Mangga kanu ngaraos ngagem islam aya seratan nu sae ti KH Hasan Mustofa Bisri 
di Jawa Pos dinten ieu...


     
     
            Rabu, 23 Apr 2008,
            Yang Sesat dan Yang Ngamuk 


            Oleh A. Mustofa Bisri 

            Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya mengira massa yang 
ditayangkan TV itu adalah orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya, 
mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya yang menonton tayangan 
berita sejak awal, mereka itu adalah orang-orang yang ngamuk terhadap kelompok 
Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI. 

            Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat 
harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, 
tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu 
sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu.

            Konon orang-orang yang ngamuk itu adalah orang-orang Indonesia yang 
beragama Islam. Artinya, orang-orang yang berketuhanan Allah Yang Mahaesa dan 
berkemanusiaan adil dan beradab. Kita lihat imam-imam mereka yang beragitasi 
dengan garang di layar kaca itu kebanyakan mengenakan busana Kanjeng Nabi 
Muhammad SAW.

            Kalau benar mereka orang-orang Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, 
mengapa mereka tampil begitu sangar, mirip preman? Seolah-olah mereka tidak 
mengenal pemimpin agung mereka, Rasulullah SAW. 

            Kalau massa yang hanya makmum, itu masih bisa dimengerti. Mereka 
hanyalah mengikuti telunjuk imam-imam mereka. Tapi, masak imam-imam -yang 
mengaku pembela Islam itu- tidak mengerti misi dan ciri Islam yang rahmatan lil 
'aalamiin, tidak hanya rahmatan lithaaifah makhshuushah (golongan sendiri). 
Masak mereka tidak tahu bahwa pemimpin agung Islam, Rasulullah SAW, adalah 
pemimpin yang akhlaknya paling mulia dan diutus Allah untuk menyempurnakan 
akhlak manusia. 

            Masak mereka tidak pernah membaca, misalnya ayat "Ya 
ayyuhalladziina aamanuu kuunuu qawwamiina lillah syuhadaa-a bilqisthi.al-aayah" 
(Q. 5: 8). Artinya, wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu penegak-penegak 
kebenaran karena Allah dan saksi-saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali 
kebencianmu kepada suatu kaum menyeret kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku 
adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa. Takwalah kepada Allah. Sungguh 
Allah Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan.

            Apakah mereka tidak pernah membaca kelembutan dan kelapangdadaan 
Nabi Muhammad SAW atau membaca firman Allah kepada beliau, "Fabimaa rahmatin 
minaLlahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfaddhuu min 
haulika. al-aayah" (Q. 3: 159). Artinya, maka disebabkan rahmat dari Allah-lah 
engkau berperangai lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau kasar dan 
berhati kejam, niscaya mereka akan lari menjauhimu." 

            Tak Mengerti 

            Sungguh saya tidak mengerti jalan pikiran atau apa yang merasuki 
pikiran mereka sehingga mereka tidak mampu bersikap tawaduk penuh pengayoman 
seperti dicontoh-ajarkan Rasulullah SAW di saat menang. Atau, sekadar 
membayangkan bagaimana seandainya mereka yang merupakan pihak minoritas (kalah) 
dan kelompok yang mereka hujat berlebihan itu mayoritas (menang). 

            Sebagai kelompok mayoritas, mereka tampak sekali -seperti kata 
orang Jawa- tidak tepa salira. Apakah mereka mengira bahwa Allah senang dengan 
orang-orang yang tidak tepo saliro, tidak menenggang rasa? Yang jelas Allah, 
menurut Rasul-Nya, tidak akan merahmati mereka yang tidak berbelas kasihan 
kepada orang. 

            Saya heran mengapa ada -atau malah tidak sedikit- orang yang sudah 
dianggap atau menganggap diri pemimpin bahkan pembela Islam, tapi berperilaku 
kasar dan pemarah. Tidak mencontoh kearifan dan kelembutan Sang Rasul, pembawa 
Islam itu sendiri. Mereka malah mencontoh dan menyugesti kebencian terhadap 
mereka yang dianggap sesat. 

            Apakah mereka ingin meniadakan ayat dakwah? Ataukah, mereka 
memahami dakwah sebagai hanya ajakan kepada mereka yang tidak sesat saja? 

            Atau? Kelihatannya kok tidak mungkin kalau mereka sengaja berniat 
membantu menciptakan citra Islam sebagai agama yang kejam dan ganas seperti 
yang diinginkan orang-orang bodoh di luar sana. Tapi. 


            KH A. Mustofa Bisri, pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang 
           
     


  ----- Original Message ----- 
  From: Waluya 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, April 22, 2008 8:34 PM
  Subject: Re: [Urang Sunda] kultus ala india


        ***********************
        Your mail has been scanned by 
        Telkom Anti Virus System
        ***********-***********

       
  > From: "Tessar Wardhana" <[EMAIL PROTECTED]>
  > Lain soal ngarugikeun jeung nguntungkeun ceuk kuring
  > mah! soal kahormatan Aqidah Islam nu wajib dibela ku
  > nu ngaku Muslim.

  Ah eta mah mangga wae, kumaha kang Tessar. Kuring mah simpati ka jelema nu 
  ditandasa jeung dikakaya. Tempat ibadahna dibaledogan, imahna dirusak. Di 
  Lombok malah tepi ka ngarungsi, teu boga tempak keur nganjrek. Malah aya nu 
  ngahalalkeun getihna. Kuring oge Muslim, lain Akhamdyah, tapi kuring mah 
  moal ngiluan, teu asup kana rasa kamanusaan kuring .......

  Baktos,
  WALUYA 



   

Kirim email ke