Salam Mbak Roos yg baik.
ngga usah bingung yah. ;)
yg melarang merokok dalam debat kita terdahulu itu adalah dalam 
tarekat di bawah otoritas Syekh Nazim Haqqani - jadi tarekatnya bukan 
TQN Suryalaya, tetapi tarekat Naqsyabandi-Haqqani. 

Mungkin mbak Roos menyangka semua ikhwan tarekat di sini adalah anti 
rokok. Memang benar ada beberapa tarekat yang terang2an mengharamkan 
rokok, seperti Tarekatnya Syekh Nazim itu, Tarekat Idrisiyyah di 
Pagendingan, sebagian dari cabang Tarekat Sanusiyyah,  juga sebagian 
dari mursyid tarekat Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah ada yng melarang 
ikhwannya merokok. Jadi, misalnya, kalau orang berbaiat kepada 
silsilah tarekat Naqsyabandiiyah-Haqqani yg melalui jalur Syekh Nazim, 
maka dia berarti tidak boleh merokok.  Dan ini harus ditaati, karena 
sekali kita berbaiat kepada satu mursyid, itu adalah semacam 
perjanjian yg harus dipenuhi. 


Tetapi ada pula yang tidak melarang, dan membolehkan, seperti Tarekat 
Qadiriyyah Naqsyabandiyyah yg berpusat di Mranggen (almarhum Mbah 
Muslih), di Rejoso dan Jombang, dan di Pati (seperti Mbah Romli, Mbah 
Ansori)  dan di Suryalaya sendiri tidak secara eksplisit ada larangan 
merokok,dan tarekat Naqsyabandi di bogor, atau bebrapa cabang tarekat 
Sammaniyyah, Khalwatiyyah dan Qadiriyyah dan Khalidiyyah, dan juga 
Tijaniyyah di Cirebon (Pesantren Buntet) dan Tarekat Syattariyyah di 
Benda Kerep yng mengikuti jalur Sunan Gunung Jati, juga tak melarang 
ikhwannya merokok.

 Dan saya sendiri berada dalam otoritas mursyid yg tidak mengharamkan 
rokok, jadi saya tentu tidak akan mengikuti otoritas Syekh Nazim. 
Dalam tradisi tarekat formal, tidak diizinkan mengikuti dua mursyid 
tanpa seizin mursyid yang pertama, karena ada barakah yang mungkin 
akan hilang. Tentunya ketentuan ini tidak absolut, karena ada beberapa 
tarekat yg mengizinkan muridnya ikut ke tarekat lain, selama masih 
dalam jalur silsilah tarekat yg sah. 

salah satu alasan dari Anjuran untuk tidak mengikuti dua tarekat bagi 
murid awam (seperti saya) adalah agar murid berkonsentrasi pada satu 
mursyid, sebab siapapun mursyidnya, selama ia berada dalam koridor 
yang muktabarah, tidak menjadi soal. Tetapi diperbolehkan untuk 
mengambil barakah atau belajar ilmu dari mursyid lain, asalkan amalan 
tarekat tetap dari amalan yg diijazahkan oleh mursyid pertama kita.

Jadi saya tidak akan ragu-ragu untuk mengambil barakah dari Syekh 
Nazim dan tentunya saya tidak akan merokok di hadapaan beliau karena 
saya menghormati pendapatnya (ijtihad beliau) yang melarang merokok. 
Dalam kenyataannya, Syekh Nazim dan guru saya, SYekh Abah Anom, pernah 
bertemu di Suryalaya. Keduanya saling memuji dan ada kejadian unik, 
yakni keduanya saling meniup peluit secara bergantian. Secara khsuus 
Syekh Nazim memuji Abah Anom sebagai tauladan Wali Allah ynag maqam 
ikhlasnya amat tinggi, dan syekh Nazim diakui sebagai Qutub. Begitulah 
akhlak para wali Allah, begitu indah. ada banyak kisah para Wali Allah 
yang berbeda pendapat dalam ketentuan hukum fiqh tetapi tetap saling 
menyayangi. Inilah salah satu tujuan tarekat, memperbaiki akhlak, 
terutama akhlak batiniah.

jadi begitulah mbak Roos. seperti halnya dalam wilayah kalam (teologi) 
dan mazhab yg berbeda-beda pendapat, ada lebih dari 40 tarekat, yg tak 
jarang berbeda pendapat dalam masalah hukum, tetapi tidak saling 
menyalahkan dan tetap saling menghargai ijtihad masing-masing. JIka 
anda ingin tahu beberapa jenis tarekat yg muktabarah dan masyhur di 
dunia Islam, bisa email saya ke jalur pribadi, nanti kita bisa 
bincang-bincang banyak hal ttg dunia tarekat dan kewalian yg, jika 
mbak Roos mendapat izin dari ALlah bisa menyelami ke dalam 
samudaranya, insya ALlah mbak Roos, dan siapa saja yg ikhlas 
bertarekat, akan menemukan begitu banyak keindahan dalam ISlam yg 
tidak bisa dilihat dari mata biasa, tetapi dengan mata batin. Insya 
Allah.

salam
Triwibs



 

--- In [email protected], "Roosdiana Ischak" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Lho, mas Triwibs.....kok saya merasa aneh, ya. Pada awalnya Anda 
mengatakan,
> bahwa anda beruntung tidak termasuk dalam komunitas ini yang 
melarang
> merokok. Guru-guru Anda tidak melarang merokok, malah beliau-beliau 
itu juga
> merokok. Ternyata Anda keluarga tarekat ini juga. Jadi?
> 
> salam,
> Roosdiana
> 


Kirim email ke