Ieu aya seratan dihandap, mamanawian aya mangpaat....
---------- Forwarded message ----------
From: SUGANDI, Rachmat <[EMAIL PROTECTED]>
Date: May 2, 2006 6:38 PM
Subject: Bagaimana nasib anak-anak kita?
To: "SUGANDI, Rachmat" <[EMAIL PROTECTED]>, Hendarin Riandi < [EMAIL PROTECTED]>, Ikmal <[EMAIL PROTECTED]>, "M. Arief Tarunaprawira" <[EMAIL PROTECTED]>, Afrinaldi - TelkomNet < [EMAIL PROTECTED]>
Cc: Danie Bernady <[EMAIL PROTECTED]>, Eko Ruska Nugraha < [EMAIL PROTECTED]>, Ikmal <[EMAIL PROTECTED]>, Jerry Yoestiadi <[EMAIL PROTECTED]>, Rachmat Sugandi Hamdani < [EMAIL PROTECTED]>, "Supiyan, Ucup" <[EMAIL PROTECTED]>
Baraya Kandaga,
Tulisan Terlampir (Kang Yusman MS ITB 72) ini merepresentasikan tantangan saat ini dan projeksi tantangan generasi anak-anak kita disaat mendatang.
Kelihatannya dimasa yang akan datang (generasi anak2 kita) akan semakin banyak putera-puteri terbaik Indonesia yang harus terpaksa `hengkang` dari tanah Indonesia tercinta ke mancanagara,..demi profesionalisme dan mencari nafkah,..
Pemimpin negara kita sedang sibuk bertarung sesamanya untuk merebut kekuasaan,...projects,...dan sedang membawa kita menjadi bangsa tukang jahit,..yang lebih parah lagi (banyak yang sudah gak punya mesin jahitnya),....bangsa buruh,...seperti kaum sudra dan paria (simulasi tatanan masyarakat hindu) diantara bangsa-bangsa di dunia.
Dari sisi teknologi,...sudah puluhan tahun kita terpuruk menjadi bangsa tukang jahit,...Dari sisi pertanian perikanan dan peternakan pun, sekarang mata saya menjadi lebih terbuka lebar;,.....kita yang dikenal sebagai bangsa agraris pun,...terpuruk jauh,...bahkan kalau dibandingkan dengan negara tetangga seperti malaysia dan Thailand,....Dibidang P3;
Riset dan Development mereka sangat jauh meninggalkan Indonesia,....
Bagaimana nasib anak-anak kita nantinya?
Baktosna
Andi
-----Pergulatan Mencari Solusi Keilmuan
Yusman SD
Migrasi atau berpindahnya para ilmuwan dan insinyur terbaik yang
dimiliki Indonesia ke negara lain setelah sebelumnya disekolahkan dan
diinvestasikan oleh negara dalam program-program pengembangan
teknologi merupakan suatu fenomena yang sangat sukar ditemukan
solusinya.
Di satu sisi, hengkangnya putra-putri terbaik bangsa yang telah
menyandang gelar PhD, S2, dan S1 merupakan bentuk kesia-siaan. Di lain
pihak, tanpa program pengembangan iptek dengan visi dan grand strategy
masa depan yang dapat digunakan sebagai acuan bersama untuk membangun
kemampuan rekayasa rancang bangun dan iptek pengolahan sumber daya
alam di Indonesia, kehadiran para ilmuwan berbakat juga akan berujung
pada penantian sia-sia.
Tahun 2002, juara dunia sepak bola, Perancis, ditaklukkan oleh Senegal
dalam perebutan Piala Dunia. Sebelas pemain sepak bola terbaik yang
dimiliki Senegal sebelumnya telah dikecam oleh pencinta sepak bola dan
dianggap tidak nasionalis. Mereka bermigrasi ke klub-klub sepak bola
kelas dunia di Eropa untuk berkompetisi. Fenomena migrasi 11 pemain
sepak bola ini mirip dengan peristiwa migrasi ilmuwan Indonesia ke
negara lain, sebagaimana juga dialami Jerman, Brasil, Amerika Serikat,
Perancis, dan Malaysia.
Di Amerika seorang doktor biologi asal Aceh mengabdikan iptek dalam
riset bioengineering di Universitas Washington. Beberapa engineer ahli
perangkat lunak sedang menapak karier menjadi top level scientist di
Microsoft Seattle. Seorang doktor ahli roket lulusan ITB menjadi top
scientist di Laboratorium Martin Thiokol, industri pengembang roket
luar angkasa penggendong pesawat ulang alik Discoveries, di Utah.
Sedangkan program pengembangan pesawat jumbo jet Airbus A380, dan
pesawat Regional Jet di Embraer Brazilia berhasil diterbangkan ke
udara dengan kontribusi analisis engineering dan ratusan gambar teknik
yang dibuat oleh 70 ilmuwan terampil, alumni Industri Dirgantara
Indonesia.
Kompetisi dunia
Para ilmuwan profesional itu rindu akan tantangan pekerjaan yang
sesuai dengan tingkat keahlian yang dimiliki. Mereka mencari tempat di
mana mereka dapat bekerja sama dan saling berkompetisi dengan para
ilmuwan tingkat dunia. Mereka mencari sektor pekerjaan di mana ada
pergulatan dengan persoalan yang amat rumit dan sekaligus menantang.
Mereka ingin menemukan daerah penjelajahan makna iptek yang baru (new
frontiers) di mana pelbagai jenis kemungkinan solusi alternatif dan
oportunitas baru dapat dijumpai (the beauty of bewilderment of new
territories).
Tugas dan fungsi ilmuwan adalah menyelesaikan problem yang dihadapi
bangsa dengan metode, cara kerja, dan penemuan baru. Melalui imajinasi
dan kesasmitaan yang dimiliki berdasarkan pengalaman, para ilmuwan
terbaik suatu bangsa selalu dituntut melahirkan inovasi. Karena itu
tidak heran jika para ilmuwan selalu mencari kelengkapan peralatan
penelitian (equipments), buku-buku referensi, dan laboratorium yang
canggih. Tanpa buku dan peralatan laboratorium yang tepat guna,
ilmuwan seperti koboi yang berkelana dalam dunia wild west tanpa
pistol.
Para ilmuwan Indonesia yang menetap sementara di luar negeri mempunyai
komunitas dan diaspora jaringan kerja yang dikenal sebagai the gypsy
of scientist yang terdiri dari pelbagai suku bangsa dan
kewarganegaraan. Mirip suku gipsi, para ilmuwan ini mempunyai
kebiasaan untuk hidup sebagai profesional nomaden yang berpindah
tempat kerja dari satu lokasi industri ke lokasi lain. Yang dicari
adalah program pengembangan produk baru, baik penciptaan rekayasa
genetika benih unggul, pembuatan pesawat terbang, roket, serta sistem
eksplorasi geologi dan minyak bumi maupun pengembangan sistem
perangkat lunak komputer masa kini.
Mereka mengikuti jejak ilmuwan Jerman yang menemukan daya survivalnya
dalam kancah candradimuka riset pengembangan di negara lain. Kalah
dalam Perang Dunia Kedua menyebabkan Jerman kehilangan ilmuwan genius
seperti Von Braun. Tim ilmuwan Jerman yang dikelola oleh Von Braun
dalam pengembangan roket untuk menaklukkan ruang angkasa telah
melahirkan Pusat Antariksa Amerika NASA dan menyebabkan bangsa Amerika
merebut supremasi dari Rusia dalam menempatkan manusia pertama di
bulan.
Kini tiap tahun ada 6.000 ilmuwan dan tenaga terampil Jerman mencari
lokasi kerja yang mampu menyediakan persoalan berat serta imbalan yang
menarik dan menantang kreasi daya cipta mereka. Majalah The Scientist
melaporkan satu dari tiap tujuh doktor meninggalkan Jerman menuju
Amerika. Di antaranya tiga pemenang hadiah Nobel asal Jerman bekerja
di pusat penelitian Amerika. Gerd Kemperman, ahli biologi molekuler
Jerman, menyatakan tata cara kerja dan peralatan laboratorium di
Amerika lebih memberikan kebebasan dan kemungkinan besar bagi dirinya
untuk menemukan formula molekuler baru. Sayonara Jerman, katanya.
Di Indonesia, pemerintah kini sibuk dengan sikap antiproteksi dan
subsidi. Semua insentif dianggap barang haram dan tanda kemanjaan.
Pemerintah hanya memfokuskan diri pada pengurangan anggaran belanja,
yang dipandang dan dikategorikan sebagai "subsidi". Akibatnya
kehilangan jangkauan pentingnya iptek untuk kemandirian masa depan
bangsa dan kurang sungguh-sungguh menciptakan program yang memberikan
kepercayaan kepada kemampuan ilmuwan bangsa sendiri.
Sementara di negara lain, ilmuwan Indonesia menemukan surga
penelitian. Di Malaysia mereka dipayungi oleh Visi 2020 dan alokasi
dana riset. Di Amerika, Jerman, Brasil, dan Malaysia, mereka ikut
menikmati pelbagai jenis subsidi tidak langsung dalam program Riset
Pengembangan Produk Baru. Di banyak negara, seperti Turki, Singapura,
Malaysia, Thailand, dan Taiwan, terdapat lokasi seperti "silicon
valley Amerika" sebagai pusat inkubasi iptek tempat tumbuh
berkembangnya embrio penelitian ke dalam dunia bisnis dan
komersialisasi, yang bukan tidak mungkin ada ilmuwan Indonesia-nya. Di
pusat inkubasi iptek seperti science center itu pemerintah negara
tersebut memberi insentif dan kemudahan fasilitas bagi para ilmuwan
pencipta karya teknologi untuk berinteraksi dengan sektor riil dan
dunia bisnis.
Berjuang sendiri
Di Indonesia, konsep taman iptek (technology and science park) sebagai
pusat inkubator teknologi pernah dilahirkan oleh Sumitro
Djojohadikusumo dan dibangun infrastruktur ipteknya oleh BJ Habibie
dan dikenal dengan nama Puspiptek Serpong.
Kini lokasi tersebut rimbun dengan alang-alang, dan para ilmuwan yang
bekerja di sana berjuang sendiri mencari anggaran biaya riset dan
kerja sama dengan sektor riil untuk menemukan dan menciptakan karya
teknologi terbaiknya.
Karena itu, sudah saatnya VISI 2020 dan Grandstrategy IPTEK 2010
dirumuskan kembali. Dengan visi dan grandstrategy iptek yang jelas dan
terarah, persoalan bangsa seperti mahalnya biaya energi untuk
industri, pengembangan industri petrokimia, eksplorasi minyak di Blok
Cepu dan Pulau Natuna, modernisasi mesin tekstil, program benih unggul
dalam revitalisasi pertanian, dan modernisasi sistem persenjataan
dapat digunakan sebagai wahana yang menantang kreativitas dan
kegeniusan para ilmuwan Indonesia.
Melalui program kerja yang sistematis dan terencana, ilmuwan dapat
ditempatkan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi bangsa
berbasis iptek dan dapat didayagunakan untuk peningkatan daya saing
Indonesia menuju Supremasi Industri Indonesia. Baik itu industri
berbasis sumber daya alam maupun industri yang berdasarkan kadar
kecanggihan kandungan ipteknya.
Jika VISI 2020 tidak lahir, bukan tidak mungkin, Oscar, genius muda
dari Papua, sang juara dunia Olimpiade Fisika, akan berkata: "Sayonara
iptek Indonesia...."
Yusman SD Mantan Dirut PT Dirgantara Indonesia 2000-2002, dan Chairman
Matsushita Gobel Education Foundation
This mail has originated outside your organization, either from an external partner or the Global Internet. Keep this in mind if you answer this message. |
--
http://daria.web.id ->Distributor Bandrek, Bajigur Hanjuang
http://www.urang-sunda.or.id -> Kusnet
http://www.geocities.com/kandagaweb ->kandaga integrated organic farming
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
SPONSORED LINKS
| Corporate culture | Business culture of china | Organizational culture |
| Organizational culture change | Organizational culture assessment | Jewish culture |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

