Dear Mas Boby, Mohon maaf saya tidak bisa menjawab, oleh sebab itu pernyataan saya di awal, mereka yg belajar lebih banyak dan fokus soal agama mungkin bisa menjawab lebih tepat. SUNGGUH pernyataan saya diawal justru merupakan kekawatiran saya.
Saya yakin MUI bisa menjawab ini....[Tepat tidak tepatnya tergantung] [Saya tidak akan berandai andai dan pura pura tahu soal ini.... untuk itu saya secara pribadi membutuhkan FATWA untuk hal hal yg tampak samar dan ragu] Mas Nurkotim saya juga setuju dg Mas, dan pertanyaan Mas itu memang perlu dilontarkan. Benar mas perlu MUI dikontrol, maka diawal saya menuliskan : Jika ada satu dua orang yang "oknum" maka mekanisme perekrutannya bisa diperketat dan diperbaiki, namun sebagai LEMBAGA khususnya umat Islam harus turut menjaga. Jadi saya sependapat dengan Mas Nur. Saya melihat PENDAPAT MUI masih lebih terkontrol dibanding pendapat ulama/kyai/guru secara pribadi, apalagi pendapat seseorang (satu orang), karena ada mekanisme berfatwa. Sekali lagi, Semoga kita lebih cermat dan hati hati... siapa yang pantas kita percayai.... Saya sangat menyadari, hal semacam ini tidak akan bisa diperdebatkan, karena value pribadi dan keyakinan itu tidak bisa dipaksakan, apalagi bila mengandung sebuah kepentingan. Saya hanya mencoba WARNING untuk lebih waspada saja, tentu ini juga kepada HANYA yang terinspirasi. Bagi yang tidak, itupun bisa menguatkan keyakinannya sekarang. Bukankah perasaan sayang mendorong jemari ini menulis email, jika tidak buat apa? Kalau kita membenci, tentu biarlah semakin terperosok. Itu mungkin lebih melegakan. Saya menghormati pendapat Mas Boby dan Mas Nur... Justru dari email MAs Boby dan Mas Nur, pemahaman menjadi lebih baik dan lebih baik. Biarlah pertanyaan Mas2 menjadi sebuah perenungan. Semoga Tuhan memberi bimbingan untuk menerima kebaikan dan memberi kita kekuatan untuk menjauhi hal yg buruk. Itupun kalau kita iklas untuk mendapat bimbingannya. Karena Bimbingan jalan yang benar belum tentu nikmat adanya. Keberserahan kita untuk menerima, sering kali, disitu titik pencerahan ditemukan. Sudah terlalu sering hal benar dikalahkan oleh kepentingan kepentingan. Pertanyaan Mas Boby dan Mas Nur, saya tidak mampu menjawabnya....Mohon maaf....., Namun saya akan selalu merenungkanya, karena sebenarnya ini adalah hal yang sangat penting dalam hidup kita.(Itu pun kalau setuju, jika tidak itu pun sangat syah, bukan masalah) Terima kasih... tetap semangat untuk berbagi dan mengingatkan... I Love U Full (minjem istilah Mbah Surip HAHAHA) Salam:) Hari Subagya ----- Original Message ----- From: bobysuprijadi To: [email protected] Sent: Wednesday, February 04, 2009 1:19 PM Subject: Sabar dan hati hati....Re: [Bicara] GOLPUT HARAM? Pertanyaan pertanyaan Anda memang sangat perlu dijawab, tapi mungkin pertanyaan saya lebih kena dan perlu dijawab pula: Apakah Tuhan menunjuk ulama ulama tsb untuk menentukan haram dan halal, baik untuk makanan dan bukan makanan? -- In [email protected], "Nurkhotim" <nurkho...@...> wrote: > > Apakah jumlah 700 Ulama pasti menjamin semua Fatwa yang dikeluarkan mesti > benar !?? > > Apakah ulama yang belajar lebih banyak dari Mas Hari Subagya itu mesti > pinter !? paling pinter !? dan paling bener !?? > > > > Apakah 700 orang ulama itu 'pasti' berdebat sengit semua pada saat Ijtima, > apakah tidak ada yang tidur,.. seorang pun !? ada yang tahu persis,.. !?? > > Apakah fatwa itu muncul karena yang mendukung itu berjumlah 351 orang (!??) > > Menghormati MUI,.. bagus,.. dan memang kita harus menghormati orang > lain,..!! Setuju !! > > > > Namun,.. pada saat sebuah lembaga menjadi sorotan dan sumber > fatwa,.dihormati,. apakah tidak perlu dikontrol,..!?? > > > > Ulama juga manusia,. tapi bukan Nabi,.bukan Rosul,. bukan MAKSUM,..!!! > > Artinya !?? mereka bisa juga salah,.. Sekecil apapun itu,.. salah tetap > salah,..!!! apalagi berbicara mengenai FATWA,..!! > > > > Wassalam > > Nurkhotim >
