7. Kalau bukan Tuhan, mengapa orang memuja-Nya?

Ada berbagai jenis pemujaan. Kalau orang memuja Tuhan, mereka berdoa dan menyembah-Nya, memberi persembahan dan memohon kemurahan-Nya, percaya bahwa Tuhan akan mendengar doa mereka, menerima persembahan mereka, dan menjawab doa mereka. Umat Buddha tidak melakukan pemujaan dengan cara seperti ini. Jenis pemujaan yang lain yaitu apabila kita menunjukkan rasa hormat kepada seseorang atau sesuatu yang kita hargai. Ketika guru memasuki ruang kelas, kita berdiri, ketika kita bersua dengan orang terhormat, kita berjabat tangan, ketika lagu kebangsaan dinyanyikan, kita memberi hormat. Semua ini adalah sikap dan pemujaan yang dipraktekkan oleh umat Buddha. Sebuah patung Buddha dengan kedua tangan lembut di pangkuan, dengan senyum yang penuh welas asih, mengingatkan kita untuk senantiasa berupaya mengembangkan kedamaian dan cinta kasih dalam diri kita. Harumnya dupa mengingatkan kita akan harumnya buah kebajikan, nyala lilin melambangkan cahaya pengetahuan, dan persembahan bunga yang bakal layu dan membusuk mengingatkan kita akan ketidakkekalan segala sesuatu. Dengan bersujud, kita mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Buddha atas ajaran-Nya yang telah dibabarkan kepada kita. Inilah sifat-sifat pemujaan umat Buddha.

 

8. Tetapi saya pernah mendengar bahwa umat Buddha menyembah berhala.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya suatu kesalahpahaman. Definisi �berhala� adalah patung atau gambar yang dipuja sebagai Tuhan (dengan cara pemujaan pertama pada pertanyaan sebelumnya). Seperti kita ketahui, umat Buddha tidak menganggap Sang Buddha sebagai Tuhan, bagaimana mungkin seseorang bisa percaya bahwa sepotong kayu atau logam adalah Tuhan? Semua agama menggunakan simbol-simbol untuk melambangkan gagasan tertentu. Dalam ajaran Tao, simbol yin-yang dipakai untuk melambangkan keharmonisan antara hal-hal yang berlawanan sifat. Dalam ajaran Sikh, pedang melambangkan perjuangan batiniah. Dalam agama Kristen, salib merupakan lambang pengorbanan Kristus. Sedangkan dalam agama Buddha, patung Buddha digunakan untuk melambangkan  kesempurnaan manusia. Patung Buddha juga mengingatkan kita pada dimensi manusia dalam ajaran Buddha, bahwasanya ajaran Buddha bersifat humanosentris (berpusat pada manusia), bukannya theosentris (berpusat pada Tuhan), kita hendaknya �melihat ke dalam� untuk mencapai kebijaksanaan dan kesempurnaan. Jadi mengatakan bahwa umat Buddha menyembah berhala adalah tidak benar.

 

9. Mengapa orang membakar uang-uangan dari kertas dan melakukan hal-hal aneh lainnya di vihara?

Segala sesuatu tampak aneh apabila kita tidak mengerti. Daripada bertanya-tanya kita seharusnya berusaha mencari tahu apa maksud perbuatan itu. Memang benar kadang-kadang praktek tertentu yang dijalankan umat Buddha berasal dari ketakhyulan, hal ini timbul karena kesalahpahaman terhadap ajaran murni Sang Buddha. Penyimpangan semacam itu tidak hanya ditemukan dalam agama Buddha, namun juga terjadi dalam semua agama dari waktu ke waktu. Sang Buddha sendiri telah bersabda dengan jelas dan terperinci, dan apabila ada orang yang tidak bisa memahaminya, Sang Buddha tidak bisa dipersalahkan. Sang Buddha bersabda: �Jikalau seseorang yang menderita karena suatu penyakit tidak mau mencari pengobatan, padahal ketika itu ada tabib di dekatnya, hal ini bukanlah kesalahan tabib tersebut. Demikian pula halnya, jikalau seseorang yang tertindas dan tersiksa karena penyakit kekotoran batin, namun tidak mau mencari pertolongan kepada Sang Buddha, hal ini bukanlah kesalahan Sang Buddha�  (JN28-9). Tidak selayaknya suatu agama dihakimi berdasarkan perilaku umatnya yang tidak menjalankan ajaran secara tepat. Bila Anda ingin mengetahui ajaran Buddha yang sebenarnya, belajarlah dari sumber yang bisa dipercaya, atau bertanyalah kepada orang yang benar-benar memahaminya.

 

10. Kalau agama Buddha itu benar-benar baik, mengapa banyak negara Buddhis yang miskin?

Bila yang Anda maksud dengan �miskin� adalah �kemiskinan secara ekonomi�, memang benar beberapa negara Buddhis miskin. Tetapi kalau yang dimaksud �kemiskinan kualitas kehidupan�, bisa dikatakan negara Buddhis tersebut benar-benar �kaya�. Amerika misalnya, negara adikuasa dan kaya secara ekonomi, namun menjadi salah satu negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi di dunia. Jutaan orang tua ditelantarkan oleh anak-anaknya dan mati kesepian di rumah-rumah jompo; kekerasan merajalela dan korbannya sebagian besar adalah anak-anak; satu dari tiga perkawinan berakhir dengan perceraian; pornografi mudah dijumpai dimana-mana. Kaya dalam hal materi, namun bisa jadi miskin dalam kualitas hidup. Sekarang, lihatlah Myanmar, negera yang terbelakang secara ekonomi. Orang tua begitu dihargai oleh anak-anaknya; angka kejahatan relatif rendah; perceraian dan bunuh diri hampir tidak pernah terdengar; kekerasan, penelantaran anak-anak, pornografi, sulit ditemukan. Terbelakang secara ekonomi, namun kualitas kehidupannya jauh lebih tinggi dibanding negara seperti Amerika. Tetapi kalau Anda masih menghakimi negara Buddhis semata-mata dari segi ekonomi, perlu Anda ketahui bahwa salah satu negara paling dinamis dalam bidang ekonomi adalah Jepang, di mana 93% penduduknya mengaku beragama Buddha.

 

11. Mengapa jarang sekali terdengar aksi-aksi sosial yang dilakukan umat Buddha?

Mungkin karena umat Buddha tidak merasa perlu untuk membesar-besarkan perbuatan baik yang mereka lakukan. Beberapa tahun yang lalu pemimpin umat Buddha Jepang Nikkho Nirwanto, menerima Templeton Prize atas usahanya dalam memprakarsai keharmonisan antar agama. Baru-baru ini seorang biarawan di Thailand menerima penghargaan Magsaysay Prize untuk perjuangannya dalam menolong para pecandu obat bius. Pada tahun 1987, biarawan Thailand lainnya, Y.Y. Kantayapiwat dianugerahi Norwegian Children�s Peace Prize atas jasanya selama bertahun-tahun dalm mengentaskan anak terlantar di pedalaman. Persatuan Umat Buddha berkebangsaan Barat menggerakkan aksi sosial besar-besaran bagi kaum miskin di India. Mereka mendirikan sekolah, yayasan anak yatim piatu, penyaluran dana, dan industri skala kecil untuk swadaya. Masih ada lagi nama-nama besar seperti Y.A. Dalai Lama dan Aung San Su Kyi, yang memenangkan Nobel Perdamaian Dunia. Itu hanya sekedar contoh. Seperti halnya pemeluk agama lain, umat Buddha memandang �menolong orang lain� sebagai suatu perwujudan praktek keagamaan. Mereka percaya bahwa perbuatan tersebut tidak perlu dibesar-besarkan dan tidak perlu mempromosikan diri. Oleh karenanya, Anda tidak sering mendengar kegiatan-kegiatan sosial mereka.

