Di Serang, Banten masyarakatna seueur nu nyarios siga bahasa di Cirebon
(campuran sunda-jawa), kumargi teu bisa disangkal yen ieu pindahan ti
Cirebon (Sultan Banten anak Sunan Gunung Jati), nanging dugi danget ieu teu
aya masalah sareng wargi di Banten sanesna (Serang, luar Serang), nu mana di
Banten di luar Serang sareng sabagian Serang nyarios basa sunda (urang
sunda), toleransi, silih hormat, silih ngahargaan, contona bae upami aya
urang luar Serang (sunda) dongkap ka daerah Serang sapertos mesjid agung
banten, ku tuan rumah sering diajak nyarios sunda, najan dina sadidinten
nyarios sunda-jawa teu saeutik (seueur pisan) masyarakat Serang nu tiasa
nyarios sunda.Atuh perkawis pemisahan propinsi banten ti jabar kumargi
sabahagian masyarakat banten nganggep yen banten teh di anak tirikeun ku
bandung (oknum pejabat janten sanes sunda), padahal mah ayeuna di banten
masih keneh seueur idt, janten teu aya pisan hubunganana sareng sunda
atanapi heunteu.
Balik deui ka sajarah  Cirebon, Cirebon teh mangrupi bagian ti pajajaran
(sunda), malihan cakrabuana (adipati 1 cirebon) putra prabu siliwangi, sunan
gunung jati putu prabu siliwangi. Sunan Gunung Jati sateuacan janten
penguasa Cirebon, Cirebon mangrupi daerah sunda 100%, mung nalika anjeuna
tos janten wali sering kadongkapan warga-warga ti demak (jawa) kanggo diajar
islam, seueur oge kiriman laskar demak nu ngagabung ka laskar cirebon,
antukna masyakat cirebon nu tadina sunda janten nyarios jawa, kumargi tos
sipat urang sunda ngahormat, ngahargaan tamu, ti dieu urang tiasa ningali
nyen kumaha urang sunda sangat toleransi pisan ka pendatang, dugi
ngorbankeun bahasa sadidinten, jeung masrahkeun sabagian daerahna ka urang
jawa (demak). Janten teu tiasa disangkal yen warga cirebon nu nyarios
sunda-jawa teh kawitna mah pendatang, ayeuna kumaha sikep urang cirebon ?,
teu saeutik urang cirebon nu masalahkeun sunda, dina isu isu suku, budaya,
pejabat, jeung rea rea deui, malihan dina pemilihan gupernur jabar kamari
sultan cirebon ngaluarkeun pernyataan yen cirebon kumargi sanes sunda sok
dianaktirikeun ku bandung padahal mah Yogi S Memet teh urang Cirebon. Seuuer
na pernyataan ieu tiasa ngadu domba sunda-cirebon, nu ahirna bakalan silih
goreng sangka, silih sikut, jrrd.
Mung urang nyerat panjang-lebar teu aya hartosna di dieu, sim abdi hoyong
nyobi nyerat artikel di harian republika kanggo nanggap ieu artikel, mung
sim abdi teu terang kamana ngintunna (alamatna), atanpi carana ?, aya anu
terang

Wong Serang, Banten
----- Original Message -----
From: "Iwan Hermawan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, September 19, 2004 10:20 AM
Subject: [kisunda] kasundaan di jabar


> tina opini di KAlam JAbar-Republika, edisi Rabu 15 September 2004,
mudah-mudahan tiasa janten bahan renungan urang sadaya :
>
>
> Jawa Barat tak Cuma Sunda
> (Tanggapan untuk Agus Kresna dll)
> Laporan : Abidin Aslich
>
>
> Kekeliruan terbesar para pemikir Sunda adalah sering menafikan eksistensi
sosio-kultural entitas Cirebon tatkala membincangkan soal Jawa Barat. Mereka
kerap lupa, bahwa Jawa Barat tidak cuma dihuni masyarakat Sunda. Ada
stereotip masyarakat lainnya di Jawa Barat yang secara kultural maupun
kebahasaan tidak dapat serta merta ditarik ke dalam orbit Sunda. Stereotip
masyarakat seperti ini ada di Indramayu, Cirebon dan sebagian wilayah
Majalengka. Masyarakat di daerah-daerah ini lebih sering menyebut dirinya
sebagai Wong Cerbon ketimbang Urang Sunda.
>
> Ini sebuah garis 'demarkasi' kultural yang amat jelas dan, lebih jauh
lagi, sebuah penanda bahwa Wong Cerbon bukanlah Urang Sunda. Penanda
sederhana namun sesungguhnya memiliki makna yang dalam itu kerapkali
diabaikan oleh para pemikir atau budayawan Sunda tatkala mereka membicarakan
masalah Jawa Barat. Seolah-olah Jawa Barat adalah Sunda seutuhnya dan Sunda
adalah Jawa Barat seutuhnya. Dalam kaca mata Wong Cerbon, pandangan seperti
itu menyesatkan bahkan, meyakitkan hati. Ada sejumlah alasan yang perlu
direnungkan oleh para pemikir Sunda, mengapa mereka perlu mengakui bahwa di
Jawa Barat ini ada stereotip masyarakat lengkap dengan tata nilainya yang
tidak sama dan sebangun dengan stereotip masyarakat Sunda.
>
> Pertama, alasan historis. Literatur-literatur kuno yang membahas tentang
Cirebon (H J de Graaf, 1982) mendeskripsikan Cirebon masa lampau adalah
negeri pantai tempat bertemunya berbagai ras di dunia untuk urusan-urusan
politik, dagang, kebudayaan dan misi-misi keagamaan. Orang-orang dari Eropa,
Timur Tengah, Asia Kecil, Asia Tenggara, Cina dan bahkan Afrika Utara
berinteraksi satu dengan lainnya di negeri Cirebon. Pada perkembangannya,
interaksi tersebut dipercaya sebagai pembentuk konstruksi sosio-kultural
masyarakat Cirebon sekarang. Dengan demikian, masyarakat Cirebon sekarang
boleh dikatakan hasil 'bentukan' kebudayaan berskala mondial, dan bukan
hasil 'bentukan' kebudayaan 'pedalaman' yang tipikal dimiliki oleh
masyarakat Sunda.
>
> Kedua, alasan kebahasaan. Bahasa masyarakat Cirebon bukanlah bahasa Sunda,
namun juga bukan bahasa Jawa sebagaimana yang digunakan oleh masyarakat Jawa
Tengah atau Jawa Timur. Orang Cirebon memilih menyebut bahasanya sebagai
bahasa Cerbon. Pelapisan bahasanya pun tidak banyak bertingkat-tingkat
sebagaimana bahasa Sunda. Pada bahasa Sunda, untuk menyebut 'saya' digunakan
kata abdi, pribados, simkuring, aing, kaula dan sebagainya. Tergantung
subjek, ruang dan waktu. Pada bahasa Cirebon, untuk menyebut 'saya' cuma
dikenal isun (untuk kategori kasar) dan kula (untuk kategori halus). Ini
juga menunjukkan bahwa pelapisan sosial pada masyarakat Sunda lebih tinggi
ketimbang pelapisan sosial pada masyarakat atau Wong Cerbon.
>
> Ketiga, alasan khasanah seni budaya. Jenis-jenis kesenian Cirebon bercorak
khas serta unik dan sampai batas tertentu bersifat 'otonom'. Jenis-jenis
kesenian yang umum terdapat di Jawa Barat (wilayah Pasundan) dapat pula
ditemukan di Cirebon. Namun sebaliknya, jenis-jenis kesenian Cirebon akan
sulit ditemukan di wilayah-wilayah berbahasa Sunda. Keempat, alasan sejarah
kekuasaan. Cirebon adalah satu-satunya daerah di Jawa Barat yang memiliki
bangunan-bangunan peninggalan zaman lampau yang berwujud keraton-keraton
(kesultanan). Ada tiga keraton yang hingga kini masih berdiri tegak sebagai
bukti bahwa di Cirebon masa lalu ada pusat-pusat kekuasaan.
>
> Para peneliti boleh bersilang pendapat soal di mana sesungguhnya letak
kerajaan Sunda, Padjadjaran, karena memang hingga hari ini tidak pernah
ditemukan situs-situsnya secara utuh. Namun di Cirebon, tak perlu ada silang
pendapat soal di mana letak pusat kekuasaan Cirebon masa lampau. Perlu pula
dicatat, bahwa bangunan-bangunan keraton Cirebon merupakan paduan
anasir-anasir khas Hindu, Islam, Jawa dan Cina (sedikit pun tidak
dipengaruhi oleh anasir-anasir Sunda). Sejumlah argumen di atas menunjukkan
bahwa di Jawa Barat ada entitas masyarakat bukan Sunda dan karenanya,
membicarakan Jawa Barat tidaklah santun tanpa mempertimbangkan eksistensi
Cirebon.
>
> Tulisan-tulisan di harian ini tentang Sunda dan kesundaan yang merupakan
tanggapan-tanggapan dari tulisan Wawan Gunawan berjudul 'Sunda Tak Perlu
Dibela' (Republika, 11 Agustus 2004) menurut saya adalah egosentrisme orang
Sunda yang berlebihan. Lebih-lebih, tulisan karya Agus Kresna yang berjudul
'Syariat Sunda : Sebuah Keniscayaan di Jawa Barat ' (Republika, 8 September
2004) yang keliru menganalogkan Syariat Islam di Aceh dengan kemungkinan
penerapan syariat Sunda di Jawa Barat. Saya sebut keliru, karena sejumlah
alasan : (1) Sunda bukanlah agama dan tidak bisa disamakan dengan agama; (2)
Tata nilai Sunda tidak sama dengan tata nilai agama (Islam); (3) Jawa Barat
tidak melulu dihuni masyarakat Sunda.
>
> Ada entitas lain selain Sunda yang memiliki tata nilai sendiri dan jumlah
populasi yang tidak sedikit, yaitu wilayah Cirebon. Di samping masyarakat
pendatang yang sudah menganggap diri warga masyarakat Jawa Barat; (4) Jawa
Barat secara historis, politis maupun sosiologis berbeda dengan Aceh. Dengan
pertimbangan-pertimbangan itu, maka gagasan Agus Kresna tentang perlunya
Urang Sunda menguasai akses-akses pemerintahan, LSM, ormas dan
komponen-komponen penting masyarakat di Jawa Barat harus dianggap sebagai
gagasan yang berbahaya, chauvinistik, mundur (setback) dan tidak toleran.
Jika gagasan Agus Kresna yang artifisial itu dipertimbangkan, maka yakinlah
bahwa Jawa Barat bukannya maju, tetapi sebaliknya lebih terpelanting ke
belakang ke zaman Padjadjaran yang dikenal sejarah sebagai kerajaan yang
amat resisten terhadap perubahan.
>
> Agus Kresna mestinya melihat ke mancanegara, betapa sebuah negeri tak
harus dan tak selalu dipimpin oleh pribuminya sendiri. Alberto Fujimori,
mantan presiden Peru adalah peranakan Jepang. Arnold Schwazenegger adalah
seorang pria asal Austria yang kini menjadi gubernur di sebuah negara bagian
di Amerika Serikat. Sonia Gandhi, janda Rajeev Gandhi, adalah wanita asal
Italia yang menjadi pentolan Partai Kongres di India. Mengapa tidak? Gagasan
sundanisasi di pemerintahan, parlemen, ormas, LSM dan institusi-institusi
lain di Jawa Barat adalah gagasan 'mesum' yang akan menempatkan urang Sunda
sebagai masyarakat yang tipikal murni primitif, pemuja masa silam, paranoid,
anti-perubahan dan irrasional.
>
> Jika gagasan Agus Kresna dianggap feasible oleh urang Sunda, maka tak
perlu heran jika hal itu makin mengkristalkan gagasan tentang pemisahan
wilayah Cirebon dari Provinsi Jawa Barat, sebagaimana Banten yang lepas dari
Gedung Sate beberapa tahun silam. Wacana tentang provinsi Cirebon yang
sempat ramai diusung sejumlah elite sosial politik Cirebon beberapa waktu
lalu akan mendapatkan pembenaran dari perasaan terpinggirkan yang terus
disulut oleh klaim-klaim bahwa Jawa Barat adalah melulu Sunda. Inilah yang
perlu direnungkan oleh para pemikir Sunda.
>
> Karena, lepasnya Cirebon dari Jawa Barat dapat menimbulkan
konsekuensi-konsekuensi yang berat dan kompleks bagi Jawa Barat secara
keseluruhan. Atas dasar pertimbangan itu, seyogianya para pemikir Sunda
lebih arif dan membuka diri dalam mewacanakan Jawa Barat. Artinya, jangan
pernah menganggap bahwa Jawa Barat cuma bisa dilihat dan didekati dengan
perspektif Sunda dan kesundaan. Jawa Barat masa kini berbeda dengan Jawa
Barat puluhan tahun lampau. Jawa Barat masa kini telah dihuni oleh jutaan
manusia dari beragam ras, suku, agama dan kebudayaan sebagai konsekuensi
dari mobilitas perubahan yang terus-menerus berlangsung, tak terbendung dan
sangat kodrati.
>
> Dengan demikian, wacana sundanisasi Jawa Barat merupakan sesuatu yang
bertolak belakang dengan perubahan, pluralitas dan kehendak zaman. Dan
karenanya akodrati. Bahwa ada keluhan dari para pemikir Sunda tentang makin
dekadennya urang Sunda, kita tidak pungkiri. Namun amatlah naif ketika
pranata agama lebih banyak menawarkan solusi rekonstruksi moral, kita malah
berpaling kepada nilai-nilai masa lampau yang tidak separipurna agama.
Walhasil, Syariat Sunda? No Way!
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
> PENTING..!
>
> attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
>
> dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi
berupa pencabutan membership.
>
> terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke