topiknya belum ditutup kan? tentang opini: namanya opini, siapapun yang mengutarakan tentu subyektif. tingal pilih pembenaran sana-sini untuk menguatkan subyektivitasnya itu. sambil mempertahankan batas-batas subyektivitasnya. kalau batasnya humanisme, berarti se-subyektif apapun opininya tetap berpegang pada nilai-nilai humanisme. dst.
kalau wartawan menulis obyektif, jadinya berita dong :)) disini wartawan gak boleh beropini. kebanyakan sih yang terjadi ngakalin narasumber dari pertanyaan supaya opini si wartawan masuk. hehehe... :)) tentang bersihar: ternyata tulisannya yang bermasalah itu di korantempo ya? kukira di blog. dalam konteks kebebasan berekspresi emang ada sih hubungannya dengan manifest BBC. tapi, dengan blogger? (rasanya kok gak cocok ya dengan judul topiknya). tentang kebebasan berekspresi: emang susah bicara kebebasan berekspresi. di amrik aja yang katanya salah satu sumber pemikiran bebas, negara paling maju, negara yang menghargai kebebasan berekspresi tetap punya persoalan. kalau emang dasarnya kekuasaan sudah gak suka dengan ekspresi yang dikeluarkan masyarakatnya (yang dikuasai), mau di negara manapun, dengan hukum apapun, tetap bakal diubek-ubek deh. gak cuma di indonesia kok. tapi, saya setuju kekuasaan yang senang semena-mena menekan yang dikuasai untuk kepentingannya adalah tidak benar. dan patut untuk dikritisi. salam, heru http://kataheru.blogspot.com Anton Muhajir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > "Dewi K. Rahmayanti" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > >>yang opininya harus obyektif itu > > (seharusnya) jurnalis. hehehe... > > Ini sih mitos, Mbak. Objektifnya wartawan itu omong > kosong. Semuanya sudah dibuat demikian rupa sejak awal > sehingga tidak mungkin ada objektivitas. > > Misalnya dalam penentuan angle (sudut pandang). Tiap > wartawan punya angle masing2. Dan, tentu saja, itu > tergantung si wartawan. Pilihan wartawan kere, tentu > beda dg pilihan wartawan kaya. Wartawan Bali Post > tentu beda dg wartawan Kompas, dst. > > Lalu pemilihan narasumber, kalimat, kata, judul, dst. > Semuanya subjektif. Demikian pula beritanya. > > Salam, > > > ~anton~ > bukan wartawan baik2. :)) > > --- "Dewi K. Rahmayanti" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > lah, gapapa klo opininya ga obyektif, kita khan > > blogger. yang opininya harus obyektif itu > > (seharusnya) jurnalis. hehehe... > > mungkin memang tuhan ga pernah salah. tapi pada > > siapa dong akan kita salahkan kata merdeka yang > > diselipkan di memori otak manusia, karena pada > > kenyataannya, kita sendiri bahkan tidak pernah > > benar2 merdeka. untuk segala sesuatu yang kita > > lakukan, suatu saat harus dipertanggungjawabkan. > > bukankah itu sama saja dnegan tidak merdeka? > > > > Winardi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Kalo menurut saya, merdeka itu bukan salah kosa kata > > mbak ... > > Cuman orang - orang saja yang menafsirkan dengan > > salah ... > > Kalo jaman Soekarno, merdeka itu artinya bebas dari > > kungkungan penjajahan ... > > Merdeka dalam arti berdaulat, berdikari ... > > Kalo jaman Soeharto, maknanya merdeka berubah lagi > > ... > > Koran yang bertentangan di-bredel ... > > Orang yang ga sealiran dianggap subversif ... > > > > So, for me, Tuhan ga pernah salah ... > > Orangnya yang salah mbok :) > > Saya tidak tau menurut pendapat temans yang lain > > ... > > > > Maaf jika saya kedengaran seperti tidak objektif or > > bias ... > > > > Untuk masalah pengadilan, saya dukung bli anton ... > > > > Hare gene masih subversif - subversifan > > > > -semoga saya tidak salah menyebut nama or jargon- > > > > > > 2008/2/13 Dewi K. Rahmayanti <[EMAIL PROTECTED]>: > > Dear bang ancak, > > bang dodie, bang anton.. dan bang-ku2 yang laen :D, > > > > mungkin ini sudah menjadi resiko dari kita yang > > berdomisili di bawah teritori negara dengan > > hukum-hukumnya. dan hukum dalam sebuah komunitas itu > > wajar adanya (bahkan baliblogger pun punya hukum > > tersendiri kan? :D). > > yang menyedihkan adalah, salah satu hukumnya > > merampas kemerdekaan bersuara. dan perampasan > > kemerdekaan sudah mengakar menjadi budaya. tidak > > mudah untuk mengganti / merubah sebuah kebudayaan, > > tetapi perjuangan tidak ada yang berakhir sia - sia. > > kalau saat ini bahtiar lubis, mungkin suatu hari > > giliran kita. tak banyak mungkin yang bisa > > dilakukanuntuk bahtiar lubis, toh disana saya yakin > > pembela - pembelanya jauh lebih jago dari saya > > disini. > > > > seperti kalimat : > > bukan suharto yang sekarang patut diwaspadai, > > melainkan sohartoisme. > > > > kalimat itu mungkin bisa juga dipake dalam usaha > > melawan penguasa -penguasa saat ini. bukan hanya > > membela bahtiar lubis, melainkan.. jadilah bahtiar > > lubis. dan terus menerus menulis, selama tulisan itu > > mampu dipertanggungjawabkan. > > > > btw, mungkinkah merdeka adalah kesalahan kosa kata > > yang diciptakan tuhan untuk manusia? ;) > > > > just a rambling thought.. > > > > Dewi > > http://secret-silence.blogspot.com > > > > > > > > ancak ramone <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kawan-kawan yang baik, > > > > saya setuju dengan Anton. bahwa kita harus > > menyikapi > > hal ini karena jika kita tidak melawan, maka kita > > akan > > menjadi korban-korban berikutnya. > > > > Apa yang telah menimpa penulis ini harus kita > > sikapi > > bersama, karena: > > > > 1. Secara historis, pasal-pasal penghinaan thd > > penguasa umum, pejabat negara, presiden-wakil > > presiden, merupakan pasal 'haatzaai artikelen' dan > > 'lese majeste' merupakan warisan kolonial Belanda > > yang > > saat itu memang bertujuan untuk memenjarakan > > pejuang > > yang berani melawan penjajah. > > > > akan menjadi sangat ironis, jika semangat > > penindasan > > kolonial dalam pasal tersebut masih dipertahankan > > dalam sistem hukum indonesia di jaman sekarang ini. > > > > 2. Bahwa pasal penghinaan presiden dan wakil > > presiden > > telah dinyatakan tidak berlaku oleh Mahkamah > > Konstitusi karena bertentangan dengan HAM > > (kebebasan > > berekspresi, mendapatkan informasi dan mengeluarkan > > pendapat). > > > > Jika pasal penghinaan presiden (kepala negara & > > kepala > > pemerintahan) saja telah dicabut maka semestinya > > pasal > > yang berkaitan dengannya (penghinaan thd penguasa > > umum, pejabat negara) juga dinyatakan tidak > > berlaku > > secara mutatis-mutandis. itu logika hukumnya. > > > > Jika masih dipertahankan, maka artinya Jaksa itu > > lebih > > tinggi dari pada Presiden??? > > > > 3. Ketika tulisan dilawan dengan penghukuman, > > penjara, > > maka ini membuktikan bahwa bangsa ini masih bangsa > > yang bodoh. Jika memang tidak sepakat dengan isi > > sebuah tulisan, makan lawanlah tulisan dengan > > tulisan. > > > > kawan-kawan, > > > > kasus-kasus seperti ini masih saja terjadi karena > > pasal yang digunakan sangatlah karet (dapat > > ditarik > > sana-sini tergantung dari aparat penegak hukumnya). > > mungkin masih ingat kasus anak punk di Singaraja > > dan > > Ed Eddy n Residivis (Igo dan Edi) yang dituduh > > telah > > menghina polisi, saat ini Bersihar Lubis dituduh > > menghina kejaksaan. > > > > maka besok, saya, anda dan kita semua dapat menjadi > > korban berikutnya dari kekuasaan yang sedang haus > > ligitimasi untuk menundukkan warga negaranya. > > > > Tunduk tertindas atau bangkit melawan, karena diam > > adalah penghianatan. > > > > Damai, > > > > ANcak > > > > Anton Muhajir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Semeton Belogger yth, > > > > > > Rabu pekan depan (20/2/08) Pengadilan Negeri > > Depok > > > akan mengeluarkan vonis untuk Bersihar Lubis, > > > penulis > > > opini yang mengkritik pembakaran buku oleh > > Kejaksaan > > > Negeri Depok. Jaksa menuntut Bersihar dengan > > hukuman > > > penjara delapan bulan karena dianggap melanggar > > > pasal > > > 207 (penghinaan terhadap penguasa) dan 310 > > > (penghinaan > > > terhadap orang lain) KUHP. > > > > > > Tuntutan Jaksa tersebut bertolakbelakang dari > > > semangat > > > umum masyarakat yang menginginkan kebebasan > > > menyatakan > > > pendapat tidak dibatasi. Tuntutan tersebut > > merupakan > > > bentuk baru pengerdilan masyarakat dalam > > menyatakan > > > pendapat yang telah dijamin dalam Undang-undang > > > Dasar > > > 1945. > > > > > > Jika majelis hakim menyatakan Bersihar bersalah, > > > kebebasan berpendapat akan terancam. Maka, > > putusan > > > ini > > > tidak hanya ancaman pada penulis opini dan > > jurnalis > > > tapi juga kita semua, blogger. Bayangkan jika > > ada > > > suatu saat ada orang yang menuntut kita gara-gara > > > tulisan di blog. Maka, tidak ada lagi kebebasan > > > berekspresi dan berpendapat seperti yang kita > > > teriakkan pada Manifesto Blogger Bali saat > > launching > > > === message truncated === > > > > -- > > Anton Muhajir > http://rumahtulisan.wordpress.com > > > > > ____________________________________________________________________________________ > Looking for last minute shopping deals? > Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping >

