Hatur nuhun Bah Willy kana waleranana. Puguh kamari
teh mendak artikel di PR, anu ngabahas HHM. Numutkeun
eta artikel geuning anjeunna teh sanes jalmaa samanea.
Nya kuring panasaran, pedah nalika di Bandung ngan
ukur terang jalan anu namina HHM. Dihubung-hubungkeun
sareng seratan Kang Ajip, nya aya kapanasaran, naha
saha atuh HHM teh. Pedah arang kasebut-sebut. 

Tah ieu geura Bah artikelna.

Salam,
MH
=========
PR. KHAZANAH. Kamis, 16 Januari 2003
Haul Ke-73 Wafatnya Begawan Sirna di Rasa 
K.H. Hasan Mustapa

Menelisik yang Terpendam dan Dipendam

SOSOK K.H. Hasan Mustapa (HHM) yang dikenal dengan
julukan Begawan Sirna di Rasa menduduki posisi yang
dianggap penting dalam khazanah kebudayaan Sunda. Ia
bagaikan pelita di atas meja pualam. Semua orang yang
melihat atau sempat melihatnya diam mematung seolah
tersihir dan silau oleh kilau cahaya yang
dipancarkannya. Selanjutnya pujian dan sanjungan pun
terucap deras. 

Semua orang, khususnya budayawan Sunda mengenal
kebesaran HHM, namun sulit untuk dipastikan berapa
banyak yang sempat dan memberanikan diri untuk
menyentuhnya, untuk "sekadar" merasakan hangat nyala
api karya dan pemikirannya. Jarang sekali yang punya
keberanian untuk mendekati dan menyentuhnya, takut
tangannya terbakar lidah api dan menghanguskan
tubuhnya. Khawatir katulah dengan perkataan
Wangsaatmadja, "Anu maos ieu salancar teu tanggel
kadongkapan pimamalaeunana." 

Perkataan itu tidak terlalu salah, bahkan sangat benar
karena hanya orang yang punya keberanian dan bekal
yang cukup yang akan selamat dan mendapatkan mutiara
dari pelayaran mengarungi lautan karya dan pemikiran
seorang begawan sekelas HHM yang sarat dengan gejolak.

"Percintaan" yang terjadi antara budayan Sunda dan HHM
bagaikan percintaan dua orang muda-mudi di dunia maya,
penuh gejolak, dan membara, namun tidak pernah
merasakan hangatnya persentuhan. Karya besar HHM
bagaikan prasasti yang terbuat dari pualam, berdiri
megah dihiasi ribuan permata. Namun, tak pernah
seorang pun berani datang untuk menikmati keindahannya
karena takut mengotori kesuciannya. Kemegahan yang
sepi tanpa gairah. 

Keheningan itu bermula sejak tahun 1930, tujuh puluh
tiga tahun yang lalu. Tepatnya pada tanggal 13 Januari
1930 saat HHM kembali ke haribaan Ilahi Rabbi. Kini,
tujuh puluh tiga tahun telah lewat, waktu seperti
dilipat, tanpa cacatan yang berarti. Jejak yang
dibuatnya selama delapan puluh tahun berakhir di
sisian batu keras yang luas menghampar. Tak seorang
yang mampu meneruskan jejaknya di atas kerasnya
hamparan batu itu.
Ilustrasi tersebut barangkali terlalu dibesar-besarkan
dan berbau pesimistik kalau bukan sinis. Namun, bagi
yang berpandangan waskita, keheningan itu tidak
mengherankan karena HHM sendiri pernah mengatakan
bahwa karya dan pemikirannya baru akan disentuh oleh
sejumlah nonoman Sunda jauh setelah HHM tiada. Kini,
gairah itu mulai bermunculan walaupun masih seperti
angin semilir yang hanya bisa dirasakan oleh yang
memerhatikannya. Memang itu belum cukup untuk
mengungkap karya besar putra terbaik dari salah satu
komunitas etnik terbesar di Tatar Nusantara ini.
Kebesaran HHM memang belum bisa dianggap sebagai milik
bangsa Indonesia secara keseluruhan sehingga jarang
(untuk tidak mengatakan "tidak ada") yang tertarik
untuk meliriknya karena masyarakat Sunda sendiri masih
setengah hati untuk mengangkatnya ke permukaan.

Kini, peninggalkan HHM tak lebih sekadar menjadi
pusaka spiritual yang disimpan di dalam peti-peti
keramat oleh pemegangnya, tanpa rasa berdosa bahwa ia
telah mengubur pusaka yang semua orang berhak pula
untuk mengambil manfaatnya. Padahal, sejumlah orang
yang berniat serius untuk mengkaji dan menggali pusaka
itu, diliputi kekecewaan karena berakhir dengan tangan
hampa setelah kelelahan mencarinya. Bisa dipahami bila
orang merasa kesulitan untuk memahami dan mendalami
pemikiran dan karya besar HHM, tetapi sulit dimengerti
bila mutiara itu hanya disimpan sendiri hanya sebagai
pajangan atau kebanggaan pribadi tanpa memberi
kesempatan kepada orang lain untuk menggalinya, dengan
berbagai alasan.
Dengan kecenderungan profesionalisme dan pemilahan
ilmu yang kini terjadi memang menjadi sulit untuk
menggali pemikiran dan maha karya HHM karena
diperlukan multidisipliner untuk memahami dan
menggalinya. Paling tidak dari disiplin sastra Sunda,
budaya, agama (khususunya tasawuf dan kalam), dan
filsafat. Dengan demikian diperlukan suatu konsorsium
yang terdiri dari berbagai ahli dari berbagai latar
belakang keahlian dan ilmu tersebut. 

Mengorek mutiara yang dipendam

Dari pengamatan penulis baru terdapat beberapa tulisan
yang mengkaji "pemikiran" (selain sejarah, antologi
karya, biografi HHM, ataupun deskripsi tipologi karya
HHM) beberapa dalam bentuk penelitian skripsi dan dua
tulisan dalam bentuk penelitian Tesis. Pertama yang
ditulis Jajang Jahroni, dengan judul "Haji Hasan
Mustapa (1852-1930) as The Great Sundanese Mystic"
(Haji Hasan Mustapa (1852-1930) Seorang Sufi Besar
Sunda), sebuah penelitian tentang karakteristik dan
tipologi pemikiran tasawuf K.H. Hasan Mustapa sebagai
salah seorang tokoh sufi Sunda. Tulisan ini merupakan
tugas akhir studinya di Belanda untuk mendapat gelar
M.A. Jajang adalah seorang Dosen Fakultas Adab IAIN
Sunan Kalijaga Jakarta. Kedua dengan judul "Eksistensi
Manusia Menurut K.H. Hasan Mustapa (1852-1930)" yang
di-tulis Ahmad Gibson Al-Bustomi yang juga dalam
bentuk penelitian tesis dalam konsentrasi akidah dan
pemikiran Islam di program pascasarjana IAIN Sunan
Gunung Djati Bandung.

Jajang menjelaskan bahwa pemikiran tasawuf HHM
dipengaruhi oleh empat sufi besar, antara lain: Syaikh
Muhyi al-Din ibn 'Arabi melalui kitab al-Futuhat
al-Makiyya dan 'Abd al-Karim al-Jilli melalui kitab
al-Insan al-Kamil fi Ma'rifat al-Awakhir wa al-Awa'il.
Pengaruh kedua sufi ini terutama pada pandangan
teosofinya, yang berpijak pada teori metafisika
wihdatul wujud. Secara khusus pengaruh al-Jilli,
sebenarnya, sangat tampak pada kesamaan antara
fase-fase atau maqomat yang diadopsi HHM yang tertuang
dalam "Sasaka di Kaislaman" hanya berbeda dalam
perumusan argumen dan pemaparannya. Dua sufi lainnya
yang berpengaruh pada pandangan ketasawufan HHM dalam
dari al-Ghazali melalui kitab Ihya 'Ulum al-Din yang
berusaha untuk menghubungkan antara syariat dan
thariqat. Ibn Fadlillah al-Burhanpuri perumus awal
konsep Martabat Tujuh, yang menulis al-Tuhfa
al-Mursala ila al-Ruh al-Nabi. Jajang menjelaskan
bahwa HHM telah berhasil merelasikan antara tradisi
mistik lokal Jawa-Sunda dan tradisi tasawuf klasik
Islam. Hal tersebut, katanya, tampak dalam
membandingkan antara term-term kosmologi Jawa-Sunda
baik dalam mitologi maupun pewayangan dengan term-term
yang dikenal dalam tasawuf. 

Sementara itu dalam tesis yang berjudul "Eksistensi
Manusia Menurut K.H. Hasan Mustapa (1852-1930)" dengan
menggunakan pendekatan filsafat Eksistensialisme,
Gibson berusaha membedah pemikiran HHM tentang
eksistensi manusia. Dalam penelitian tersebut
ditemukan bahwa inti pemikiran HHM khususnya tentang
manusia dan eksistensi manusia terangkum dalam dua
naskah besarnya, yaitu naskah Gelaran Sasaka di
Kaislaman dan naskah (Ajip Rosidi menyebutnya sebagai
catatan ringkas) Martabat Tujuh. Pemikiran-pemikiran
HHM yang terinci dalam ribuan Dangding tersebut bila
dikerucutkan dalam tema sentral eksistensi manusia,
terangkum dalam dua naskah besar tersebut.

Bila menggunakan perspektif filsafat Eksistensialisme
Gelaran Sasaka di Kaislaman merupakan naskah yang
menjelaskan fase-fase aktualisasi eksistensi seorang
manusia yang berhadapan dengan sejumlah norma-norma
sosial yang oleh individu manusia pada umumnya
disikapi (secara sadar) dan secara faktual (di luar
kesadaran sadar) merupakan unsur yang mengancam
eksistensi dan otonomi individu. Dalam naskah tersebut
HHM menegaskan bahwa justru tekanan-tekanan norma
sosial (agama) tersebut secara eksistensial merupakan
unsur dialektis yang menjadi potensi pendorong dan
dinamisator bagi munculnya proses penyadaran
eksistensi manusia. Gelaran Sasaka di Kaislaman
sebagai fase aktualisasi eksistensi manusia diawali
oleh fase atau maqomat Islam hingga Kurbah. Maqomat
Islam sebagai maqomat awal hingga maqomat Sahadah,
digambarkan HHM sebagai maqomat yang sarat dengan
sikap "menyebelah" dari individu manusia dalam
memandang apa pun, baik diri maupun sesuatu di luar
diri dan mulai maqomat Sidiqiah hingga Kurbah
sikap-sikap menyebelah tersebut secara bertahap hilang
dari cara pandang individu manusia. HHM melihat bahwa
pada gelaran inilah sikap dan cara pandang
keberagamaan manusia lahir dalam pengertian yang
sesungguhnya. 
Naskah Martabat Tujuh-nya HHM menjelaskan fase
lanjutan dari fase-fase yang dilalui dalam Gelaran
Sasaka di Kaislaman. Suatu fase puncak dalam sikap dan
cara pandang keagamaan yang berakhir pada maqomat
Insan Kamil. Maqom yang tidak lagi melihat perbedaan
dan pertentangan dalam kehidupan di dunia sebagai
kenyataan hakikiah. Perbedaan-perbedaan dan
pertentangan tersebut tak lebih disebabkan oleh cara
pandang manusia yang memiliki kecenderungan menyebelah
dan mengutub. Cara pandang yang terlahir dari sikap
yang membedakan secara radikal sifat-sifat Jamal dan
Jalal Tuhan yang termanifestasi dalam keragaman alam
makhluknya. Individu manusia yang telah sampai pada
maqom Insan Kamil, memandang bahwa keragaman tersebut
tak lebih dari manifestasi dari sifat Jamal dan Jalal
Tuhan yang merupakan derivasi (tajalli) dari sifat
Kamal atau Kemahasempurnaan Tuhan.

Dari kedua tulisan tersebut tampak dan dapat dimaklumi
betapa pemikiran HHM dipijakkan di atas dasar-dasar
teori besar, khususnya teori teosofi yang dalam dunia
pesantren sekalipun dianggap sebagai teori yang tidak
bisa dipelajari secara mudah. 

Dengan demikian, wajarlah bila ditemukan kesulitan
yang tidak kecil dalam memahami dan mendalami
pemikiran dan karya besar HHM karena diperlukan
sejumlah disiplin yang memadai, khususnya dalam bidang
sastra Sunda, budaya, agama (khususunya tasawuf dan
kalam), dan filsafat.

Tampaknya persoalan yang terjadi bukan hanya dalam
mengkaji dan mendalami karya dan pemikiran HHM, tetapi
juga dalam mengkaji budaya Sunda karena bila benar
bahwa HHM merupakan representasi ideal budayawan dan
pencetus konsep ideal manusia Sunda, maka untuk
mengkaji persoalan kesundaan, persiapan dan bekal yang
harus disiapkan dan dimiliki kurang lebih sama. Oleh
karena itu, keberadaan konsorsium sebagai alat dan
sistem kajian untuk mengorek mutiara dari khazanah
budaya Sunda yang dipendam dan terpendam menjadi
prasyarat yang mutlak adanya.***

*) Penulis: Ketua Jurusan Aqidah Filsafat, Dosen
Teologi dan Filsafat di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan
Gunung Djati Bandung.*



=====
Situs: http://free.angeltowns.com/studio579/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke