Om Swastiastu, 
He.he...semua komentar ada yang benar ada yang tidak.
Ya...sah2 sajalah.
Lokasi proyek lama yang dimanfaatkan kembali (yang
ditinggal california Energy dan terbengkelai 6
tahunan) ini memang di hutan lindung, yang
kewenangannya ada di kehutanan pusat. Lahan pengganti
sudah siap dan ada di sekitar sana juga (bukan
Karangasem). Hutan milik masyarakat sekitar sana masih
banyak dan siap beralih fungsi jadi kebun sayur,
resort, lapangan golf atau apapun juga kalau nggak
dibeli untuk dijadikan hutan.
Kalau pak Wijaya masih terus2an ragu akan kemampuan
ahli di BEL dalam menganalisa potensi yang ada dengan
memanfaatkan teknologi pengeboran terbaru, ya...boleh2
aja. he..he...saya sangat maklum!!!
BEL akan memanfaatkan dulu lahan yang sudah ada ini,
dimana 3 pad yang ada saat ini, masing-masing berisi 3
sumur. Yang baru dibuka untuk ditest ya sumur yang 
pad 3. Sumur pad 2 dan pad 1 menyusul. Rencana satu
pad ada sekitar 5-6 sumur, dengan pengeboran miring ke
arah reservoar dimana potensi panas bumi tersebut
berada. Sehingga BEL tidak usah membuka lahan baru.
yang terpenting tidak masuk hutan cagar alam, yang
memang dilarang.
Niat BEL adalah membuka semua informasi ini ke publik,
karena ini bukan bisnis maksiat. he..he...
Bisa saja bahwa istilah memblow up duluan, bagi sebuah
keinginan terbuka/transparant dari sebuah kegiatan
dipandang negatif. Tergantung, apa kegiatan ini memang
berniat membuka mekanisme transparansi bagi masyarakat
akan sebuah kegiatan, atau mau diam-diam aja dan
kalaupun jalan seolah-olah ini adalah kegiatan sekelas
maksiat.Ih serem.... Saya cenderung melihat orang yang
mau terbuka adalah indikator kualitas orang tersebut.
Kalau maunya ngumpet, sampai protes namanya tercantum
di suatu daftar penentang Pemaron atau takut
kehilangan rejeki karena menentang pejabat/bupati,
ya.....saya juga bisa memaklumi posisi orang tersebut.

Kalau saja di bali ini orang bisa saling memahami,
jadi kalau yang punya daerah hutan dikasih sumbangan
oleh orang2 yang butuh air misalnya, pasti masyarakat
di Candikuning misalnya nggak sebel dengan komentar
orang2 yang mengklaim peduli tapi ngomong doang.
he..he.. 
Kalau saja orang Bali mau berhitung, luas hutan yang
digembar-gemborkan tersebut sebagian besar adalah
lahan kering (hi..hi...), bandingkan dengan kelebatan
pohon di lahan pengganti yang disiapkan BEL. Nanti
kalau pak Wijaya nggak lemes, saya bawa ke sana. Mari
kita test kesehatan disana, jangan bekal air dan
makanan, ayo kita bertahan hidup disana, nanti saya
bilangin..jenis daun dan binatang apa saja yang bisa
dimakan. (asal jangan turun ke kampung) 
he..he...kalau cuman baru bisa naik ke luhur Lempuyang
aja sih...wah.....kurang macho sayang...
Sudah 9 hari ini saya melihat begitu besar kerusakan
hutan/kebakaran di Datah atas-Karangasem, di Kintamani
tidak ada yang peduli. sangat indah pada saat malam
hari, tapi itu adalah bencana yang tidak terkira.
Juga di Bali barat yang setiap hari dicuri di depan
mata petugas.
Saya yang orang jalanan, ya temannya orang2 kampung
dan orang2 hutan, tapi kalau ada yang komentar tentang
hutan, waktunya cuman di dalam ruangan, wah....saya no
comment.
Selamat menikmati diskusi, siapa tahu bisa menggugah
hati kita, untuk tidak sibuk berdiskusi, tapi turun ke
lapangan/masyarakat untuk membantu Bali yang
sesungguhnya.
Kalau senangnya cuman diskusi, debat, demo,
dstnya...ntar mbok Viebeke ketawa....ngakak!!!

Cheers: Bali



--- Wijaya Kusuma <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Om Swastiastu,
> 
> Teman - teman "seperjuangan", perkenankan saya ikut
> nimbrung dalam diskusi
> ini.
> 
> ------wis wrote-------------
> > Ada beberapa fakta yang saya ketahui sbb:
> > 1. Masyarakat setempat tidak menolak rencana
> keberadaan
> > PLTP bedugul tersebut.
> 
> Fakta ini mungkin benar mungkin juga tidak, sehingga
> ada baiknya, kita yang
> tahu bagaimana masyarakat bertindak, justru tidak
> memunculkan argumen
> seperti itu. Bagaimanapun, bukan hanya masyarakat
> Bedugul yang bisa
> menerima/menolak, namun komponen masyarakat Bali pun
> berhak untuk
> menerima/menolak.
> 
> > 2. Sampai tahun 2006 untuk rencana tahap I sebesar
> 10 MWe
> > tidak akan ada penebangan hutan yang baru.
> 
> Benar, tidak akan ada penebangan hutan baru.
> Terlebih ijin eksploitasi sudah
> ditolak oleh Gubernur, namun ijin eksplorasi tetap
> jalan terus. Hanya saja,
> apa mungkin menghasilkan sebesar 10 MWe sampai 175
> MWe kalau lokasinya di
> situ saja? Pasti nggak mungkin dong, sehingga PASTI
> perlu perluasan area
> lagi. Nah yang ini kudu diperhatikan :-)).
> 
> > 3. Lahan hutan yang digunakan sejak tahun 1997
> sebesar
> > kurang lebih 25 ha, adalah bagian sangat kecil
> dari 15000
> > ha kawasan hutan Batukaru.
> 
> Cobalah hitung, berapa cadangan air yang teresap per
> ha nya? Cobalah hitung,
> berapa minimum luas hutan yang harus ada di Bali?
> Angka 30% bukanlah angka
> kecil, terlebih setelah saya hitung, angka 30%
> kawasan hijau yang ada di
> Bali adalah campuran antara hutan lindung, hutan
> produksi, perkebunan,
> termasuk mangrove. Jadi, kalau sawah - sawah dan
> kebun berubah jadi kawasan
> hunian, maka kuranglah kawasan hijau di Bali dari
> angka 30% tersebut.
> 
> Kalau hutannya juga kurang, ya hitung aja sendiri
> :-)).
> 
> > 4. Ada ketentuan yang mengharuskan, bahwa
> kontraktor harus
> > membuat hutan baru seluas 2 kali dari luas hutan
> yang
> > dibuka, dan hutan pengganti ini harus disekitar
> hutan yang
> > dibuka, karena tujuannya adalah untuk menjamin
> fungsi
> > hidrologis hutan tersebut tetap untuk kawasan
> dibawahnya.
> 
> Justru itu, pihak kontraktor nawarin 2 kali lipat
> itu bukan di daerah
> sekitar Bedugul kok.
> Tapi lokasinya di Karangasem. Ya, pasti akan berubah
> dong struktur tanah dan
> fungsi hidrologis di Bedugul.
> 
> > 5. Pengeboran dilakukan tidak di dalam wilayah
> cagar alam
> > maupun hutan lindung, melainkan dipilih didaerah
> hutan
> > buatan.
> 
> Silahkan ke lokasi dong, supaya bisa melihat
> langsung. Apa ada hutan buatan
> di sana?
> He .........;-)).
> 
> > Selama ini saya mengamati pemberitaan di koran
> khususnya
> > menyangkut masalah hutan ini seperti "sengaja" di
> blow-up,
> > entah oleh pakar atau koran. Jadi, koran menjadi
> laris
> > manis, akhirnya orang luar Bali mesem-mesem
> melihat bahwa
> > orang Bali mudah berantem.
> 
> Lho, yang memblow -up pertama sekali ke media massa
> khan pihak kontraktor.
> Saya baca di media massa sampai ditulis berturut -
> turut kok. Iklan nya juga
> khan dari pihak kontraktor.  Baru setelah ada iklan
> itu, masyarakat Bali
> merasa ngeh ;-)).
> 
> > Diskusi akan menjadi lebih sulit, ketika setiap
> pihak
> > tidak mau beranjak dari posisinya (ini sifat
> manusia kali
> > ye ), dan akhirnya mungkin akan sulit ketemu,
> ketika salah
> > satu pihak membawa alasan "niskala" atau
> "kepercayaan"
> > dalam sebuah diskusi ilmiah.
> 
> Yang ini saya no comment, tapi kalau mau secara
> ilmiah, marilah kita duduk
> bersama, mengkaji secara ilmiah. Saya siap jadi tuan
> rumah nya dan
> penyajinya ;-)).
> 
> > Secara jujur saya mengatakan, bahwa proses yang
> dilakukan
> > dalam rencana pembangunan PLTP Bedugul sudah
> sangat
> > berbeda dengan rencana pembangunan PLTGU Pemaron.
> Dalam
> > proses mengenalkan proyek PLTP Bedugul ini sudah
> terjadi
> > proses keterbukaan kepada masyarakat.
> 
> Benar sekali, sangat terbuka. Namun, tolong kalau
> dari UNUD nanti minta data
> untuk keakuratan penyusunan AMDAL disampaikan data
> yang sejelas - jelanya
> ya? Karena UNUD menyusun AMDAL dengan acuan hingga
> ke 175 MWe dengan luas
> lahan 20 ha (yang sudah dibuka) saja lho.
> 
> ------widi wrote------
> > > Amdalnya sekarang sedang disusun oleh UNUD, kita
> harap
> > > masukannya independent. jadi kalau yang nggak
> boleh
> > > ya..nggak boleh, yang boleh ya..boleh, dll.
> > > Tim dapur RUKD adalah Elektro UNUD, silahkan
> tanya
> > > mereka.
> 
> Sebentar lagi ya mbak Widi,  kapan eksplorasi 10 MWe
> itu berjalan?
> 
> > > Welltest sudah jalan, sekarang kita sedang amati
> > > karakter uapnya, sama sekali tidak ada gas yang
> > > beracun, malah H2S nya rendah sekali.
> Perbandingan
> > > antara uap dan air nya 90:10, di sumur yang
> sudah
> > > ditest.Ok segitu dulu, aku nggak bisa bicara
> normatif
> > > doang, tapi apa yang kelihatan dan dialami di
> > > lapangan.
> 
> Trims mbak Widi, tolong semua data ini disampaikan
> ke team UNUD untuk
> penyusunan AMDAL secara akurat, karena luas Bali
> jauh lebih kecil dari
> luasan propinsi Jawa Barat.
> 
> Shanti,
> 
> Wijaya.
> 
> 
> 
> --  
> Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
> 
> Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
> Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
> Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
> Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
> Henti Langgan : <mailto:
> [EMAIL PROTECTED]>
> 



                
_______________________________
Do you Yahoo!?
Declare Yourself - Register online to vote today!
http://vote.yahoo.com


--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke