Ikhlasul Amal wrote: > On 1/16/06, Muhamad Carlos Patriawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Dalam inovasi, yang diinginkan adalah merubah untuk perubahan. > > > > Kalau 'sang perubah'nya saja berpikir konservatif,mana bisa > > berubah,alias tetap jadi tukang panci terus seumur hidup :-) > > > > Emangnya waktu bil gates dan steve jobs dulu bikin microsoft atau apple > > tidak ditertawakan :)) he he he (bisa ditimpali pak budi nich). > > Kalau untuk diri sendiri, ya terserah mau jadi tukang apapun: yang > penting pekerjaan itu halal. Ungkapan seperti yang disebut IMW atau > Ariya tetap perlu dijadikan pertimbangan untuk para pengambil > keputusan publik (pemerintah, ya?).
halal itu sudah harus dijadikan kondisi mutlak :-) Sebetulnya mau ada 1 atau 1 juta sdm indonesia yang pintar software engineering gak jadi masalah,selama semua kebutuhan negeri bisa didalam negeri. Kalau besok ditemukan ladang emas baru di Kalimantan,ya stop aja semuanya belajar IT, kejer aja ladang emas baru. Tapi kalau tidak ada dan kita cuman bisa bikin panci dan kemeja, lalu kalah persaingan dengan china yang bisa bikin panci dan kemeja yang lebih murah,lalu bagaimana ? Dan itu sudah terjadi :-) > Tukang panci juga sangat mungkin ditertawakan dulu seperti halnya > Steve atau Bill. ;) beda lah,tukang panci mungkin gak perlu sekolah S2 sampe ke jerman dan finlan segala. daya saing nya juga rendah. kalau mau terus2an jadi tukang panci juga gak papa,tapi jangan komplen kalo tiap hari hidup makin susyaah karena kebutuhan (negeri) tidak bisa dipenuhi lagi dari dalam. Carlos