 

12. Mengapa ada begitu banyak aliran dalam agama Buddha?

Ada banyak jenis gula: gula aren, gula tepung, gula pasir, gula batu, sirup gula, dan sebagainya, tetapi semuanya adalah gula, semuanya manis. Hanya masing-masing dibuat dalam bentuk yang berbeda, supaya dapat diolah dalam cara yang berbeda. Sama halnya pada agama Buddha. Ada mahzab Buddha Theravada, Buddha Zen, Buddha Tanah Suci, Buddha Yogacara, Buddha Vajrayana, dan sebagainya. Namun semuanya adalah agama Buddha, semuanya memiliki rasa yang sama � menjunjung tinggi kebebasan. Agama Buddha telah berkembang menjadi berbagai bentuk, diselaraskan dengan budaya di tiap daerah pertumbuhannya. Agama Buddha telah berkembang menajdi berbagai bentuk, diselaraskan dengan budaya di tiap daerah pertumbuhannya. Agama Buddha telah mengalami pengkajian ulang selama berabad-abad sehingga tetap sesuai dengan perkembangan zaman. Seolah-olah berbagai aliran dalam agama Buddha tampak berbeda-beda, namun pada intinya tetap mengajarkan Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Mulia Beruas Delapan. Semua agama besar di dunia, termasuk agama Buddha, telah terpecah menjadi berbagai aliran. Tetapi antar aliran dalam agama Buddha tidak pernah saling berperang, mereka tidak menunjukkan sikap saling bermusuhan, bahkan saling mengunjungi dan beribadah bersama. Sikap toleransi dan pengertian seperti ini jarang dijumpai di tempat lain.

 

13. Anda benar-benar bersemangat membicarakan agama Buddha. Saya kira Anda merasa bahwa agama Anda yang paling benar dan agama lain adalah salah.

Seorang umat Buddha yang memahami ajaran Sang Buddha tidak pernah menilai agama lain adalah salah. Seseorang yang bertujuan murni mempelajari agama lain dengan wawasan yang luas pasti akan sependapat. Hal pertama yang hendaknya diperhatikan dalam mempelajari agama lain adalah sampai sejauh mana agama tersebut memiliki persamaan. Semua agama mengakui bahwa keadaan manusia saat ini tidaklah memuaskan. Semua sependapat bahwa dibutuhkan suatu perubahan sikap dan perilaku untuk memperbaiki keadaan ini. Semua agama mengajarkan suatu norma atau nilai cinta kasih, kebajikan, kesabaran, kemurahhatian, dan tanggung jawab sosial. Dan semuanya menerima keberadaan �sesuatu yang bersifat mutlak�. Mereka memakai bahasa yang berbeda-beda, istilah yang berbeda, dan simbol yang berbeda untuk menggambarkan dan menjelaskan hal ini. Hanya orang yang berpandangan picik terhadap agama sajalah yang menilai pandangan hidup orang lain dari sudut pandangnya sendiri. Dari sinilah timbul sikap intoleransi, kesombongan iman, dan merasa paling benar sendiri.

 

Sebagai illustrasi, ada 4 (empat) orang sahabat Inggris, Perancis, China, dan Indonesia. Mereka sedang membicarakan sebuah cangkir. Si orang Inggris berkata, benda ini adalah �cup�, si Perancis menimpali �Bukan, ini adalah tasse�, si China tak mau kalah �Kalian salah, ini adalah pei�, si orang Indonesia menertawakan ketiganya, �Sungguh tolol kalian, ini adalah cawan!� Si Inggris mengambil kamus dan menunjukkannya pada yang lain, �Aku dapat membuktikan bahwa benda ini adalah �cup�. Kamusku mengatakannya demikian�.  �Ooh, kamusmu pasti salah�, jawab si Perancis, �Kamusku jelas-jelas mengatakan, ini adalah tasse�. Si China mencibir, �Kamusku ribuan tahun lebih tua dari pada milik kalian, jadi kamusku pasti lebih tepat. Di samping itu lebih banyak orang yang berbahasa China dibanding bahasa lain. Jadi benda ini lebih tepat disebut �pei�.� Sementara mereka saling berselisih dan berdebat, seorang umat Buddha datang, menuang air ke dalam cawan tersebut, dan minum darinya. Kemudian dia  berkata, �Apapun yang kalian namakan, �cup�, �tasse�, �pei�, atau �cawan�, benda ini dibuat untuk digunakan. Berhentilah berdebat, pakailah benda ini, jangan berselisih terus, hilangkan dahagamu menggunakan benda ini!�  Inilah sikap umat Buddha terhadap agama lain.

 

14. Apakah agama Buddha adalah suatu ilmu?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat definisi �ilmu�. Ilmu adalah pengetahuan yang diambil dari suatu sistem yang timbul dari proses melihat dan menguji fakta-fakta, dan menyatakan hukum alam pada umumnya, selaras dengan bukti-bukti pengetahuan yang lain, dan segala sesuatu yang dapat diplajari dengan tepat. Ada beberapa segi dalam agama Buddha yang tidak sesuai dengan definisi tersebut, namun inti ajaran Buddha, Empat Kesunyataan Mulia, sangatlah selaras dengan ilmu pengetahuan. Penderitaan, Kesunyataan Mulia Pertama, adalah suatu pengalaman yang dapat dipelajari, dialami, dan dinilai. Kesunyataan Mulia Kedua mengatakan bahwa penderitaan mempunyai penyebab, nafsu, yang juga dapat dipelajari, dialami dan dinilai. Penderitaan tidak perlu lagi dijelaskan dengan istilah-istilah metafisik. Berakhirnya penderitaan, sesuai dengan Kesunyataan Mulia Ketiga, tidak dengan menggantungkan diri pada suatu makhluk adikodrati, tidak dengan iman atau doa-doa, tetapi sederhana saja: dengan menghilangkan penyebabnya! Hal ini sudah jelas kebenarannya. Kesunyataan Mulia Keempat, jalan untuk mengakhiri penderitaan, sekali lagi, tidak berhubungan dengan hal-hal mistik, tetapi tergantung dari perilaku tertentu. Jalan ini bersifat terbuka untuk diuji dan dibuktikan. Seperti halnya ilmu pengetahuan, Agama Buddha tidak menggunakan gagasan makhluk adikodrati, dan menjelaskan asal-usul dan mekanisme kerja alam semesta dengan pendekatan hukum-hukum alam. Semuanya ini bersemangat ilmiah. Sang Buddha selalu menasihatkan, hendaknya kita tidak mempercayai sesuatu secara membuta, namum harus menanyakannya, mengujinya, menyelidikinya, dan mengandalkan pengalaman kita sendiri, sesuai dengan lingkup berpikir ilmiah. Beliau mengatakan:

�Jangan percaya begitu saja pada wahyu atau tradisi,

jangan percaya begitu saja pada desas-desus atau naskah-naskah suci,

jangan percaya begitu saja pada kabar angin atau logika belaka,

jangan percaya begitu saja pada prasangka atau kemampuan seseorang,

dan jangan menerima begitu saja karena �Dia guru kami�.

Tetapi bila kamu sendiri mengetahui bahwa suatu hal adalah baik, tidak tercela, dipuji oleh para bijaksanawan, apabila dipraktekkan dan dijalani membawa pada kebahagiaan, maka ikutilah hal itu.�  (AI 188)

 

Jadi dapat dikatakan bahwa walaupun tidak sepenuhnya bersifat ilmiah, ajaran Buddha jelas memiliki dasar ilmiah yang kuat, dan jauh lebih ilmiah dibandingkan agama lain. Tidak berlebihan jika Albert Einstein, ilmuwan terbesar abad kedua puluh, mengatakan:

�Agama masa depan merupakan agama alam semesta. Agama yang melampaui Tuhan sebagai pribadi serta menghindarkan dogma dan theology. Mencakup hal-hal alamiah dan spiritual, berdasarkan pemahaman yang muncul dari pengalaman segala sesuatu, baik alamiah maupun spiritual, menjadi kesatuan yang penuh makna. Ajaran Buddha menjawab gambaran ini. Seandainya ada agama yang mampu memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan modern, agama itu adalah agama Buddha.�

 

 

Dikutip dari buku �Good Questions Good Answer� oleh Ven. S. Dhammika

Dapat juga dibaca di buku �Anda Bertanya Kami Menjawab� Ehipassiko Collection; Yayasan Penerbit Karaniya


Do you Yahoo!?
Better first dates. More second dates. Yahoo! Personals

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
Children International
Would you give Hope to a Child in need?
 
Click Here to meet a Girl
And Give Her Hope
Click Here to meet a Boy
And Change His Life
Learn More


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke