Andreas,
Saya kaget juga membaca emailmu, karena pengalamanmu di SOLARIA itu persis
sama yang saya alami ketika makan di Solaria (Plaza Semanggi)!!! Pas itu
teman saya habis selesai nge-gym dan mengajak saya makan siang di sana...
Kami putar-putar hingga akhirnya memutuskan makan di Solaria (waktu itu
sudah lewat jam makan siang, sehingga dah laper banget)... Sampe sana rame
banget, saya pesan teriyaki apa gitu dan teman saya pesan mie ayam (saya
masih ingat harganya 12,000)...

Makanan datang, kamipun senang... Ketika lagi setengah jalan makan, kami
sempat berkomentar sayur di Solaria tidak fresh tapi ya sutralah... tapi
teman saya tiba-tiba berhenti makan, dan menaruh mangkuknya dengan shock...
Saya tanya kenapa, dia menampakkan muka jijik gitu... Dia bilang ada kecoa
di mangkuknya, iih, saya juga langsung berhenti makan dan kehilangan selera
makan total lho! Kami panggil pelayan, dan teman saya (yang kebetulan lama
tinggal di Singapore) bilang kalau hal ini tidak bisa ditolerir dan dia
tidak akan makan di Solaria lagi. Dia bilang kalau di Spore terjadi seperti
itu, tentu restoran tsb sudah ditutup seketika! Saya juga jijik setengah
mati, terutama membayangkan kecoa yg notabene adalah binatang kotor yang
sering ke tempat2 jorok dan mudah berkembang biak tadi masuk ke pencernaan
saya... Eukh, sejak saat itu saya tidak mau makan di Solaria lagi. Setelah
itu pelayan memang seperti ketakutan bilang mau mengganti makanan (udah
ilfeel lah), dan teman saya minta dikembalikan uangnya. Kejadian ini sekali
terjadi dengan saya sebagai saksi matanya, dan saat membaca email di milis
ini saya jadi semakin yakin bahwa Solaria bukan tempat yg layak disebut
restaurant. Pelayan2nya tidak ramah (kalau mau dibandingkan resto yg setara,
misalnya Platinum, pelayanannya jauh lebih sucks), sayuran tidak fresh, plus
jadi cemas terus kalau2 ada kecoa termakan...hiii...

Kebetulan saya berkantor di daerah Sudirman, dan dekat dengan Plz Semanggi,
sehingga sekarang setiap kali teman-teman kantor mengajak kunch di sana dan
menunjuk Solaria...saya langsung angkat bicara dan mencegah mereka ke sana.
Jadi setidaknya dari sekian banyak teman saya, tidak akan ada satupun yang
pergi ke Solaria lagi... Berhubung ini adalah milis pecinta makanan (yang
enak dan sehat), maka saya juga merasa berkewajiban menyampaikan kerisauan
ini. Thanks for sharing.

Ga usah ambil resiko, masih banyak kok tempat makan lain...


Ttd,
Shirley

On 9/24/07, Andreas Setiarama <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Dear All,
> Telah beberapa bulan saya menjadi member di milis ini dan mohon maaf jika
> selama ini saya hanya menjadi member pasif. Perkenankanlah pada kesempatan
> ini saya menyampaikan uneg-uneg atas apa yang baru saja saya alami ketika
> makan di restoran SOLARIA.
>
> Sesuai dengan pernyataan lisan yang saya berikan kepada pihak SOLARIA
> dalam hal ini saya sampaikan kepada sdri. Ema (Kasir) jika dalam waktu 2
> hari/sampai dengan hari Senin tanggal 24 September 2007 pihak manajemen
> SOLARIA tidak juga menghubungi saya perihal keluhan/kekecewaan yang saya
> alami, saya akan mempublikasikannya kepada khalayak ramai melalui media
> masa.
>
>
>
> Pada hari Sabtu tanggal 22 September 2007, Saya bersama 2 orang teman saya
> memutuskan utk makan malam di restoran "SOLARIA" yang bertempat di gedung
> OIL CENTER, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat (depan EX). Berhubung saya tidak
> terlalu lapar, saya memilih "Mie Ayam Bakso" dan "Es Teh Manis" dari menu
> yang ditawarkan sementara kedua teman saya memilih menu yang berbeda.
>
>
>
> Sekitar 10 menit kami harus menunggu sampai akhirnya semua makanan yang
> kami pesan tersedia di hadapan kami. Pada waktu itu suasana disana cukup
> ramai karena bertepatan dgn waktu berbuka puasa sampai saya harus menunggu
> cukup lama hanya untuk sekedar meminta tambahan kuah karena mie ayam yang
> saya makan terasa agak asin. Setelah kuah tambahan datang, saya
> menuangkannya kedalam mangkuk mie ayam sambil mengaduk-aduk mie dan
> pernak-perniknya yang sudah tinggal separuh, dengan terkaget-kaget dan
> hampir tidak percaya dengan apa yang saya lihat, saya menemukan sosok
> serangga berwarna coklat yang saya yakini sebagai "kecoa". Temuan saya ini
> saya konfirmasikan kepada kedua teman saya untuk meyakinkannya dan kontan
> kedua teman saya berhenti menyantap makanannya masing-masing. Temuan saya
> ini akhirnya saya beritahukan ke salah seorang pelayan dengan perntanyaan
> basa-basi : "Apa ini mbak?" Pelayan tersebut langsung mengambil mangkuk mie
> ayam tersebut dan menyatakan permohonan maaf   dan menawarkan akan
> mengganti yang baru sambil pergi kembali masuk ke dapur. Saya dan
> teman-teman saya hanya bisa tertegun. Pasalnya bukan permintaan maaf dan
> penggantian makanan yang saya butuhkan saat itu tapi klarifikasi dari pihak
> manajemen SOLARIA perihal mengapa hal ini sampai terjadi.
>
>
>
> Kembali saya memanggil pelayan-pelayan disana dan meminta apakah saya bisa
> bertemu dgn supervisor atau " *duty manager *" yang ada. Saya berusaha
> untuk sesopan mungkin memintanya karena saya tidak mau menggangu pelanggan
> yang lain yang sedang berbuka puasa namun nampaknya permintaan saya ini
> tidak diperhatikan dgn serius atau malah saya menduga segaja ditutup-tutupi.
> Seorang pelayan bernama Susi mengatakan bahwa hari itu tidak ada
> siapa-siapa, tidak ada supervisor ataupun *duty manager*. Saya memintanya
> untuk menghubungi via telefon. Sekali lagi dikatakan bahwa pihak manajemen
> SOLARIA tidak dapat dihubungi. Semakin kesal akhirnya saya meminta nomer *
> handphone* yang bisa saya hubungi untuk menyampaikan keluhan saya ini.
> Sebuah nomer *handphone* diberikan atas nama ibu Iroh. Terus terang tidak
> jelas apa jabatan ibu Iroh ini. Teman saya membantu saya menghubungi nomer
> tersebut dan menyampaikan keluhan saya namun ketika diminta utk datang ke
> lokasi, ibu Iroh ini tidak bersedia.
>
>
>
> Saya sangat menyayangkan restoran sekelas SOLARIA ini tidak melengkapi
> bisnisnya dengan layanan *online service* untuk pengaduan pelanggan.
> Karena sudah tidak sabar menunggu akhirnya kami bertiga memutuskan untuk
> meninggalkan tempat itu dan meninggalkan pesan-pesan kepada Sdri. Ema
> (kasir). Saya menuliskan nama lengkap saya beserta nomer *handphone* saya
> dan memintanya untuk menyampaikannya kepada pihak manajemen SOLARIA untuk
> menghubungi saya. Saya tidak meminta uang saya kembali karena saya
> menganggap masalah ini belum selesai. Saya mengatakan jika dalam waktu dua
> hari (sampai dengan hari Senin, 24 September 2007)   pihak manajemen
> SOLARIA tidak juga memberikan tanggapan/klarifikasi atas keluhan saya, saya
> akan mempublikasikan pengalaman saya ini ke media masa.
>
>
>
> Mulai saat itu saya meragukan higienitas dari makanan-makanan yang
> disajikan SOLARIA. Saya hanya bisa berharap kejadian yang menimpa saya ini
> tidak terjadi lagi kepada pelanggan-pelanggan SOLARIA yang lain dan semoga
> SOLARIA bisa lebih "jantan" dalam menjalankan bisnisnya.
>
>
>
> Salam,
>
> Andreas Setiarama
>
> [EMAIL PROTECTED]
>
> [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
> 
>



-- 
"I wish you enough sun to keep your attitude bright..."

Kirim email ke