Budi Rahardjo wrote: > > Masalah pemrograman di Teknik Elektro (atau bidang engineering > lainnya) berbeda dengan di Computer Science. Yang paling utama adalah > ... kami tidak punya waktu banyak. Secara resmi, ini adalah satu-satunya > kuliah formal yang akan diterima oleh mahasiswa Elektro. Selebihnya > kami (Anda dan saya - orang Elektro) terpaksa harus belajar sendiri. > Ini adalah masalah engineering secara umum. Kami tidak punya waktu > untuk mempelajari teori-teori di belakangnya (seperti matematika > diskrit) dan detail (seperti data structure) secara spesifik. In due > time we will learn them, though..
Belum lagi waktu bermain-mainnya Pak Budi. Maklum, menurut saya menjadi mahasiswa S1 itu bisa 3/4 dari waktu studinya dihabiskan untuk mencari "Legenda Pribadi". Jadi waktu untuk latihan programmingnya kesedot untuk main-main ke hal-hal lain. Kalau saya pribadi, mainnya lari ke buku-buku sosial, agama, filsafat, dan tak ketinggalan fiksi. Satu lagi, perlu diperhatikan juga passing grade Elektro ITB yang tinggi. Disatu sisi ini bagus, saringan ketat. Disisi yang lain ini bisa jadi "racun" yang dahsyat sekali. Jadi tinggal belajar all-out untuk UMPTN/SPMB, yang penting masuk dulu ke ITB. Eh, gak tahunya begitu masuk bingung dapat kuliah DTE, persamaan Maxwell, Root Locus, Jury Test, Overshoot, Elka 1, Elka 2, ..................... ilmu-ilmu itu gimana nga-aplikasiinnya di Indonesia? > Demikianlah. Itulah sebabnya mahasiswa sengaja saya "tekan" dengan > kondisi seperti yang akan mereka hadapi di luar nanti. Menjadi > engineer memang tidak mudah. Jika menyerah dengan tantangan di kuliah, > bagaimana nantinya setelah lulus? Bagaimana jika diberi tanggung-jawab > untuk membuat alat yang akan dikirimkan ke Jupiter? Tidak ada buku > "how to design circuits (or software) for Jupiter." ha ha ha. > > Ayo ... komentar-komentar lainnya. > > ----- akhir komentar ----- Bagaimana pas kuliah diajakin ikutan milis teknologia juga Pak Budi? Zaki Akhmad
