Mbak Shirley,
Terimakasih sudah merespons e-mail saya ... pengalaman kita bisa dibilang
sama persis ya ... saya benar menyayangkan nama besar SOLARIA hancur begitu
saja hanya karena pihak manajemennya tidak "jantan". Mungkin ini yg
menyebabkan kejadian seperti ini terus berulang, suara dari grassroot tidak
terdengar samapai atas maka dari itu saya bersikap utk tidak ambil toleransi
sedikitpun dgn menyebarluaskan pengalaman saya ini karena yg menjadi korban
nampaknya sudah banyak.

Salam,
Andreas


On 9/25/07, Shirley Wibisono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Andreas,
> Saya kaget juga membaca emailmu, karena pengalamanmu di SOLARIA itu persis
> sama yang saya alami ketika makan di Solaria (Plaza Semanggi)!!! Pas itu
> teman saya habis selesai nge-gym dan mengajak saya makan siang di sana...
> Kami putar-putar hingga akhirnya memutuskan makan di Solaria (waktu itu
> sudah lewat jam makan siang, sehingga dah laper banget)... Sampe sana rame
> banget, saya pesan teriyaki apa gitu dan teman saya pesan mie ayam (saya
> masih ingat harganya 12,000)...
>
> Makanan datang, kamipun senang... Ketika lagi setengah jalan makan, kami
> sempat berkomentar sayur di Solaria tidak fresh tapi ya sutralah... tapi
> teman saya tiba-tiba berhenti makan, dan menaruh mangkuknya dengan shock...
> Saya tanya kenapa, dia menampakkan muka jijik gitu... Dia bilang ada kecoa
> di mangkuknya, iih, saya juga langsung berhenti makan dan kehilangan selera
> makan total lho! Kami panggil pelayan, dan teman saya (yang kebetulan lama
> tinggal di Singapore) bilang kalau hal ini tidak bisa ditolerir dan dia
> tidak akan makan di Solaria lagi. Dia bilang kalau di Spore terjadi seperti
> itu, tentu restoran tsb sudah ditutup seketika! Saya juga jijik setengah
> mati, terutama membayangkan kecoa yg notabene adalah binatang kotor yang
> sering ke tempat2 jorok dan mudah berkembang biak tadi masuk ke pencernaan
> saya... Eukh, sejak saat itu saya tidak mau makan di Solaria lagi. Setelah
> itu pelayan memang seperti ketakutan bilang mau mengganti makanan (udah
> ilfeel lah), dan teman saya minta dikembalikan uangnya. Kejadian ini sekali
> terjadi dengan saya sebagai saksi matanya, dan saat membaca email di milis
> ini saya jadi semakin yakin bahwa Solaria bukan tempat yg layak disebut
> restaurant. Pelayan2nya tidak ramah (kalau mau dibandingkan resto yg setara,
> misalnya Platinum, pelayanannya jauh lebih sucks), sayuran tidak fresh, plus
> jadi cemas terus kalau2 ada kecoa termakan...hiii...
>
> Kebetulan saya berkantor di daerah Sudirman, dan dekat dengan Plz
> Semanggi, sehingga sekarang setiap kali teman-teman kantor mengajak kunch di
> sana dan menunjuk Solaria...saya langsung angkat bicara dan mencegah mereka
> ke sana. Jadi setidaknya dari sekian banyak teman saya, tidak akan ada
> satupun yang pergi ke Solaria lagi... Berhubung ini adalah milis pecinta
> makanan (yang enak dan sehat), maka saya juga merasa berkewajiban
> menyampaikan kerisauan ini. Thanks for sharing.
>
> Ga usah ambil resiko, masih banyak kok tempat makan lain...
>
>
> Ttd,
> Shirley
>
>  On 9/24/07, Andreas Setiarama <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >    Dear All,
> > Telah beberapa bulan saya menjadi member di milis ini dan mohon maaf
> > jika selama ini saya hanya menjadi member pasif. Perkenankanlah pada
> > kesempatan ini saya menyampaikan uneg-uneg atas apa yang baru saja saya
> > alami ketika makan di restoran SOLARIA.
> >
> > Sesuai dengan pernyataan lisan yang saya berikan kepada pihak SOLARIA
> > dalam hal ini saya sampaikan kepada sdri. Ema (Kasir) jika dalam waktu 2
> > hari/sampai dengan hari Senin tanggal 24 September 2007 pihak manajemen
> > SOLARIA tidak juga menghubungi saya perihal keluhan/kekecewaan yang saya
> > alami, saya akan mempublikasikannya kepada khalayak ramai melalui media
> > masa.
> >
> >
> >
> > Pada hari Sabtu tanggal 22 September 2007, Saya bersama 2 orang teman
> > saya memutuskan utk makan malam di restoran "SOLARIA" yang bertempat di
> > gedung OIL CENTER, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat (depan EX). Berhubung
> > saya tidak terlalu lapar, saya memilih "Mie Ayam Bakso" dan "Es Teh Manis"
> > dari menu yang ditawarkan sementara kedua teman saya memilih menu yang
> > berbeda.
> >
> >
> >
> > Sekitar 10 menit kami harus menunggu sampai akhirnya semua makanan yang
> > kami pesan tersedia di hadapan kami. Pada waktu itu suasana disana cukup
> > ramai karena bertepatan dgn waktu berbuka puasa sampai saya harus menunggu
> > cukup lama hanya untuk sekedar meminta tambahan kuah karena mie ayam yang
> > saya makan terasa agak asin. Setelah kuah tambahan datang, saya
> > menuangkannya kedalam mangkuk mie ayam sambil mengaduk-aduk mie dan
> > pernak-perniknya yang sudah tinggal separuh, dengan terkaget-kaget dan
> > hampir tidak percaya dengan apa yang saya lihat, saya menemukan sosok
> > serangga berwarna coklat yang saya yakini sebagai "kecoa". Temuan saya ini
> > saya konfirmasikan kepada kedua teman saya untuk meyakinkannya dan kontan
> > kedua teman saya berhenti menyantap makanannya masing-masing. Temuan saya
> > ini akhirnya saya beritahukan ke salah seorang pelayan dengan perntanyaan
> > basa-basi : "Apa ini mbak?" Pelayan tersebut langsung mengambil mangkuk mie
> > ayam tersebut dan menyatakan permohonan maaf   dan menawarkan akan
> > mengganti yang baru sambil pergi kembali masuk ke dapur. Saya dan
> > teman-teman saya hanya bisa tertegun. Pasalnya bukan permintaan maaf dan
> > penggantian makanan yang saya butuhkan saat itu tapi klarifikasi dari pihak
> > manajemen SOLARIA perihal mengapa hal ini sampai terjadi.
> >
> >
> >
> > Kembali saya memanggil pelayan-pelayan disana dan meminta apakah saya
> > bisa bertemu dgn supervisor atau " *duty manager *" yang ada. Saya
> > berusaha untuk sesopan mungkin memintanya karena saya tidak mau menggangu
> > pelanggan yang lain yang sedang berbuka puasa namun nampaknya permintaan
> > saya ini tidak diperhatikan dgn serius atau malah saya menduga segaja
> > ditutup-tutupi. Seorang pelayan bernama Susi mengatakan bahwa hari itu tidak
> > ada siapa-siapa, tidak ada supervisor ataupun *duty manager*. Saya
> > memintanya untuk menghubungi via telefon. Sekali lagi dikatakan bahwa pihak
> > manajemen SOLARIA tidak dapat dihubungi. Semakin kesal akhirnya saya meminta
> > nomer *handphone* yang bisa saya hubungi untuk menyampaikan keluhan saya
> > ini. Sebuah nomer *handphone* diberikan atas nama ibu Iroh. Terus terang
> > tidak jelas apa jabatan ibu Iroh ini. Teman saya membantu saya menghubungi
> > nomer tersebut dan menyampaikan keluhan saya namun ketika diminta utk datang
> > ke lokasi, ibu Iroh ini tidak bersedia.
> >
> >
> >
> > Saya sangat menyayangkan restoran sekelas SOLARIA ini tidak melengkapi
> > bisnisnya dengan layanan *online service* untuk pengaduan pelanggan.
> > Karena sudah tidak sabar menunggu akhirnya kami bertiga memutuskan untuk
> > meninggalkan tempat itu dan meninggalkan pesan-pesan kepada Sdri. Ema
> > (kasir). Saya menuliskan nama lengkap saya beserta nomer *handphone*saya 
> > dan memintanya untuk menyampaikannya kepada pihak manajemen SOLARIA
> > untuk menghubungi saya. Saya tidak meminta uang saya kembali karena saya
> > menganggap masalah ini belum selesai. Saya mengatakan jika dalam waktu dua
> > hari (sampai dengan hari Senin, 24 September 2007)   pihak manajemen
> > SOLARIA tidak juga memberikan tanggapan/klarifikasi atas keluhan saya, saya
> > akan mempublikasikan pengalaman saya ini ke media masa.
> >
> >
> >
> > Mulai saat itu saya meragukan higienitas dari makanan-makanan yang
> > disajikan SOLARIA. Saya hanya bisa berharap kejadian yang menimpa saya ini
> > tidak terjadi lagi kepada pelanggan-pelanggan SOLARIA yang lain dan semoga
> > SOLARIA bisa lebih "jantan" dalam menjalankan bisnisnya.
> >
> >
> >
> > Salam,
> >
> > Andreas Setiarama
> >
> > [EMAIL PROTECTED]
> >
> > [EMAIL PROTECTED]
> >
> >
> >
> >
>
>
> --
> "I wish you enough sun to keep your attitude bright..."
>
> 
>



-- 
regds,
rama | http://andreas-setiarama.com

Kirim email ke