Punten saha Abidin Aslich teh? urang sunda lain? terus terang kuring rada
teu ngeunah ku gaya tulisanana, nu nyebutkeun urang sunda paranoid sagala.
Ieu jelema ngadu-dombakeun urang sunda jeung urang Cirebon, naon maksudna?
Sakanyaho kuring, Karaton-karaton di Cirebon kabeh oge ngaku turunan ti
Pajajaran. Jadi lamun karaton-karaton di Cirebon dianggap "sunda" ceuk
kuring mah sah-sah we, da bongan we ngaku turunan ti Pajajaran (kuring boga
buku Babad Cirebon nu sabagaian eusina ngahubung-hubungkeun kasultanan
Cirebon jeung karajaan Pajajaran).

Kaduana Abidin Aslich oge kudu ningali kaayaan di luar propinsi Jawa Barat.
Ku sumanget otonomi nu rubah kana sumanget etnik, sumanget kudu "putra
Daerah" tambah kuat ayeuna teh. Teu percaya? mangga geura kukurilingan ka
luar jawa barat, bakal hese neangan pejabat daerah nu etnikna beda jeung
etnik nu dominan di eta daerah. Malah kuring ngadenge di Bali ayeuna, lamun
etnik lain rek digawe di hotel di Bali, kudu boga ijin heula ti Banjar.
Jeung loba deuih contona. Jadi lamun aya urang Sunda "heuras" jiga Agus
Kresna, nya wajar we, jeung kakara wacana, padahal di provinsi lain mah geus
dipraktekeun!.

Cag ......ah keur kararesel ...............

-WALUYA=

----- Original Message -----
From: Iwan Hermawan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, September 19, 2004 10:20 AM
Subject: [kisunda] kasundaan di jabar


