Dear All,
Pertama-tama, rasanya perlu bagi kita untuk menyambut baik, bahwa lebih banyak lagi yang "concern" dengan diskusi PLTP Bedugul di milis ini. Setelah Pak Fabby, Mbak Widi, Saya, Pak Wijaya, Pak Widayat, sekarang ada Pak Bangsing dan Pak Sudja. Dan barangkali akan ada lagi rekan-rekan yang lainnya menyusul.


Semestinya memang ada yang bersedia memoderatori diskusi kita ini termasuk me-resume-kan, mencatat poin-poin penting, memilah-milah permasalahan antara teknis, lingkungan, sosial, budaya dan agama. Hal ini perlu agar lalu-lintas opini tertib dan tidak campur baur. Sebab, sebagaimana yang telah berjalan, bahwa setiap komentator terhadap proyek ini memiliki sudut pandang yang berbeda, sehingga, ketika untuk satu poin belum fokus mengarah ke solusi lalu sudah muncul poin lain dari pembicara lain.

Memang sih tidak harus dipaksakan untuk mencari solusi dalam diskusi ini. Akan tetapi, jika ada yang mampu me-resume-kan, maka saya percaya bahwa nanti akan kelihatan benang merah beberapa permasalahan untuk PLTP Bedugul ini. Dan jika resume ini bisa dibawa keluar, ke forum yang lebih besar, maka banyak manfaat yang bisa diambil. Salah satunya, masalah tsb. tidak perlu berulang didiskusikan atau kalaupun didiskusikan, maka sudah ada referensi pendapat hasil diskusi di milis ini.

Selain itu, seperti yang disampaikan oleh Pak Sudja, untuk diskusi ini kita perlu acuan. Sebab, jika tidak ada acuan, maka yang terjadi adalah pertukaran pendapat masing-masing. Jika ada acuan, misalkan hasil studi kelayakan, maka acuan itulah yang menjadi dasar kita berdiskusi. Bisa saja hasil-hasil dalam studi kelayakan dibedah lagi, dilihat dasar-dasar justifikasinya, dst. Jika ini yang terjadi, maka "legitimasi" studi kelayakan itu akan semakin kuat, dan akan memuaskan semua pihak.


Nah, siapa kira-kira yang mau dan bisa menjadi moderator dari diskusi ini ? Dibutuhkan volunteer memang, tetapi kontribusinya akan sangat kita hargai dan dikenang oleh kita semua. Saya ingin mengusulkan Pak Sudja, bagaimana Pak ? Dan bagaimana rekan-rekan yang lain ?


Kalau sudah ok moderatornya, mungkin baru bisa dilanjutkan diskusi ini.

Saya kira demikian dulu pendapat saya.

Salam
Gde Wisnaya

On Sun, 17 Oct 2004 16:31:37 +0700
 "nsudja" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
DISKUSI  PLTP BEDUGUL.



Kawan-kawan sekalian yang baik,



Walapun saya dikatakan sudah tua, saya mencoba terus lho mengikuti dari
belakang diskusi pengembangan PLTP Bedugul di milis ini. Dari pandangan
yang disampaikan, ada yang mencoba hendak melakukan diskusi secara focus
bersungguh-sungguh , bahkan sedikit tier-ernst, kata orang Jerman. Ada
juga yang dengan rendah hati menyatakan ikut nimbrug. Pandangan yang
disampaikan secara nimbrug itupun wajar-wajar saja, karena kita semua baru
pada tahap mula, ingin berkenalan dulu dengan permasalahan yang dihadapi.
Ini wajar karena mereka ini ingin mengetahui dan ingin berkenalan dulu
dengan permasalahannya !. Sayangnya, ada pula peyampaian bahasan yang
bersifat personal dengan jamahan private domain. Agar diskusi menjadi lebih
baik, terbuka dan transparan, aman terkedali, sebaiknya tidak menyinggung
ranah peribadi perorangan/ golongan, walaupun maksudnya mungkin sekedar
bercanda / kelakar, tapi itu sungguh tak lucu. Bahasan kita sepatutnya
dibatasai pada masalah yang berkaitan dengan public domain, yang terkait
dengan kepentingan dan pelayanan publik.




Pandangan yang disampaikan tentu saja tak bisa lepas dari ungkapan,

" You are what you eat. You are what you read". Masing-masing menyampaikan
pendapatnya sesuai dengan apa yang telah dimamah, dibaca dan diketahuinya.
Diskusi menjadi sepotong-sepotong karena tidak ada acuan yang utuh.
Masing-masing menyampaikan tema yang diminati, dirisaukan dan dikuasainya.
Prof. Wijaya Kusuma (UNUD) malahan sudah ingin melakukan diskusi. Tentu saja
ini baik!. Dialog tetap diperlukan antara dua/ beberapa pihak terbatas
jumlahnya dengan tema tertentu yang ingin dibahas dan didiskusikan.
Tetapi bahasannya tentu hanya akan menyangkut aspek teknis tertentu seperti
yang diungkapkan oleh Sdr. Bangsing. Tetapi masih belum bersifat pemecahan
yang mengarah ke solusi publik.




Diskusi yang utuh yang mengarah ke pemecahan publik baru akan dapat
dilakukan kalau pihak investor BEL (Bali Energy Limited ?) membuka
permasalahannya, pada tahap pertama dengan menyampaikan secara terbuka
kepada masyarakat feasibility study projek PLTP Bedugul ini. Pada studi
kelayakan ini, sebagaimana lazimnya, tentu akan dibentangkan kelayakan
proyek dengan uraian mengenai aspek ekonomi/keuangan, aspek teknis, aspek
lingkungan/amdal dan budaya (seperti yang ingin dirujuk Sdr. Bangsing ).Apa
manfaat dan dampak-nya bagi publik dan juga manfaatnya bagi pihak investor
sepatutnya dijelaskan dalam studi kelayakan guna mendapatkan public
acceptance. ?




Dengan mengacu pada laporan studi kelayakan, agenda diskusi dapat disusun
secara terarah dengan mengikutsertakan berbagai unsur masyarakat dengan
mengundang stakeholder terkait ( pemerintahan, lembaga, pakar, media massa
dan rakyat yang terkena dampak proyek). Apakah kita, pemerintah daerah
kita, pemerintah pusat ( sesuai dengan wewenang pemberian ijin pengusahaan
proyek menurut peraturan/perundangan ?) sudah siap melakukan itu? Apakah
BEL sudah siap dan bersedia mendiskusikan studi kelayakan PLTP Bedugul ?
Apakah di Information Center BEL studi kelayakan itu ikut dipajang dan
publik bisa memperoleh satu copy-an untuk mempelajarinya? Pada tahapan
selanjutnya studi kelayakan itu dapat dikaji dan diuji bersama bahkan
mungkin diperlukan studi tambahan.




Negara berkembang sering dikatakan, tidak memiliki kemampuan untuk melakukan
analisis memecahkan masalah yang seharusnya dapat dipecahkan secara
teknis, karena memang teknis sifatnya. Tiadanya kemampuan teknis itu,
banyak masalah teknis lalu " terangkat keatas" menjadi masalah politik,
hingga semua orang bisa berbicara berdasarkan kekuasaan dan kepentingan
masing-masing, tetapi tidak dilandasi tanggungjawab dengan analisis teknis.




Kita menjadi saksi sejarah mengenai pembangunan Combined Cycle ( CC ) PLTGU
Pemaron. Di Bali singkatan CC kok sepadan jadi Cagjag Cigjig, karena angkut
minyak dengan tongkang dari selatan (Manggis) ke utara (Pemaron), listrik
dibangkitkan di utara lalu ditransmisikan lewat jaringan listrik ke pusat
beban di selatan ( Denpasar, Kuta, Sanur, Nusa Dua dengan beban listrik
lebih dari 81 % beban listrik seluruh Bali. Beban Pemaron hanya 7 %).
Bukankah itu tidak efesien, pemborosan sumberdana publik. Ini terjadi
karena pengemban proyek PT Indonesia Power/PLN tidak terbuka, tidak
profesional, terburu-buru, "krisis listrik " alasannya dan tidak mau dan
tidak tersedianya studi kelayakan yang dapat disampaikan kepada publik
sebagai acuan pembahasan bersama. PLN sampai kinipun belum pernah mau
melakukan dialog dan menyampaikan pertanggungjawaban teknis pembangunan
PLTGU Pemaron yang mencerminkan kepentingan dan pelayanan publik.




Diskusi yang kita lakukan dalam milis ini, jelas terbatas sifatnya (
sepotong-sepotong) baik ditinjau dari tema permasalahan yang dibahas maupun
dari jumlah para peserta diskusinya. Karena itu diskusi ini tidak akan
dapat memberikan solusi publik. Diskusi ini terbatas hanya sekedar tukar
pikiran dan informasi untuk mencapai dasar pengertian yang sama dulu di
antara kita. Pemecahan secara publik perlu diusahakan dalam forum publik
yang lebih luas berkaitan dengan kelayakan proyek.




Sementara ini sekian dulu saran/ tanggapan yang dapat saya sampaikan.
Tanggapan teknis kita bahas lain kali.


Terima kasih!



SALAM.



Dr.-Ing. Nengah Sudja,

Konsultan Independen Bidang Energi.

----- Original Message -----
From: "Nyoman Bangsing" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, October 16, 2004 2:29 PM
Subject: [bali] Re: [sos-bali] Re: Mendiskusikan PLTP Bedugul - Re: Oil on
Lovina Beach!!



Ysh. teman-teman anggota milis ini.

Selama ini saya mengikuti terus diskusi yang ada, dan saya perlu merenung
sejenak untuk ikut urun rembug. Pak Wijaya sudah mulai berbicara tentang
rencana duduk bersama teman-teman untuk berdiskusi.
Sejauh ini pendapat yang muncul lebih menonjolkan kajian teknis semata,
dan
belum muncul kajian dari aspek budayanya.
Tolong juga dipertimbangkan kajian dari aspek budaya Bali-nya.
Bila kita melihatnya dari sisi teknis semata, rasanya tidak ada persoalan
untuk menggarap proyek ini.


Saya ingin menyampaikan satu contoh kecil, kenapa sampai saat ini di Bali
belum ada jembatan penyebrangan jalan ?
Jembatan penyebrangan yang saya maksud yaitu jembatan penyebrangan yang
dibangun pada daerah dimana kepadatan lalu lintasnya tinggi. Jembatan
penyebrangannya dibangun melintas di atas jalan raya, untuk membantu
pejalan
kaki yang hendak menyebrangi jalan yang ramai tersebut.
Dari sisi teknologinya apa sih susahnya !
Permasalahannya bukan lagi masalah kendala teknis, melainkan kendala
budaya.
Maukah orang Bali yang melakukan prosesi keagamaan melintas di bawah
jembatan
penyebrangan yang dibangun itu ?
Bila jawabannya ya, maka tidak lama lagi akan dibangun banyak jembatan
penyebrangan di Bali.
Permasalahan ini bisa diperluas untuk kasus PLTP Bedugul. Di Bali kita
mengenal konsep kaja-kelod. Masyarakat Bali yang agraris sangat
menghormati
keberadaan gunung. Gunung dipandang sebagai tempat suci. Bila dilmiahkan
kurang lebih gunung adalah sumber kesuburan, daerah resapan air tanah dsb.
Kini pertanyaannya, apakah masyarakat Bali sudah siap berubah ?
Bila gunung mulai dirambah, digunduli, ...dst, apakah orang Bali masih
mengerti akar budayanya ?
Bila proyek PLTP Bedugul jalan terus, mungkin langkah yang paling bijak
menurut saya yaitu bagaimana mempersiapkan masyarakat Bali meliwati
perubahan
dari budaya agraris ke budaya industri ?

Saya kira segitu dulu dari saya. Sampai jumpa.

salam sejahtera dari
Nyoman Bangsing

On Fri, 15 Oct 2004 18:38:56 +0800, Wijaya Kusuma wrote
> Om Swastiastu,
>
> Pak Wisnaya, info mengenai reforestry datangnya dari pihak terkait
dengan
> rencana tersebut. Itu sebabnya kita perlu data akurat dan
> setransparan mungkin untuk duduk bersama mengupasnya.
>
> Jadinya, kita mengupas tuntas semua dengan gamblang.
> Saya tunggu undangannya, atau saya tunggu kehadirannya :-)).
>
> Shanti,
>
> Wijaya.
>
> --




--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>






-- Bali In Danger, a Mailing List for people who concern with Bali Island See <http://www.bali-in-danger.net> for further info.

SALAM Gde Wisnaya Wisna ============================================= Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA Berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004 =============================================


-- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.


Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke