software(sisanya bikin panci).Jelas kampung yang mayoritasnya bikin software yang 'living standard'nya jauh lebih tinggi dibanding kampung yang cuman bisa bikin panci. Syahdan,Akhirnya 10 org software dari kampung tukang bikin panci ini mikir,gimana sich supaya bisa jadi seperti kampung tukang bikin software yg hidupnya enak.Nah akhirnya mereka memutuskan 10 orang itu untuk datang ke kampung tukang software,mencuri ilmunya, dan kemudian setelah beberapa tahun kembali ke kampungnya untuk kemudian merubah masyrakat tukang bikin panci menjadi tukang bikin software.Akhirnya berhasil,setelah 10-20 tahun apa yang mereka cita citakan terjadi.Masyrakat tukang bikin panci menjadi masyrakat tukang bikin IC dan software. Singkatnya,contoh diatas itu adalah apa yang dilakukan orang India,China,Taiwan dan Irlandia. Anyway untuk anak2 muda,yang penting sebetulnya gak usah terlalu sering komplen 'kenapa gak begitu,kenapa gak begini'...tapi langsung saja JOIN dimana ada perkampungan dan tempat dimana inovasi dan invention bisa dilakukan.Nanti jika mahir,pulang dan kembangkan di Indonesia....join/bikin google,microsoft,infosys,apple :) ***And Join (or start) startup company if you're 'tough guy' and very serious about developing country :-) > > Sudah pasti juga yang (*) itu tidak beririsan dengan kelompok yang > mencintai pekerjaan coding, yang bisa jadi hanya minoritas. kaum perubah itu dimanapun juga (termasuk AS) adalah kaum minoritas. jadi ndak perlu resah :-) jangan dikira banyak orang amerika yang suka jadi software engineer atau innovator, di amerika ini problemnya sama dengan di indonesia,orangnya sebagian besar maunya bikin atau jualan panci doang tapi tetap hidup enak :)) Carlos
