Hatur lumayan, Caping Tempo minggu ieu. Nu narik keur kuring, bagian tulisan GM
perkara urang Arab nu ngarasa REUEUS kulantaran Islam lahir di Tanah Arab, tapi
ayeuna Arab ngan eleh jeung eleh, teu dianggap di dunya elmu. Keur urang Arab nu
resep ngalenyepan kahirupan, unggal barang nu dipake dina kahirupan sapopoe,
karasana mangrupakeun HINAAN nu teu diomongkeun, ti mimiti colokan listrik tepi
ka produk teknologi tinggi. Kaasup terorisme nu gaya, gagasan jeung alat-alatna
produk " urang kulon" abad ka 20, nu ku maranehna diharamkeun!

Kareueus nu kaleuleuwihi, malah bisa mawa mamala. Pieunteungeun keur urang 
salaku urang sunda, nu sok salawasna ngarasa jadi "the looser" ....


Si Buntung
Goenawan Mohamad
Tempo, Senin, 03 Agustus 2009


JANGAN bicara kepada saya tentang jihad. Hari ini saya sudah tak tahu lagi apa
maksudnya.

Tuan bisa berkata, jihad bukanlah kekerasan. Tapi berbareng dengan itu orang
lain berkata jihad itulah yang membenarkan bila orang yang dianggap kafir atau
murtad dibunuh. Tiap tafsir bisa dibantah tafsir lain. Kepada siapa saya bisa
minta kata akhir tentang apa sebenarnya yang diperintahkan agama?

Maka jangan bicara kepada saya tentang jihad. Terorisme tak perlu dan tak bisa
diterangkan dengan sabda atau fatwa. Bom yang diledakkan untuk membunuh dan
bunuh diri itu justru mungkin akan lebih jelas bila dilihat sebagai sesuatu yang
tak dapat diutarakan oleh (dan dalam) sabda dan fatwa.

Siapa yang melihat hubungan antara terorisme dan ajaran, apalagi ideologi,
melupakan bahwa ada sesuatu yang lebih dahulu, dan lebih bisu, ketimbang ajaran
dan ideologi—yaitu luka.

Yang menyedihkan dalam sejarah ialah bahwa luka itu tampaknya tak terelakkan.
Akan ada selalu orang-orang buntung. Kata ini tak menunjukkan luka potong yang
harfiah; di sini, "buntung" adalah lawan kata "beruntung". Seorang teman di Bonn
tadi pagi mengirim sebuah tulisan Hans Magnus Enzensberger dan di sana saya
menemukan apa yang saya maksud. Dalam bahasa Jerman Enzensberger menyebut si
buntung "Verlierer"; dalam bahasa Inggris "loser".

Si buntung—dan ia tak hanya seorang—lahir dari semacam kecelakaan yang niscaya
ketika manusia mengorganisasi dirinya sendiri. Enzensberger menyebut
"kapitalisme", "persaingan", "imperium", dan "globalisasi", tapi kita bisa
menambahkan bahwa terbentuknya negara-bangsa atau lembaga agama—bahkan dalam
sejarah kota dan banjar—juga menyebabkan ada orang-orang yang terbuncang,
tertinggal, kalah, bahkan separuh atau seluruhnya hancur. Mereka yang luka. Si
buntung.

Sejarah juga mencatat, si buntung bisa memilih untuk menerima nasib. Si korban
bisa menuntut pampasan. Si kalah bisa menunggu kesempatan lain. Tapi ada yang
oleh Enzensberger disebut sebagai "si buntung radikal": ia yang mengisolasi
diri, menjadikan dirinya tak kelihatan, merawat khayal atau phantasma-nya,
menyimpan tenaga, dan menanti sampai saatnya datang.

Tapi saat itu bukanlah saat untuk menebus nasibnya yang parah. Si buntung
radikal, menurut Enzensberger, mengatakan kepada dirinya sendiri: "Aku buntung,
dan tak bisa lain selain buntung." Ia tak melihat hidupnya berharga, dan tak
memandang hidup orang lain berharga pula. Maka ketika saat itu tiba dan ia
menggebrak, si buntung siap membinasakan orang lain sekaligus dirinya sendiri.

Tapi agak berbeda dari Enzensberger, saya tak menganggap bahwa seluruh momen
penghancuran itu sebuah pernyataan keberanian yang putus asa. Yang meledak juga
bukan hasrat terpendam untuk mengekalkan ke-buntung-an. Bukankah pada saat itu,
seperti dikatakan Enzensberger sendiri, akhirnya si buntung radikal bisa melihat
dirinya jadi "tuan dari hidup dan kematian"? Ia jadi seorang militan. Ia jadi
subyek. Sejenak ia membebaskan diri dari statusnya yang celaka: untuk memakai
kata-kata dalam sebuah sajak Chairil Anwar, "sekali berarti, sudah itu mati."

"Ber-arti", atau mendapatkan harga dan makna, itulah yang diberikan oleh ajaran
atau ideologi. Tentu saja karena ada kecocokan antara si buntung radikal dan
ajaran atau ideologi itu: petuah dan petunjuk itu, tentang jihad atau perang,
lahir dari tafsir yang diutarakan dari sebuah situasi luka.

Enzensberger memaparkan luka itu—dalam sejarah Islam—sebagaimana yang umumnya
sudah diketahui. Jika "Islam" adalah nama bagi sebuah peradaban, yang terjadi
adalah sebuah riwayat panjang tentang arus yang surut. Enzensberger mengutip
sajak penyair muslim kelahiran India, Hussain Hali (1837-1914), yang
menggambarkan bagaimana peradaban yang pernah jaya pada abad ke-8 itu akhirnya
"tak memperoleh penghormatan dalam ilmu/tak menonjol dalam kriya dan industri".

Yang kemudian berlangsung adalah Islam yang hanya memungut, cuma meminjam, dan
tak bisa lagi memperbaharui. Terutama di dunia Arab, yang pada satu sisi bangga
telah jadi sumber dari sebuah agama yang menakjubkan tapi di sisi lain
terus-menerus menemukan kekalahan. Enzensberger menulis: "Bagi setiap orang Arab
yang peduli untuk merenungkannya, tiap benda yang kini hampir mutlak dipakai di
kehidupan sehari-hari … mewakili sebuah penghinaan yang tak diucapkan—tiap
kulkas, tiap pesawat telepon, tiap colokan listrik, tiap obeng, apalagi produk
teknologi tinggi".

Bahkan terorisme—dari gagasan, gaya, serta peralatannya—datang pada abad ke-20
dari "Barat" yang mereka haramkan. Lingkaran setan tak dapat dielakkan lagi.
Yang terpuruk jadi merasa tambah terpuruk justru ketika ingin membebaskan diri.
Dalam lingkaran itu kebencian pun berkecamuk—gabungan antara kepada "mereka" dan
juga kepada diri sendiri. Tak mengherankan, di wilayah ini, si buntung radikal
berkelimun.

Akankah ada pembebasan? Mungkinkah pembebasan? Saya percaya, jadi buntung
bukanlah hukuman yang kekal. Tapi untuk itu agaknya diperlukan sebuah lupa. Si
buntung perlu tak mengacuhkan lagi luka sejarah. Ia perlu melihat kekalahannya
sebagai bagian dari pengalaman dan memandang pengalaman itu sebagai, seperti
kata petuah lama, guru yang baik.

Tapi saya sadar, si buntung radikal akan sulit untuk bersikap demikian. Terutama
ketika ia menerima ajaran bahwa lukanya adalah luka di luar sejarah. Maka bom
diledakkan, surga yang kekal dijanjikan, jihad ke kematian jadi langkah awal dan
akhir. Dan selebihnya beku.

Kirim email ke