> tina opini di KAlam JAbar-Republika, edisi Rabu 15 September 2004,
mudah-mudahan tiasa janten bahan renungan urang sadaya :
>
>
> Jawa Barat tak Cuma Sunda
> (Tanggapan untuk Agus Kresna dll)
> Laporan : Abidin Aslich
>
>
> Kekeliruan terbesar para pemikir Sunda adalah sering menafikan eksistensi
sosio-kultural entitas Cirebon tatkala membincangkan soal Jawa Barat. Mereka
kerap lupa, bahwa Jawa Barat tidak cuma dihuni masyarakat Sunda. Ada
stereotip masyarakat lainnya di Jawa Barat yang secara kultural maupun
kebahasaan tidak dapat serta merta ditarik ke dalam orbit Sunda. Stereotip
masyarakat seperti ini ada di Indramayu, Cirebon dan sebagian wilayah
Majalengka. Masyarakat di daerah-daerah ini lebih sering menyebut dirinya
sebagai Wong Cerbon ketimbang Urang Sunda.
>
> Ini sebuah garis 'demarkasi' kultural yang amat jelas dan, lebih jauh
lagi, sebuah penanda bahwa Wong Cerbon bukanlah Urang Sunda. Penanda
sederhana namun sesungguhnya memiliki makna yang dalam itu kerapkali
diabaikan oleh para pemikir atau budayawan Sunda tatkala mereka membicarakan
masalah Jawa Barat. Seolah-olah Jawa Barat adalah Sunda seutuhnya dan Sunda
adalah Jawa Barat seutuhnya. Dalam kaca mata Wong Cerbon, pandangan seperti
itu menyesatkan bahkan, meyakitkan hati. Ada sejumlah alasan yang perlu
direnungkan oleh para pemikir Sunda, mengapa mereka perlu mengakui bahwa di
Jawa Barat ini ada stereotip masyarakat lengkap dengan tata nilainya yang
tidak sama dan sebangun dengan stereotip masyarakat Sunda.
>
> Pertama, alasan historis. Literatur-literatur kuno yang membahas tentang
Cirebon (H J de Graaf, 1982) mendeskripsikan Cirebon masa lampau adalah
negeri pantai tempat bertemunya berbagai ras di dunia untuk urusan-urusan
politik, dagang, kebudayaan dan misi-misi keagamaan. Orang-orang dari Eropa,
Timur Tengah, Asia Kecil, Asia Tenggara, Cina dan bahkan Afrika Utara
berinteraksi satu dengan lainnya di negeri Cirebon. Pada perkembangannya,
interaksi tersebut dipercaya sebagai pembentuk konstruksi sosio-kultural
masyarakat Cirebon sekarang. Dengan demikian, masyarakat Cirebon sekarang
boleh dikatakan hasil 'bentukan' kebudayaan berskala mondial, dan bukan
hasil 'bentukan' kebudayaan 'pedalaman' yang tipikal dimiliki oleh
masyarakat Sunda.
>
> Kedua, alasan kebahasaan. Bahasa masyarakat Cirebon bukanlah bahasa Sunda,
namun juga bukan bahasa Jawa sebagaimana yang digunakan oleh masyarakat Jawa
Tengah atau Jawa Timur. Orang Cirebon memilih menyebut bahasanya sebagai
bahasa Cerbon. Pelapisan bahasanya pun tidak banyak bertingkat-tingkat
sebagaimana bahasa Sunda. Pada bahasa Sunda, untuk menyebut 'saya' digunakan
kata abdi, pribados, simkuring, aing, kaula dan sebagainya. Tergantung
subjek, ruang dan waktu. Pada bahasa Cirebon, untuk menyebut 'saya' cuma
dikenal isun (untuk kategori kasar) dan kula (untuk kategori halus). Ini
juga menunjukkan bahwa pelapisan sosial pada masyarakat Sunda lebih tinggi
ketimbang pelapisan sosial pada masyarakat atau Wong Cerbon.
>
> Ketiga, alasan khasanah seni budaya. Jenis-jenis kesenian Cirebon bercorak
khas serta unik dan sampai batas tertentu bersifat 'otonom'. Jenis-jenis
kesenian yang umum terdapat di Jawa Barat (wilayah Pasundan) dapat pula
ditemukan di Cirebon. Namun sebaliknya, jenis-jenis kesenian Cirebon akan
sulit ditemukan di wilayah-wilayah berbahasa Sunda. Keempat, alasan sejarah
kekuasaan. Cirebon adalah satu-satunya daerah di Jawa Barat yang memiliki
bangunan-bangunan peninggalan zaman lampau yang berwujud keraton-keraton
(kesultanan). Ada tiga keraton yang hingga kini masih berdiri tegak sebagai
bukti bahwa di Cirebon masa lalu ada pusat-pusat kekuasaan.
>
> Para peneliti boleh bersilang pendapat soal di mana sesungguhnya letak
kerajaan Sunda, Padjadjaran, karena memang hingga hari ini tidak pernah
ditemukan situs-situsnya secara utuh. Namun di Cirebon, tak perlu ada silang
pendapat soal di mana letak pusat kekuasaan Cirebon masa lampau. Perlu pula
dicatat, bahwa bangunan-bangunan keraton Cirebon merupakan paduan
anasir-anasir khas Hindu, Islam, Jawa dan Cina (sedikit pun tidak
dipengaruhi oleh anasir-anasir Sunda). Sejumlah argumen di atas menunjukkan
