Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Semoga, diskusi yang panjang ini benar-benar dimaksudkan untuk mendapatkan 
kebenaran, dan semoga Allah selalu merahmati kita.

Secara khusus ana akan menanggapi tulisan akhi danny kosasih. afwan sebelumnya 
jika ada kata-kata yang terkesan kasar. Hal ini bukanlah karena maksud ana 
untuk demikian, tetapi memang keterbatasan ana dalam kosakata. Semoga ikhwah 
sekalian terutama akhi danny kosasih bisa memaklumi

Akhi danny kosasih menulis:
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa belajar fiqh pasti tidak lepas dari adanya 
perbedaan pendapat. Dalam permasalahan muamalah banyak sekali saya temukan 
perbedaan2 yang ada. Contoh kecilnya adalah perbedaan imam empat mahzab dalam 
mengategorikan barang2 apa saja yang tergolong barang ribawi (apakah hanya 6 
barang atau dapat dikiaskan dengan yang semisal). Hal ini lebih dikarenakan 
penalaran dan pendekatan untuk melihat suatu permasalahan yang timbul berbeda2.

Tanggapan:
Memang benar bahwa salah satu sebab khilaf adalah perbedaan sudut pandang. 
Namun, tidak hanya itu, bahkan sebagian besar khilaf disebabkan terkadang 
dalil/hadits sampai kepada satu pihak dan belum kepada pihak lain. Zaman para 
imam dulu hadits tidaklah tersaji lengkap seperti sekarang. Karena itu, jika 
terjadi perbedaan pendapat haruslah rinci, dimana bedanya, kenapa beda dan 
seterusnya, baru kemudian kita ketahui bagaimana bersikap. Apakah kita harus 
menolerir perkataan imam Malik yang membid'ahkan puasa 6 hari di bulan syawal 
saat ini? Padahal jelas beliau mengatakan membid'ahkan puasa syawal karena 
riwayat mengenai hal ini yang sampai ke beliau tidak ada yang shahih?Apakah 
kita tolerir pula mereka yang membolehkan nikah mut'ah semata-mata karena Ibnu 
Abbas membolehkan?

Akhi danny menulis:
Mengenai Bank Syariah yang marak saat ini, ana memandang ada 2 sisi yang saling 
bertolak belakang. Di satu sisi ekonom2 muslim memang ingin memberikan 
alternatif yang syar'i bagi kaum muslimin. Namun di sisi lain ada yang 
memanfaatkan Bank Syariah ini untuk komoditas berbisnis. Artinya, ketika mereka 
melihat peluang bisnis di sektor syariah, maka mereka buat "Bank Syariah". Hal 
inilah yang seharusnya menjadi perhatian kita kaum muslimin yang mengaku 
bermanhaj salaf. Apakah kita yang mengaku bermanhaj salaf ini akan membiarkan 
"Bank Syariah" yang selama ini kita kritik untuk tidak menjadi syariah 
selamanya?

Tanggapan:
Kenapa mudah sekali kita berprasangka baik terhadap orang2 diluar manhaj salaf? 
walaupun kita tidak pernah tahu siapa dia bagaimana kapasitas ilmunya? tetapi 
selalu berprasangka buruk terhadap orang2 yang bermanhaj salaf? Bagaimana kalau 
berbagai fatwa ulama kita yang mentahdzir bank syariah ini kita maknai sebagai 
nasehat? Kenapa setiap peringatan/nasehat dari orang2 yang bermanhaj salaf 
selalu dimaknai penggembosan, cacian dan sebagainya, tanpa pernah ada tanggapan 
secara ilmiyah atas berbagai kritikan yang dikemukakan? Sampai detik ini, tidak 
pernah saya mendapati baik di milis ini, atau yang lain tanggapan ilmiyah atas 
HARAMNYA transaksi yang dilakukan di bank syariah? bahkan yang saya dapati 
mereka yang mengharamkan (padahal sudah memberikan dalil secara gamblang) 
justru dijadikan pihak yang bersalah?

akhi danny menulis:
Sebagian saudara kita berjuang semaksimal mungkin untuk menerapkan syariah, 
tetapi kita malah mengkritik habis tanpa memberikan solusi.

Dan jika kita hanya bisa memojokkan "Bank Syariah", maka apakah kita dapat 
berbuat yang lebih baik?

Tanggapan:
Ya akhi, bukankah Allah telah memberikan solusi melalui ayat-ayatnya? zakat 
misalnya, seandainya saja seluruh umat Islam sadar untuk membayar zakat, maka 
berapa besar dana yang bisa kita kumpulkan? Dan bukankah Allah telah 
menggantikan dengan sedekah (2:276) sebagai solusi pengganti riba?

Inilah solusi yang ditawarkan oleh Allah. Maka jika umat Islam tidak mau 
menyambut solusi yang ditawarkan oleh Allah, siapakah sebenarnya yang salah? 
Ataukah mereka yang tidak merasa cukup dengan solusi yang diajukan oleh Allah, 
dan mencari "terobosan baru" inilah yang disebut sebagai pahlawan? Sedangkan 
mereka yang mencukupkan diri dengan petunjuk Rabbul 'Alamin, dituduh kolot, 
tidak bisa memberikan solusi dan sebagainya?

Benarkah bank "syariah" ini merupakan solusi? Ataukah hanya alat untuk mengeruk 
keuntungan saja dari kaum muslimin? Toh kenyataannya bunga yang harus 
dibayarkan ke bank syariah lebih besar daripada bank konvensional?

akhi danny menulis:
Ana sepenuhnya setuju untuk tidak mencampurkan yang haq dengan yang bathil. 
Jadi apabila ternyata dalam "Bank Syariah" ada transaksi yang menyalahi 
syariah, bank tersebut harus fair untuk menyatakannya sebagai transaksi yang 
tidak syar'i. Sehingga tidak membohongi sebagian masyarakat yang pada 
hakikatnya menginginkan transaksi yang syar'i.

Tanggapan:
afwan sebelumnya, menurut ana ini hanyalah perkataan retoris semata. Karena 
kebatilan yang dilakukan bank, justru pada sisi usahanya, dan kenyataannya 
sejak berpuluh tahun bank syariah ada di dunia ini, tidak pernah ada pengakuan 
dari mereka bahwa ada kesalahan. yang selalu digembor-gemborkan adalah bahwa 
sistem bank syariah adalah bagi hasil, dan bagi hasil itu halal. Padahal 
masalah utamanya adalah, justru dari sistem usaha mereka, bagaimana mereka 
memutar uang sehingga mendapatkan keuntungan. Maka jika keuntungan yang didapat 
adalah riba, apakah menjadi halal hanya karena dibagikan dengan sistem bagi 
hasil?

-------------------------------------------------------------
Tidak ada di dunia ini yang buruk semua, atau baik semua. kalau kita 
perhatikan, orang-orang menyimpang yang ditahdzir para ulama kita, merekapun 
memiliki kebaikan yang banyak. Misalnya saja pembunuh Ali bin Abi Thalib, dia 
sebelumnya adalah termasuk ahli ilmu, yang direkomendasikan Umar bin Khattab 
untuk mengajar di masjid Nabawi. Tetapi ini tidak menghalangi para ulama untuk 
mentahdzirnya, dan menjelekkannya bahkan menyeru umat menjauh darinya. Kenapa? 
supaya umat tidak terkecoh oleh kebaikannya, dan terpesona olehnya yang 
menyebabkan dia ikut terperosok dalam dosa

Maka demikian halnya dengan bank syariah. Tentu saja dia mengandung berbagai 
kebaikan (mana mungkin mengaku atas nama syariah, tetapi prakteknya jelek 
semua?). Tahdzir yang dilakukan Syaikh Utsaimin dan Syaikh Al-Mar'i, atas bank 
syariah tentu bukan perkataan yang sembarangan/ngawur/membabi buta, atau 
kitapun akan mengatakan --sebagaimana hizbiyyun-- bahwa mereka ini ngga' paham 
waqi'? Maka walaupun bank "syariah" ini membawa jargon/simbol Islam, dan tidak 
bisa dipungkiri merekapun memberikan manfaat kepada sebagian umat Islam, akan 
tetapi praktek riba, yang mereka kemas atas nama syariah adalah bahaya yang 
jauh lebih besar dari manfaatnya, bahkan lebih bahaya lagi, menipu umat 
seolah-olah sesuai syar'i, padahal hanya riba semata.

Orang Arab jahiliyah dulu, ketika menang judi mereka bagikan semua hasilnya 
untuk fakir miskin. Tetapi ini tidak menghalangi Allah untuk mengharamkannya, 
dan memerintahkan seluruh kaum muslimin menjauhinya, walaupun kalau menang 
untuk fakir miskin. Lalu bagaimana lagi dengan riba? Yang Allah dan Rasul-Nya 
menyatakan perang (2:279)? Bagaimana lagi dengan yang menutup-nutupi praktek 
ribanya atas nama syariah, walaupun dia sumbangkan sebagian atau seluruhnya 
untuk kaum muslimin?

Wallahu A'lam

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke