SEKEDAR KOMENTAR, bgmn Auloh yg katanya maha adil, maha pengampun
mengajarkan kpd umat yg terbaik untuki membunuh kafiun. Sedang kaum
kafirun tidak bisa melawan apalagi membunuh Muslim.

Ini bukti nyata bhw ajaran mulia 'Tidak ada paksaan dlm Islam',
'Agamu-mu bagi kamu dan agama-ku bagiku' serta klaims bhw 'Islam adalah
agama cinta damai' itu sekedar tipu daya yg dipake untuk menutupi
kebengisan ajaran Islam.

Gabriela Rantau

--- In zamanku@yahoogroups.com, Crea†ure First <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> inilah ajaran damai...
>
> ========================
>
>
>
> KAJIAN
>
>
>
>
> Judul
> : Hukum Qishash Terhadap Kafir Dzimmi
>
> Kategori
> : Sosial Politik
>
> Nama Pengirim
> : Ginus Partadiredja
>
> Tanggal Kirim
> : 2004-03-29 03:51:03
>
> Tanggal Dijawab
> : 2004-03-29 15:07:05
>
>
>
>
>
> Pertanyaan
> Assalamu'alaikum wr wb,
>
> Ustadz, ada dua pertanyaan yang muncul di pengajian kami, terkait
dengan hukum
> qishash di tafsir Ibnu Katsir QS 5:45 (yang tentunya terkait dengan QS
2:178):
>
> 1. Disebutkan dalam HR Bukhari dan Muslim, bhw Rasulullah SAW
bersabda,"Laa yuqtalu
> muslimun bi kaafiir. Artinya bahwa seorang muslim tak dapat dihukum
bunuh krn
> membunuh orang kafir. dan ini disepakati jumhur ulama. Benarkah
demikian?
> Bagaimana jika orang kafir dzimmi tsb tidak bersalah, dan muslim yang
bersalah?
> Bagaimana pula hukumnya bila terjadi sebaliknya, andaikata seorang
kafir dzimmi membunuh
> seorang muslim yang bersalah (dan dalam kasus itu, si kafir dalam
posisi benar).
>
> 2. Hal lainnya terkait dengan kehidupan sehari-hari. Bgmn hukum
qishashnya bila seseorang
> menabrak mobil orang lain sehingga menyebabkan kerusakan pada mobil,
atau luka, atau bahkan
> menyebabkan orang yang ditabrak meninggal? Apakah qishashnya dilakukan
dengan
> cara yang sama, tidak bisa diganti dengan diyat, misalnya?
>
> Jazakumullahu khoyron katsiiro,
>
> Wassalamu'alaikum wr wb,
> a/n pengajian di Brisbane
> Ginus Partadiredja
>
>
>
>
>
>
>
> Jawaban
> Assalamu `alaikum Wr. Wb.
> Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil
Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d
>
> 1. Jawaban Pertanyaan Pertama
>
> Seorang muslim tidak dihukum qishash karena membunuh seorang kafir.
Pendapat ini dipegang oleh jumhur ulama. Dasarnya adalah hadits
Rasulullah SAW yang Anda telah sebutkan dalam pertanyaan. Yaitu :
>
>
> Dari Amru bin syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa
Rasulullah SAW bersabda,”Orang Islam itu tidak dibunuh
(diqishash) oleh sebab (membunuh)orang kafir”. (HR. Ahmad, Ibnu
Majah, Tirmizy, Abu Daud)
>
> Hadits yang senada juga dari Abi Juhaifah dan diriwayatkan oleh
Al-Bukhari, Ahmad dan ashhabus sunann kecuali Ibnu Majah.
>
> Jumhur Ulama : Qishash Harus Sekufu
>
> Sehingga wajarlah bila dalam bab qishash, para ulama jumhur sepakat
mensyaratkan adanya takafu’ (kesetaraan) antara pembunuh dengan
yang dibunuh. Setara dalam agama dan kemerdekaan.
>
> Maka bila seorang muslim membunuh seorang kafir, baik harbi atau
zimmi, maka muslim itu tidak dibunuh secara qishahsh, sebab mereka tidak
setara (sekufu) dalam agama. Sama halnya bila seorang tuan membunuh
budak, maka tuan yang merdeka itu tidak dibunuh secara qishash.
>
> Namun ada satu yang menyendiri dalam masalah ini yaitu kalangan
Al-Hanafiyah. Mereka tidak mensyaratkan urusan takafu’ ini, sebab
mereka berangkat dari zahir ayatnya saja.
>
> Lebih jelasnya Anda bisa buka rujukan berikut :
>
>
> Asyarhul Kabir Lidardir jilid 4 halaman 238 dan 231.
>
> Bidayatul Mujtahid jilid 2 halaman 391.
>
> Al-Qawanin Al-Fiqhiyyah halaman 345.
>
> Mughni Al-Muhtaj jilid 4 halaman 16.
>
> Al-Muhazzab jilid 2 halaman 173.
>
> Al-Mughni jilid 7 halaman 652 dan 658.
>
> Kasysyaaf Al-Qanna’ jilid 5 halaman 609.
>
> Siapa Yang Salah
>
> Tentang pertanyaan Anda bagaimana bila pembunuh yang muslim itu yang
bersalah, maka pengadilan akan melihat apakah kasusnya dulu. Dan masalah
kesalahan itu pun harus diteliti sejauh mana letak dan nilai
kesalahannya. Ketika muslim itu membunuh kafir dan ternyata kafir itu
dinyatakan tidak bersalah atau bersalah, maka pengadilan akan
memprosesnya. Namun yang jelas, muslim itu tidak bisa dihukum qishash
karena membunuh kafir, meski dia yang bersalah. Muslim itu bisa dihukum
dengan membayar diyat dan lainnya namun tidak sampai dibunuh. Selian itu
juga perlu diperhatikan apakah pembunuh itu termasuk sengaja, tidak
disengaja atau mirip disengaja. Semua itu punya kajian khusus.
>
> Sedangkan bila kafir membunuh muslim dalam posisi kafir itu benar,
perlu ditegaskan modus pembunuhannya. Apakah ketika dia membunuh muslim
itu dalam posisi membela diri atau tidak ? Dan apakah juga termasuk
pembunuhan sengaja, tidak disengaja atau mirip disengaja. Semua itu juga
punya kajian khusus.
>
> 2. Jawaban Pertanyaan Kedua
>
> Dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan hilangnya nyawa
manusia, hakim bisa meneliti motivnya. Adakah unsur kesengajaan atau
semata kelengahan. Disini sekali lagi kita masuk kepada tiga jenis
pembunuhan berikut ini.
>
> Jumhur ulama membagi pembunuhan menjadi tiga macam : pembunuhan
disengaja (qatlul amd), pembunuhan setengah disengaja (al-qotlu syibhul
amd) dan pembunuhan salah (al-qatlu al-khata').
>
> a. Pembunuhan Disengaja
>
> Pembunuhan disengaja adalah tindakan pelaku pembunuhan yang sengaja
membunuh seorang manusia yang bebas darahnya, seperti seorang yang
dengan sengaja membunuh dengan pistol atau senjata atau sarana lainnya.
Qatlul Amd dapat terjadi dengan cara langsung atau dengan sebab, seperti
merusak bagian penting mobil seseorang yang berakibat pada kematian
sopirnya atau yang menaikinya. Banyak lagi bentuk pidana yang sifatnya
tidak aktif atau biasa disebut al-jara-im as-salbiyah (Pidana Pasif)
yang masuk pada pembunuhan disengaja.
>
> Jika lebih dari seorang terlibat dalam pembunuhan, sedang mereka
sengaja melakukannya , maka kondisi tersebut masuk dalam pembunuhan
disengaja dan setiap orang terkena sangsi pembunuhan disengaja.
>
> Pendapat tersebut diikuti sebagian besar Fuqaha dan pendapat Umar
ibnul Khattab r.a.. Diriwayatkan oleh Said ibnul Musayyib bahwa Umar
ibnul Khattab membunuh tujuh orang penduduk San'a yang membunuh satu
orang dan berkata:
>
>
> Jika penduduk San'a membangkang maka akan aku bunuh semuanya”
(Riwayat Imam Malik Az-Zi'liy Nasbur Rayah 4/353)
>
> b. Pembunuhan Setengah Disengaja
>
> Pembunuhan setengah disengaja adalah pembunuhan yang dilakukan
seseorang secara tidak sengaja dan tidak bermaksud membunuhnya tetapi
hanya bermaksud melukainya, tetapi menimbulkan kematiannya.
>
> Perbedaannya dengan qatlul amd ada dua, yaitu pada niat atau maksud
pelakunya dan pada sarana yang dipakai. Dalam qatlul amd pelaku memang
bermaksud membunuhnya dan sarana yang dipakai pun secara dominan dapat
digunakan untuk membunuh seperti; pedang, pistol dan lain-lain.
>
> Adapun al-qatlu syibhul amd pelakunya tidak berniat membunuhnya dan
alat yang digunakannya biasanya tidak membunuh. Pendapat ini diyakini
oleh jumhur ulama sebagaimana dalil hadits dari Abu Hurairah r.a.,
Rasulullah Saw. bersabda:
>
>
> Dua orang wanita dari suku Hudzail saling bunuh. Seorang diantara
mereka melempar dengan batu dan membunuhnya dan janin yang ada dalam
perutpun meninggal. Maka orang-orang datang pada Rasul Saw. meminta
fatwa. Kemudian beliau memutuskan bahwa bagi mereka yang membunuh
terkena sangsi dengan membayar diyat anaknya seorang hamba lelaki atau
perempuan dan memutuskan untuk membayar diyat wanita bagi keluarga si
pembunuhnya.” (HR Bukhori)
>
> c. Pembunuhan Salah
>
> Tindakan pelaku pembunuhan yang tidak ada maksud membunuh dan tidak
pula menyakitinya tetapi terjadi korban karena kesalahan. Dan pembunuhan
salah disebut pidana sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an:
>
>
> Tidak boleh seorang mukmin membunuh mukmin lain kecuali karena salah.
Barangsiapa membunuh karena salah maka harus memerdekakan budak mukmin
dan membayar diyat yang diberikan kepada keluarganya ….”
(an-Nisaa: 92).
>
> Praktek Di Saudi Arabia
>
> Di KSA, umumnya kasus tabrak mati ini tidak diqishash, sebab ada unsur
ketidfak-sengajaan. Maka kepada pembunuh itu diberikan kesempatan untuk
membayar diyat atau tebusan. Secara hukum fiqih, nilainya adalah 100
unta. Dan tentu saja harus ada kerelaan dari pihak keluarga korban untuk
menerima diyat itu.
>
> Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
> Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
>

Kirim email ke