bahwa di Jawa Barat ada entitas masyarakat bukan Sunda dan karenanya,
membicarakan Jawa Barat tidaklah santun tanpa mempertimbangkan eksistensi
Cirebon.
>
> Tulisan-tulisan di harian ini tentang Sunda dan kesundaan yang merupakan
tanggapan-tanggapan dari tulisan Wawan Gunawan berjudul 'Sunda Tak Perlu
Dibela' (Republika, 11 Agustus 2004) menurut saya adalah egosentrisme orang
Sunda yang berlebihan. Lebih-lebih, tulisan karya Agus Kresna yang berjudul
'Syariat Sunda : Sebuah Keniscayaan di Jawa Barat ' (Republika, 8 September
2004) yang keliru menganalogkan Syariat Islam di Aceh dengan kemungkinan
penerapan syariat Sunda di Jawa Barat. Saya sebut keliru, karena sejumlah
alasan : (1) Sunda bukanlah agama dan tidak bisa disamakan dengan agama; (2)
Tata nilai Sunda tidak sama dengan tata nilai agama (Islam); (3) Jawa Barat
tidak melulu dihuni masyarakat Sunda.
>
> Ada entitas lain selain Sunda yang memiliki tata nilai sendiri dan jumlah
populasi yang tidak sedikit, yaitu wilayah Cirebon. Di samping masyarakat
pendatang yang sudah menganggap diri warga masyarakat Jawa Barat; (4) Jawa
Barat secara historis, politis maupun sosiologis berbeda dengan Aceh. Dengan
pertimbangan-pertimbangan itu, maka gagasan Agus Kresna tentang perlunya
Urang Sunda menguasai akses-akses pemerintahan, LSM, ormas dan
komponen-komponen penting masyarakat di Jawa Barat harus dianggap sebagai
gagasan yang berbahaya, chauvinistik, mundur (setback) dan tidak toleran.
Jika gagasan Agus Kresna yang artifisial itu dipertimbangkan, maka yakinlah
bahwa Jawa Barat bukannya maju, tetapi sebaliknya lebih terpelanting ke
belakang ke zaman Padjadjaran yang dikenal sejarah sebagai kerajaan yang
amat resisten terhadap perubahan.
>
> Agus Kresna mestinya melihat ke mancanegara, betapa sebuah negeri tak
harus dan tak selalu dipimpin oleh pribuminya sendiri. Alberto Fujimori,
mantan presiden Peru adalah peranakan Jepang. Arnold Schwazenegger adalah
seorang pria asal Austria yang kini menjadi gubernur di sebuah negara bagian
di Amerika Serikat. Sonia Gandhi, janda Rajeev Gandhi, adalah wanita asal
Italia yang menjadi pentolan Partai Kongres di India. Mengapa tidak? Gagasan
sundanisasi di pemerintahan, parlemen, ormas, LSM dan institusi-institusi
lain di Jawa Barat adalah gagasan 'mesum' yang akan menempatkan urang Sunda
sebagai masyarakat yang tipikal murni primitif, pemuja masa silam, paranoid,
anti-perubahan dan irrasional.
>
> Jika gagasan Agus Kresna dianggap feasible oleh urang Sunda, maka tak
perlu heran jika hal itu makin mengkristalkan gagasan tentang pemisahan
wilayah Cirebon dari Provinsi Jawa Barat, sebagaimana Banten yang lepas dari
Gedung Sate beberapa tahun silam. Wacana tentang provinsi Cirebon yang
sempat ramai diusung sejumlah elite sosial politik Cirebon beberapa waktu
lalu akan mendapatkan pembenaran dari perasaan terpinggirkan yang terus
disulut oleh klaim-klaim bahwa Jawa Barat adalah melulu Sunda. Inilah yang
perlu direnungkan oleh para pemikir Sunda.
>
> Karena, lepasnya Cirebon dari Jawa Barat dapat menimbulkan
konsekuensi-konsekuensi yang berat dan kompleks bagi Jawa Barat secara
keseluruhan. Atas dasar pertimbangan itu, seyogianya para pemikir Sunda
lebih arif dan membuka diri dalam mewacanakan Jawa Barat. Artinya, jangan
pernah menganggap bahwa Jawa Barat cuma bisa dilihat dan didekati dengan
perspektif Sunda dan kesundaan. Jawa Barat masa kini berbeda dengan Jawa
Barat puluhan tahun lampau. Jawa Barat masa kini telah dihuni oleh jutaan
manusia dari beragam ras, suku, agama dan kebudayaan sebagai konsekuensi
dari mobilitas perubahan yang terus-menerus berlangsung, tak terbendung dan
sangat kodrati.
>
> Dengan demikian, wacana sundanisasi Jawa Barat merupakan sesuatu yang
bertolak belakang dengan perubahan, pluralitas dan kehendak zaman. Dan
karenanya akodrati. Bahwa ada keluhan dari para pemikir Sunda tentang makin
dekadennya urang Sunda, kita tidak pungkiri. Namun amatlah naif ketika
pranata agama lebih banyak menawarkan solusi rekonstruksi moral, kita malah
berpaling kepada nilai-nilai masa lampau yang tidak separipurna agama.
Walhasil, Syariat Sunda? No Way!
>
>
>




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke