ah henteu oge kang
da di bekasimah kaetang murah warung sunda mah
nya minimal tiasa nyaingan warteg




________________________________
Dari: Kang Iman <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Senin, 20 April, 2009 10:49:40
Topik: Re: [Urang Sunda] Warteg yes!, Mc Setar Baks no!





Tapi naha lamun warung sunda mah sok mahal nya ?!
geus baleunghar kitu ?





2009/4/20 irpan rispandi <mr.rispandi@ gmail.com>




kuring lamun dahar 'diluar', leuwih nyaman dahar di warteg daripada di
Mc D. teuing kunaon. ngirit? ah henteu oge...

http://travel. kompas.com/ read/xml/ 2009/04/20/ 09134523/ Sederajat. 
dalam.Warteg
Sederajat dalam Warteg

Cobalah singgah di Warteg Warmo pada Sabtu dini hari atau Minggu
dini hari. Jangan kaget kalau warteg ini dipenuhi perempuan berbusana
minim, tubuh wangi, tetapi wajah mulai kucel. Maklum, baru kelar dugem.
Inilah ciri khas wajah Warmo di setiap dini hari pada akhir pekan.

Siapa yang tak kenal warteg alias warung tegal? Warteg bisa ditemukan
di mana saja. Di pinggir jalan, di sekitar kampus, di dekat proyek
bangunan, terminal bus, stasiun kereta, area perkantoran, juga di
sekitar pusat perbelanjaan mewah. Ciri khas makanannya yang akrab di
lidah, enak, cepat, dan murah ini membuat warteg langgeng sejak tahun
1970-an.

Warteg Warmo yang berlokasi di Tebet Raya, Jakarta Selatan, tadi,
misalnya, masih bertahan sebagai warteg legendaris yang populer di
Jakarta. Popularitasnya membuat siapa pun tak segan mampir makan di
Warmo. Mulai dari pejabat, pengusaha kelas kakap, juga kalangan
selebriti. Jadi tak heran para ”aktivis” clubbing pun tak risi makan di
Warmo seusai dugem hingga subuh. Terlebih, Warmo buka 24 jam.

Warteg—warung nasi yang lahir dari tangan para perantau asal
Tegal—memang telah melebur dengan masyarakat Jakarta. Warteg menjadi
bilik yang egaliter di mana strata sosial apa pun berdampingan makan di
satu kursi kayu panjang tanpa harus jaim (jaga image).

Pada awal 1970-an ketika pembangunan di Jakarta tengah giat dimulai,
kebutuhan akan warung nasi pun dimulai. Warung yang menyediakan makanan
rumah sederhana dengan jumlah yang banyak tetapi harga tetap terjangkau
ini cocok dengan kebutuhan para kuli bangunan. Begitu pula tukang becak
hingga pedagang minyak tanah keliling perlu menambah tenaga dengan
makan di warteg.

Seiring berjalannya waktu, warteg tidak hanya disambangi oleh kalangan
ekonomi sulit. Kalangan dari seluruh strata sosial sudi makan di
warteg. Bule pun kerap terlihat makan di warteg. Bahkan, warteg menjadi
”penopang perut” amat penting bagi kelas menengah pekerja kantoran di
Jakarta yang butuh makan siang sehari-hari.

Pemilik Warteg Gewart Dago, yang terletak di kawasan Halim, Cililitan,
Jakarta Timur, mengaku warungnya sering diketuk orang yang ingin
sarapan. ”Sebenarnya warung buka pukul 07.00, tetapi sering sekali
pembeli sudah datang pukul 06.00. Mau tidak mau ya dilayani, dia kan
butuh sarapan,” kata Ahmad (30), anak Sopiah, pemilik Warteg Gewart
Dago. Gewart merupakan singkatan dari Generasi Warung Tegal, sedangkan
Dago adalah nama gang tempat mereka pertama kali berjualan di kawasan
Halim itu.

Warteg 21 yang terletak di Jalan Tanah Mas Raya, Kayuputih, Pulo
Gadung, Jakarta Timur, hanya libur tujuh hari dalam setahun. Mutinah
(33), pengelola warteg, mengaku, wartegnya tidak bisa tutup karena
pelanggan akan kesulitan mencari tempat makan. ”Di warteg, harga
makanan murah. Zaman sekarang, semuanya mahal. Kalau makan tidak di
warteg, gaji mana cukup,” kata Mutinah.

Setiap hari Mutinah harus memasak 150 kilogram beras. Pada bulan
Ramadhan, jumlah beras yang dimasak juga tetap sama. ”Setiap hari saya
belanja keperluan warteg sampai Rp 4,5 juta. Puasa tidak puasa,
belanjanya ya sama,” ujarnya.

Tetap hangat

Sejak pagi-pagi buta, mereka sudah berbelanja lalu langsung memasak.
Gewart mempekerjakan tujuh orang yang tidak berhenti memasak dari pukul
04.00 hingga 12.00. Warteg 21 mempekerjakan lima orang juru masak.

”Masak tidak boleh berhenti biar masakan yang disajikan tetap hangat.
Setelah sore, barulah memasak berdasarkan kebutuhan,” ujar Ahmad.

Makanan yang paling favorit di Warteg Gewart adalah tempe goreng
tepung. Setiap hari warteg ini menggoreng 100 hingga 120 lonjor tempe.
Selain itu, sate udang goreng juga sangat digemari. ”Setiap hari tak
kurang 15 kilogram udang dimasak. Pokoknya saya menyisihkan Rp 4 juta
untuk belanja seluruh keperluan warteg,” ungkap Ahmad yang berbelanja
kebutuhannya di Pasar Kramat Jati.

Menurut Ahmad, setiap hari dia menyediakan lebih dari 40 macam masakan.
Sementara Mutinah mengaku tidak tahu jumlah persis jenis makanan yang
dia sediakan. ”Enggak pernah dihitung. Ayam saja ada empat macam, ayam
goreng, ayam opor, ayam kecap, dan ayam pedas. Kalau 20 jenis sih
lebih,” ujar Mutinah.

Semua jenis makanan ini belum termasuk telur asin dan mentimun yang
merupakan ciri khas warteg. Harga yang ditawarkan memang sangat murah.
Untuk nasi, sayur, dengan lauk udang dan tempe, Mutinah hanya
mengenakan Rp 6.000. Nasi sayur udang dan telur hanya Rp 7.000. Lalu
nasi sayur dengan lauk ayam hanya Rp 10.000, sudah termasuk teh tawar
hangat.

Sementara di Gewart harga nasi sayur udang hanya Rp 5.000, sedangkan
nasi ayam hanya Rp 7.500. Harga ini sudah termasuk teh tawar hangat.
”Murah meriah,” kata Ahmad.

Beragam jenis makanan dan murahnya harga tentu menjadi daya tarik
warteg. Orang yang makan di warteg tidak mencari pendingin udara,
bangku yang empuk, dan interior yang didesain khusus.

Mereka nyaman makan berdesak-desakan dengan orang tak dikenal di atas
bangku kayu panjang. Mereka juga tidak keberatan, setelah selesai
makan, hanya punya waktu beberapa menit untuk menurunkan makanan
sebelum wajah-wajah kelaparan mengusir mereka.

Baik Mutinah maupun Ahmad mengaku tidak mengetahui secara persis jumlah
pengunjung di wartegnya. Yang pasti, baik Ahmad maupun Mutinah harus
mempekerjakan 10 orang untuk melayani pembeli.

Namun, jika dihitung secara kasar, jumlah pengunjung bisa diperkirakan.
Jika dalam 20 menit rata-rata ada 10 orang makan di warteg, maka dalam
sehari sekitar 450 orang makan di warteg.

Doni, penjaga parkir di Warteg Gewart Dago, mengaku rata-rata
mendapatkan uang Rp 50.000-Rp 65.000 hanya dari pukul 11.00 sampai
14.30. Dalam sehari, pengaturan parkir dibagi tiga shift. Setiap shift
ada dua juru parkir.

Warteg bolehlah disebut pahlawan bagi kaum urban Jakarta, yang bekerja
memeras otak dan otot hingga petang. Roda ekonomi negeri pun berputar,
dari mana tenaga para pekerja itu? Ya dari warteg...


   


      Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka 
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke