DISKUSI  PLTP BEDUGUL.


Kawan-kawan sekalian yang baik,



Walapun saya dikatakan sudah  tua,  saya  mencoba terus  lho  mengikuti dari
belakang  diskusi  pengembangan PLTP Bedugul di milis ini. Dari pandangan
yang disampaikan, ada yang mencoba hendak melakukan diskusi secara focus
bersungguh-sungguh , bahkan sedikit  tier-ernst, kata  orang Jerman.  Ada
juga   yang  dengan rendah hati menyatakan  ikut nimbrug. Pandangan yang
disampaikan  secara nimbrug itupun wajar-wajar saja, karena kita semua baru
pada tahap mula, ingin berkenalan dulu  dengan permasalahan yang dihadapi.
Ini wajar karena mereka ini ingin mengetahui dan ingin  berkenalan dulu
dengan permasalahannya !. Sayangnya,  ada pula  peyampaian  bahasan  yang
bersifat personal dengan jamahan private domain.  Agar diskusi menjadi lebih
baik, terbuka dan transparan, aman terkedali, sebaiknya  tidak  menyinggung
ranah  peribadi perorangan/ golongan, walaupun maksudnya mungkin sekedar
bercanda /  kelakar, tapi  itu sungguh  tak lucu. Bahasan kita sepatutnya
dibatasai pada masalah yang berkaitan dengan public domain, yang terkait
dengan kepentingan dan pelayanan publik.



Pandangan yang disampaikan tentu saja  tak bisa lepas dari ungkapan,

" You are what you eat. You are what you read". Masing-masing menyampaikan
pendapatnya sesuai dengan apa yang telah dimamah, dibaca dan diketahuinya.
Diskusi menjadi sepotong-sepotong karena  tidak ada acuan yang utuh.
Masing-masing menyampaikan  tema yang diminati, dirisaukan dan dikuasainya.
Prof. Wijaya Kusuma (UNUD) malahan sudah ingin melakukan diskusi. Tentu saja
ini baik!. Dialog tetap diperlukan antara dua/ beberapa  pihak terbatas
jumlahnya dengan  tema tertentu  yang ingin  dibahas dan didiskusikan.
Tetapi bahasannya tentu hanya akan menyangkut aspek teknis  tertentu seperti
yang diungkapkan oleh Sdr. Bangsing. Tetapi masih belum bersifat pemecahan
yang mengarah  ke solusi  publik.



Diskusi yang utuh yang mengarah ke pemecahan publik baru akan dapat
dilakukan kalau pihak investor BEL (Bali Energy Limited ?) membuka
permasalahannya,  pada tahap pertama  dengan menyampaikan secara terbuka
kepada masyarakat feasibility study projek PLTP Bedugul ini. Pada studi
kelayakan ini, sebagaimana lazimnya,  tentu akan dibentangkan kelayakan
proyek dengan uraian mengenai aspek ekonomi/keuangan, aspek teknis, aspek
lingkungan/amdal dan budaya (seperti yang ingin dirujuk Sdr. Bangsing ).Apa
manfaat dan dampak-nya bagi publik dan juga manfaatnya  bagi pihak investor
sepatutnya dijelaskan dalam studi kelayakan guna mendapatkan  public
acceptance. ?



Dengan mengacu pada laporan studi kelayakan,  agenda diskusi dapat disusun
secara terarah dengan mengikutsertakan berbagai unsur masyarakat dengan
mengundang stakeholder  terkait ( pemerintahan, lembaga,  pakar, media massa
dan rakyat yang terkena dampak proyek). Apakah kita, pemerintah daerah
kita, pemerintah pusat ( sesuai dengan wewenang pemberian  ijin pengusahaan
proyek menurut peraturan/perundangan ?)  sudah siap melakukan itu? Apakah
BEL sudah siap dan bersedia mendiskusikan  studi kelayakan PLTP Bedugul ?
Apakah di Information Center BEL  studi kelayakan itu ikut dipajang dan
publik bisa memperoleh satu copy-an untuk mempelajarinya?  Pada tahapan
selanjutnya studi kelayakan itu dapat dikaji dan diuji  bersama bahkan
mungkin diperlukan studi tambahan.



Negara berkembang sering dikatakan, tidak memiliki kemampuan untuk melakukan
analisis memecahkan masalah yang  seharusnya dapat dipecahkan secara
teknis, karena  memang teknis sifatnya. Tiadanya kemampuan teknis itu,
banyak masalah teknis lalu  " terangkat keatas"  menjadi masalah politik,
hingga semua orang  bisa  berbicara berdasarkan kekuasaan dan kepentingan
masing-masing, tetapi tidak dilandasi tanggungjawab dengan analisis teknis.



Kita menjadi saksi sejarah mengenai pembangunan Combined Cycle ( CC ) PLTGU
Pemaron. Di Bali singkatan  CC kok sepadan jadi Cagjag Cigjig, karena angkut
minyak dengan tongkang dari selatan (Manggis) ke utara (Pemaron), listrik
dibangkitkan di utara  lalu  ditransmisikan lewat jaringan listrik  ke pusat
beban di selatan ( Denpasar, Kuta, Sanur, Nusa Dua dengan beban listrik
lebih dari 81  % beban listrik seluruh Bali. Beban Pemaron hanya 7 %).
Bukankah itu tidak efesien,  pemborosan sumberdana publik.  Ini terjadi
karena pengemban proyek PT Indonesia Power/PLN tidak terbuka, tidak
profesional, terburu-buru, "krisis listrik " alasannya  dan tidak mau  dan
tidak   tersedianya studi kelayakan  yang dapat disampaikan kepada publik
sebagai acuan pembahasan bersama. PLN sampai kinipun  belum  pernah mau
melakukan dialog   dan menyampaikan pertanggungjawaban teknis pembangunan
PLTGU Pemaron yang  mencerminkan   kepentingan dan pelayanan publik.



Diskusi yang kita lakukan  dalam milis ini, jelas terbatas sifatnya (
sepotong-sepotong) baik ditinjau dari tema permasalahan yang dibahas maupun
dari jumlah para peserta diskusinya. Karena itu diskusi ini  tidak akan
dapat memberikan solusi publik. Diskusi ini terbatas hanya sekedar tukar
pikiran dan informasi untuk mencapai dasar pengertian yang sama dulu di
antara kita.  Pemecahan secara publik perlu diusahakan dalam forum publik
yang lebih luas berkaitan dengan kelayakan proyek.



 Sementara ini sekian dulu saran/ tanggapan  yang dapat saya sampaikan.
Tanggapan teknis kita bahas  lain kali.

Terima kasih!



SALAM.



Dr.-Ing. Nengah Sudja,

Konsultan Independen Bidang Energi.

----- Original Message -----
From: "Nyoman Bangsing" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, October 16, 2004 2:29 PM
Subject: [bali] Re: [sos-bali] Re: Mendiskusikan PLTP Bedugul - Re: Oil on
Lovina Beach!!


> Ysh. teman-teman anggota milis ini.
>
> Selama ini saya mengikuti terus diskusi yang ada, dan saya perlu merenung
> sejenak untuk ikut urun rembug. Pak Wijaya sudah mulai berbicara tentang
> rencana duduk bersama teman-teman untuk berdiskusi.
> Sejauh ini pendapat yang muncul lebih menonjolkan kajian teknis semata,
dan
> belum muncul kajian dari aspek budayanya.
> Tolong juga dipertimbangkan kajian dari aspek budaya Bali-nya.
> Bila kita melihatnya dari sisi teknis semata, rasanya tidak ada persoalan
> untuk menggarap proyek ini.
>
> Saya ingin menyampaikan satu contoh kecil, kenapa sampai saat ini di Bali
> belum ada jembatan penyebrangan jalan ?
> Jembatan penyebrangan yang saya maksud yaitu jembatan penyebrangan yang
> dibangun pada daerah dimana kepadatan lalu lintasnya tinggi. Jembatan
> penyebrangannya dibangun melintas di atas jalan raya, untuk membantu
pejalan
> kaki yang hendak menyebrangi jalan yang ramai tersebut.
> Dari sisi teknologinya apa sih susahnya !
> Permasalahannya bukan lagi masalah kendala teknis, melainkan kendala
budaya.
> Maukah orang Bali yang melakukan prosesi keagamaan melintas di bawah
jembatan
> penyebrangan yang dibangun itu ?
> Bila jawabannya ya, maka tidak lama lagi akan dibangun banyak jembatan
> penyebrangan di Bali.
> Permasalahan ini bisa diperluas untuk kasus PLTP Bedugul. Di Bali kita
> mengenal konsep kaja-kelod. Masyarakat Bali yang agraris sangat
menghormati
> keberadaan gunung. Gunung dipandang sebagai tempat suci. Bila dilmiahkan
> kurang lebih gunung adalah sumber kesuburan, daerah resapan air tanah dsb.
> Kini pertanyaannya, apakah masyarakat Bali sudah siap berubah ?
> Bila gunung mulai dirambah, digunduli, ...dst, apakah orang Bali masih
> mengerti akar budayanya ?
> Bila proyek PLTP Bedugul jalan terus, mungkin langkah yang paling bijak
> menurut saya yaitu bagaimana mempersiapkan masyarakat Bali meliwati
perubahan
> dari budaya agraris ke budaya industri ?
>
> Saya kira segitu dulu dari saya. Sampai jumpa.
>
> salam sejahtera dari
> Nyoman Bangsing
>
> On Fri, 15 Oct 2004 18:38:56 +0800, Wijaya Kusuma wrote
> > Om Swastiastu,
> >
> > Pak Wisnaya, info mengenai reforestry datangnya dari pihak terkait
dengan
> > rencana tersebut. Itu sebabnya kita perlu data akurat dan
> > setransparan mungkin untuk duduk bersama mengupasnya.
> >
> > Jadinya, kita mengupas tuntas semua dengan gamblang.
> > Saya tunggu undangannya, atau saya tunggu kehadirannya :-)).
> >
> > Shanti,
> >
> > Wijaya.
> >
> > --
>
>
>
> --
> Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
>
> Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
> Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
> Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
> Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
>
>




--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke