Dear All,
Telah beberapa bulan saya menjadi member di milis ini dan mohon maaf jika
selama ini saya hanya menjadi member pasif. Perkenankanlah pada kesempatan
ini saya menyampaikan uneg-uneg atas apa yang baru saja saya alami ketika
makan di restoran SOLARIA.

Sesuai dengan pernyataan lisan yang saya berikan kepada pihak SOLARIA dalam
hal ini saya sampaikan kepada sdri. Ema (Kasir) jika dalam waktu 2
hari/sampai dengan hari Senin tanggal 24 September 2007 pihak manajemen
SOLARIA tidak juga menghubungi saya perihal keluhan/kekecewaan yang saya
alami, saya akan mempublikasikannya kepada khalayak ramai melalui media
masa.



Pada hari Sabtu tanggal 22 September 2007, Saya bersama 2 orang teman saya
memutuskan utk makan malam di restoran "SOLARIA" yang bertempat di gedung
OIL CENTER, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat (depan EX). Berhubung saya tidak
terlalu lapar, saya memilih "Mie Ayam Bakso" dan "Es Teh Manis" dari menu
yang ditawarkan sementara kedua teman saya memilih menu yang berbeda.



Sekitar 10 menit kami harus menunggu sampai akhirnya semua makanan yang kami
pesan tersedia di hadapan kami. Pada waktu itu suasana disana cukup ramai
karena bertepatan dgn waktu berbuka puasa sampai saya harus menunggu cukup
lama hanya untuk sekedar meminta tambahan kuah karena mie ayam yang saya
makan terasa agak asin. Setelah kuah tambahan datang, saya menuangkannya
kedalam mangkuk mie ayam sambil mengaduk-aduk mie dan pernak-perniknya yang
sudah tinggal separuh, dengan terkaget-kaget dan hampir tidak percaya dengan
apa yang saya lihat, saya menemukan sosok serangga berwarna coklat yang saya
yakini sebagai "kecoa". Temuan saya ini saya konfirmasikan kepada kedua
teman saya untuk meyakinkannya dan kontan kedua teman saya berhenti
menyantap makanannya masing-masing. Temuan saya ini akhirnya saya
beritahukan ke salah seorang pelayan dengan perntanyaan basa-basi : "Apa ini
mbak?" Pelayan tersebut langsung mengambil mangkuk mie ayam tersebut dan
menyatakan permohonan maaf   dan menawarkan akan mengganti yang baru sambil
pergi kembali masuk ke dapur. Saya dan teman-teman saya hanya bisa tertegun.
Pasalnya bukan permintaan maaf dan penggantian makanan yang saya butuhkan
saat itu tapi klarifikasi dari pihak manajemen SOLARIA perihal mengapa hal
ini sampai terjadi.



Kembali saya memanggil pelayan-pelayan disana dan meminta apakah saya bisa
bertemu dgn supervisor atau " *duty manager*" yang ada. Saya berusaha untuk
sesopan mungkin memintanya karena saya tidak mau menggangu pelanggan yang
lain yang sedang berbuka puasa namun nampaknya permintaan saya ini tidak
diperhatikan dgn serius atau malah saya menduga segaja ditutup-tutupi.
Seorang pelayan bernama Susi mengatakan bahwa hari itu tidak ada
siapa-siapa, tidak ada supervisor ataupun *duty manager*. Saya memintanya
untuk menghubungi via telefon. Sekali lagi dikatakan bahwa pihak manajemen
SOLARIA tidak dapat dihubungi. Semakin kesal akhirnya saya meminta nomer *
handphone* yang bisa saya hubungi untuk menyampaikan keluhan saya ini.
Sebuah nomer *handphone* diberikan atas nama ibu Iroh. Terus terang tidak
jelas apa jabatan ibu Iroh ini. Teman saya membantu saya menghubungi nomer
tersebut dan menyampaikan keluhan saya namun ketika diminta utk datang ke
lokasi, ibu Iroh ini tidak bersedia.



Saya sangat menyayangkan restoran sekelas SOLARIA ini tidak melengkapi
bisnisnya dengan layanan *online service* untuk pengaduan pelanggan. Karena
sudah tidak sabar menunggu akhirnya kami bertiga memutuskan untuk
meninggalkan tempat itu dan meninggalkan pesan-pesan kepada Sdri. Ema
(kasir). Saya menuliskan nama lengkap saya beserta nomer *handphone* saya
dan memintanya untuk menyampaikannya kepada pihak manajemen SOLARIA untuk
menghubungi saya. Saya tidak meminta uang saya kembali karena saya
menganggap masalah ini belum selesai. Saya mengatakan jika dalam waktu dua
hari (sampai dengan hari Senin, 24 September 2007)   pihak manajemen SOLARIA
tidak juga memberikan tanggapan/klarifikasi atas keluhan saya, saya akan
mempublikasikan pengalaman saya ini ke media masa.



Mulai saat itu saya meragukan higienitas dari makanan-makanan yang disajikan
SOLARIA. Saya hanya bisa berharap kejadian yang menimpa saya ini tidak
terjadi lagi kepada pelanggan-pelanggan SOLARIA yang lain dan semoga SOLARIA
bisa lebih "jantan" dalam menjalankan bisnisnya.



Salam,

Andreas Setiarama

[EMAIL PROTECTED]

[EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke